[Book Review] Mockingjay by Suzanne Collins


Judul: Mockingjay (The Hunger Games #3) | Pengarang: Suzanne Collins | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: 2012 | Jumlah Halaman: 432 hlm. | ISBN: 9789792278439 | Harga: Rp 68.000,- 


Akhirnya selesai juga membaca trilogy Hunger Games ini. Rasanya seperti terbebas dari kekangan rasa penasaran. Walaupun saya menonton semua filmnya terlebih dahulu sebelum membaca bukunya, tapi saya tetap meyakini bahwa ada banyak yang tidak saya pahami ketika menonton filmnya. Dan ternyata jawabannya ada pada semua bukunya.

Setelah Katniss selamat dari arena Quarter Quell, hidupnya tak lagi sama. Ia diselamatkan oleh pemimpin distrik 13 yang berusaha menjadi pemberontak dan menjatuhkan Capitol. Semula distrik 13 yang sudah dianggap mati oleh seluruh penduduk Panem, ternyata mampu membangkitkan diri dan berjuang sendirian dengan mengumpulkan para pemberontak. Aset terbesar distrik 13 ini merupakan asset yang sungguh diandalkan oleh mereka untuk menghancurkan Capitol.

Katniss, sebagai wajah pemberontakan sejak awal mengikuti Hunger Games diminta untuk menjadi Mockingjay—simbol pemberontakan sesungguhnya—oleh pemimpin distrik 13, Presiden Coin. Setelah pertempuran di arena, Katnis merasa dirinya kehilangan kendali. Belum lagi ketika ia tahu bahwa Peeta ditahan di Capitol. Ia seperti terikat perjanjian bahwa bagaimanapun ia harus melindungi Peeta agar tetap hidup.

DI buku ketiga ini rasanya seperti menonton tayangan televisi. Ketika akhirnya Katniss menyetujui dirinya sebagai Mockingjay, ia harus membuat propo—media provokasi—untuk ditayangkan di televisi seantero Panem. Agar pemberontakan yang mereka lakukan mendapat dukungan dari warga distrik yang lain. Hal ini dilakukan agar warga yang merasa Capitol menindas mereka dapat bergabung dengan tim pemberontak dan ikut menjatuhkan Capitol.

Selain pertempuran antara pemberontak dan Capitol, banyak juga konflik batin yang disuguhkan, Mulai dari hubungan Katniss dengan Gale, dengan Haymitch, mentornya, juga dengan pra pemenang Hunger Games yang bergabung dengan tim pemberontak di distrik 13. Semakin lama keinginan Katniss untuk membunuh presiden Snow semakin tinggi. Ia benci bahwa presiden itu membuat warga distrik menjadi tidak berdaya.

Namun kepercayaannya pada Presiden Coin juga tidak sepenuh itu. Ia masih ragu harus berpihak pada siapa. Capitol dijatuhkan, pemberontak mendapatkan kemenangan. Panem kembali damai, meski dengan kerusakan dimana-mana.

Endingnya? Bahagia.

RATE: 3/5

Cileungsi, yang selalu hujan.
14 November 2017. 20:04

Comments

  1. Wa aku juga pernah nonton film ini, bagus banget.. Tapi nggak baca novelnya, ckck

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)