Dear, December!


Dear December,

Kali ini sudah jam 1 dini hari. Di hari Senin yang aku nggak akan ngapa-ngapain seharian selain baca ebook dan nonton film dari hardisk. Kali ini sudah hari ke-4 di bulan Desember, bulan terakhir di 2017, yang artinya 27 hari lagi bakalam ganti tahun. Kali ini, aku cuma mau cerita—banyak banget cerita—yang jadi pikiranku selama ini.


Pertama, aku sedang merasa ada di zona paling nyaman dalam hidupku, tetapi sekaligus mengalami kebosanan paling akut sepanjang hidupku juga. Aku sudah berhasil menghilamgkan kesempatan bekerja di sebuah kantor unik yang awalnya kupikir menjadi sebuah jawaban atas doa-doaku selama ini. Tapi ternyata, aku malah merasa ketakutan setiap kali menjalani hari-hari awal aku bekerja. It's okay, aku akan bahas ini di lain waktu.

Zona nyamanku aslinya enak banget. Nggak ngapa-ngapain. Asli. Di rumah cuma ngabisin timbunan buku demi menembus Goodreads Challenge 2017 sebanyak 50 buku yang aku targetkan dalam setahun. Sampai hari ini aku baru berhasil baca 36 buku. Ya, masih jauh dari target melihat sisa Desember tinggal beberapa puluh  hari lagi.

Kedua, aku mau bicara soal... lelaki itu. Ralat, dua lelaki itu. Aku nggak tau kenapa pada akhirnya aku merasa tidak berada di posisi menguntungkan dalam hal romantisme seperti ini. Apa karena aku terlalu egois dalam membina hubungan? Atau karena aku memang kurang pengalaman saja? Tapi jujur saja, akhir-akhir ini aku nggak lagi kepingin memikirkan siapa-siapa.

Orang-orang di luar sana mungkin tau aku sedang sama siapa, suka sama siapa, tapi padahal aku sendiri malah jadi kebingungan setiap kali berpikir, "Siapa sih yang bakalan jadi jodohku?". Belum lagi kondisi rumah yang dikit-dikit nyinggung soal jodoh. Rasanya bikin pengen kabur aja. Apa usia 22 ini udah bisa dibilang tua kalau belum nemu pasangan hidup? Nggak, kan? Aku selalu merasa masih muda melihat usiaku sendiri, tapi selalu merasa bersalah kalau disinggung soal pasangan. Padahal bagiku, hidup nggak melulu soal pasangan.

Ketiga, aku kangen Purwokerto. Banyak yang bilang kota rantau itu bakal lebih ngangenin daripada kota asal. Sekarang aku merasakan. Banyak banget yang belum aku lakukan di Purwokerto. Banyak tempat wisata yang belum aku jelajahi, banyak kuliner yang belum aku coba, dan... banyak orang yang saat ini pengen banget aku temui. Banyak banget hal-hal yang bikin aku ingin balik lagi ke sana. Aku nggak kangen kampus, tapi aku kangen sekre. Kangen temen-temen mapala yang setiap waktu bisa bikin aku merasa ada di rumah. Kangen ngobrol di angkringan, kangen rapat sampai subuh.
---

Akhir-akhir ini juga aku sempat mengalami yang namanya muak banget lihat sosial media. Pengen kabur, nggak main sosmed dulu, tapi kok merasa aneh. Apa ini yang namanya kecanduan sosmed? Sebenernya pikiranku lebih ke menyayangkan kalau nanti blogku nggak keurus, padahal aku tetap bisa update blog tanpa harus share ke medsos, kan? Cuma ya risikonya pageview jadi makin turun dan nggak bisa ikutan even-event kece lagi. Kan semasa nganggur hidupku dari ngeblog aja.

Tapi aku sangat ingin sekali-kali menghapus semua aplikasi media sosial. Supaya aku bisa tenang menjalani hidup.

Jadi, sebenarnya aku mau apa?

Aku mau menghilang, tapi masih ada beban tanggungan yang harus diselesaikan. Mungkin nanti akan menghilang sementara. Hehehe.

Cileungsi, sedang nggak bisa tidur (lagi).
4 Desember 2017. 01:24.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)