Bertemu Fiersa Besari di Jakarta

January 12, 2018


23 Desember 2017.
Menyukai seseorang melalui tulisannya saja tentu bukan suatu hal yang aneh, tetapi rasa penasaran tentu membuat siapapun ingin bertemu langsung. Fiersa Besari. Sosok yang aku kenal dari sebuah quotes yang banyak bertebaran di media sosial. Sudah pernah aku ceritakan, kan, kalau awalnya aku mengira Fiersa Besari ini adalah seorang perempuan? Nyatanya, ketika melihat wujudnya dalam gambar di instagram untuk pertama kalinya, aku baru sadar kalau orang ini benar-benar manis.

Bukan perkara mudah ketika seorang penggemar ingin bertemu idolanya. Aku berada di saat-saat yang salah—ketika Bung Fiersa sudah dikenal banyak orang dan punya segudang penggemar di luaran sana. Akhirnya aku cuma bisa lama-lama menatap banyak foto dan captionnya yang super quotable itu.

Berawal dari buku Konspirasi Alam Semesta, aku mulai mengikuti aktivitas Bung Fiersa di instagram. Sampai hari ini aku sudah melengkapi ketiga bukunya dan mencipta segala imajinasi apabila bisa mendaki gunung bersama. Benar-benar sebuah khayalan yang tingkat tinggi.

Belum genap rasa penasaran pada wujud asli Bung Fiersa, aku sudah dibuat kembali jatuh cinta dengan suaranya. Bung Fiersa punya suara unik bagiku. Ketika dia bicara, logat sundanya sangat kental, bikin aku betah lama-lama dengerin dia ngomong. Tapi ketika dia bernyanyi, suaranya sungguh beda, krenyes-krenyes kayak es batu yang renyah tapi nggak bikin ngilu. Lagu pertama yang aku dengar berjudul Waktu yang Salah, tapi sampai hari ini aku menyukai hampir semua lagu miliknya terutama di album Konspirasi Alam Semesta.

Suatu hari, ketika sedang scroll timeline instagram, aku melihat flyer tentang talkshow "Suar Bersua" yang diadakan di lima kota, Jakarta salah satunya. Acara ini khusus diadakan sebagai bentuk bedah bukunya yang terbaru, yaitu Catatan Juang. Sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Aku tersenyum senang, kemudian mencari kawan untuk datang. Kalaupun tidak ada, aku yakin bisa pergi ke sana sendirian.

And there I was. Gramedia Matraman Jakarta. Menunggu sosok penulis favoritku hadir di deoan mata.

Berangkat pukul 11 siang di hari Sabtu ternyata tidak membuat jalanan Jakarta lengang. Kemacetan masih menjadi hambatan utama untuk bisa sampai dengan cepat. Setelah 3 jam duduk—juga berdiri—di dalam transjakarta, aku, adikku, dan kedua temanku sampai di lokasi acara. Tepat pukul 2 siang, satu jam sebelum acara dinulai.

Naik ke lantai dua—bahkan sampai lantai tiga—aku belum juga menemukan venue acara tersebut. Bertanya dua kali pada petugas Gramedia, barulah aku menemukannya. Memasuki ruangan, aku sempat takjub. Sekitar 10 baris kursi sudah hampir terisi penuh, hanya sisa beberapa kursi yang kosong.

"Yah, penuh nih. Eh tapi di depan ada yang lesehan. Mau lesehan aja?" tanyaku meminta persetujuan teman-temanku.

"Ayo aja," katanya.

Akhirnya kami berempat duduk di barisan kedua di depan panggung kecil. Tempat yang strategis. Sungguh. Dari posisi ini, aku bisa melihat dengan jelas sosok Fiersa Besari yang selama ini hanya bisa aku lihat dari instagram. Senangnya!

Bung Fiersa orang yang lucu dan penuh humor. Melihat dia ada di depan mata membuatku langsung speechless. Selama acara berlangsung, banyak dari mereka yang datang sangat histeris, sedang aku hanya bisa takjub mendengarkan dengan baik. Aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertemu ini dengan duduk tapi histeris. Aku mau puas-puasin lihat penulis favoritku. Ini nyata kan? Aku ketemu Bung Fiersa beneran nih? 

Memasuki sesi tanda tangan buku dan foto bersama, aku semakin speechless. Aku bakal foto bareng Bung Fiersa! Antri ramai-ramai dengan para penggemar lainnya, lagu-lagu Bung Fiersa diputar di ruangan. Akhirnya kami semua bernyanyi bersama sembari menunggu.

Sampai akhirnya aku sampai di hadapan Bung Fiersa yang hanya berjarak kurang dari 1 meter, aku nggak bisa lagi menahan degup jantung. Rasanya ketemu idola tuh kayak gini banget ya? Dulu pas ketemu Bondan Prakoso juga sama deg-degannya. Aku menyerahkan tiga buku yang aku punya untuk ditanda-tangani olehnya.



"Halo," sapanya ramah.

"Hai," balasku grogi. Ketika ia sampai di buku Catatan Juang, aku bilang, "Buku yang itu udah ditandatanganin."

"Oke, buat siapa?"

"Tiwi."

"Hm?" gumamnya sambil mendekatkan telinganya ke arahku. Sedekat ini dan segugup ini.

"Tiwi," ulangku. Ia menulis namaku di buku itu dan bersiap foto bersama.

"Oke, Tiwi. Semoga sukses ya. Dan jangan lupa... pulang. Hehehe," katanya sembari tertawa dan menunjukkan gigi gingsulnya yang manis.

"Iya, terima kasih. Siap!" kataku sembari bersalaman dengannya.

Rasanya... bahagia. Sangat. Semoga suatu hari nanti bisa bertemu di lain kesempatan.


Salam,


Tiwi.

You Might Also Like

5 comments

  1. Ciye yg habis ketemu sama bung fiersaaa, uwww

    ReplyDelete
  2. Baru tahu malah penulis yang satu ini karena emang jarang buku, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya dulu dia musisi, kak. Baru ngeluarin buku tahun 2016 hehe

      Delete
  3. Senengnya sudah ketemu! :D Aku juga sudah ketemu waktu book talk di Gramedia Sudirman, Jogja. Aku setuju mbak kalau logat Sunda-nya kental banget, pernah lihat pas nge-live instagram, dan beneran!!! Wkwk

    ReplyDelete