Menikah dan Sebuah Impian Sederhana


"Gue pengen pas wisuda nanti status gue udah jadi istri," katanya dalam sebuah pesan singkat di suatu malam.

Saya menatap layar gawai dengan pertanyaan yang mungkin banyak ditanyakan orang, "Apa kamu yakin?", tapi pada akhirnya pikiran saya juga menyuarakan kalimat seperti, "Sungguh sebuah impian sederhana yang tidak sederhana sama sekali." Ya, menjadi istri saat wisuda itu cita-cita yang sederhana, meski menjadi istri pun bukan sebuah proses yang sederhana untuk hidup seorang perempuan.
---

Saya mendatangi rumahnya sehari sebelum pernikahannya berlangsung. Dia teman saya; teman terbaik yang saya kenal; teman yang kemudian menjadi sahabat sejak kelas dua SMP; teman yang membantu saya dalam menyelesaikan banyak permasalahan di sekolah; teman yang pernah saya hindari karena suatu masalah; teman yang selalu menjadi dirinya sendiri tanpa intervensi; teman yang saat ini selalu saya cari ketika saya sedang butuh didengarkan. Dia sahabat saya, seorang sarjana pendidikan, seorang guru sekaligus seorang istri.

Saya mendatangi rumahnya ketika tenda hajatan sudah mulai dibangun di samping rumahnya. Panggung pelaminan sudah berdiri megah dan ia berdiri menyambut saya dengan sumringah. Hari itu, saya tahu, itu terakhir kalinya saya menghabiskan waktu bersamanya dengan status lajang. Besok hari, dia sudah jadi istri orang, istri dari lelaki yang menjadi kekasihnya selama dua tahun terakhir. Kedatangan saya hari itu tentu ada maksudnya. Ia meminta bantuan saya untuk menemaninya sebelum benar-benar sah menjadi istri seseorang.



Menikah...

Banyak hal yang saya pikirkan mengenai pernikahan. Terlalu banyak hingga saya tak lagi mampu menyebutkannya satu persatu. Saya pernah punya keinginan menikah dengan konsep wedding garden. Saya juga ingin menikah di gedung sewaan. Saya ingin menikah dengan konsep modern. Saya ingin begini dan begitu, tetapi kemudian saya disadarkan oleh kenyataan di depan saya.

"Semua yang ngatur ini ortu, Wi. Gue cuma terima beres. Karena gue mikirnya yang penting sah dulu aja," kata sahabat saya ketika ditanya soal persiapan pernikahan.

Saya kembali ke kenyataan. Pernikahan bukan soal kemewahan, bukan juga soal bagaimana resepsi pernikahanmu berlangsung. Pernikahan itu sesederhana menyenpurnakan ibadah bahkan tanpa resepsi sekalipun. Esensi dari menikah itu kan menyatukan keluarga, tetapi beberapa masyarakat memandang pernikahan tanpa resepsi itu adalah sebuah kejanggalan.

Pernikahan itu kan hari bahagia, jadi harus dibagikan kepada orang-orang. Begitu yang saya pernah dengar dari orang-orang. Saya tidak tahu apakah pernikahan itu harus dirayakan atau tidak. Mungkin tdak ada salahnya membagikan kabar bahagia kepada orang-orang melalui resepsi, tapi... apa iya semua orang ikut bahagia? Apa iya semua orang wajib tahu kalau sepasang kekasih sudah menikah? Apa iya konsep menikah itu harus selalu sepaket dengan resepsi? Padahal tahu sendiri biaya resepsi itu lebih mahal dibanding biaya nikahnya.

Saya jadi berpikir kalau saya akan pergi bulan madu yang jauh dan mahal saja alih-alih uangnya terpakai untuk resepsi yang mewah. Namun, lagi-lagi saya dihadapkan pada kenyataan: saya anak perempuan pertama; orangtua ingin ada resepsi pernikahan. Saya tidak lagi bisa membantah.

Kembali pada kisah pernikahan sahabat saya. Sejauh yang kami pernah bicarakan, sahabat saya selalu punya mimpi untuk menikah di sebuah gedung, namun kemarin ia mengadakan resepsi dengan sederhana di rumahnya. Tak apa, katanya. Dia berusaha mengerti keadaan orangtuanya yang sudah berusaha mengadakan pesta untuk pernikahan anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Dia sudah amat bersyukur tidak perlu repot mengurus banyak hal soal pernikahan. Hanya tinggal duduk manis dan semua beres.

Keinginan-keinginan mengenai pernikahan tentunya sungguh menjadi sebuah cita-cita yang seharusnya bisa terwujud. Mengingat pernikahan itu hanya terjadi satu kali seumur hidup (insya Allah), namun pada akhirnya kembali lagi ke hakikat asli pernikahan, kan? Penyempurna ibadah. Diluar daripada itu, segala macam hal seperti resepsi, adat, dan lain-lainnya cuma jadi pelengkap. Cuma jadi penyeimbang eksistensi di masyarakat supaya kita paham bahwa kita hidup berdampingan di masyarakat.
---


Lalu, apakah menikah itu membahagiakan?

"Gue bahagia. Bersama orang yang gue pilih. Bersama orang yang juga memilih gue. Bersama orang yang mau nungguin kita dan susah barwng kita," katanya ketika saya tanya perihal kehidupannya setelah menikah. "Sama dia (suaminya—red) gue merasa jadi diri sendiri. Nggak perlu jaim dan sok perfect di depan dia."

Konsep bahagia bagi setiap orang tentu berbeda. Jika menikah bisa membuka kotak kebahagiaan baru bagi seseorang, menikah juga bisa menutup pintu kebahagiaan bagi yang lain. Kenapa? Saya sedang memikirkan anak-anak di bawah umur diluar sana yang harus dinikahkan karena dianggap menjadi beban keluarga. Di saat orang-orang menikah dengan sumringah dan bahagia karena telah melewati fase baru di kehidupan, sisi lainnya ternyata mereka memandang pernikahan sebagai sebuah petaka. Masalah baru di kehidupannya.

Tetapi...

"Kalau kata guru ngaji gue, nikah itu membuka masalah baru. Sebenernya gue gak setuju banget sih. Cuma ini jadi gambaran beliau aja kalau nikah itu gak kayak ftv atau drakor yang manis-manis aja," katanya lagi.

Nah! Apa yang membuatmu berpikir bahwa menikah itu nggak punya sisi lain? Semua orang yang akan menikah pasti sudah tahu kalau menikah itu menyatukan dua kepala yang berbeda keinginan untuk satu tujuan. Bisa jadi di tengah jalan ada keinginan-keinginan yang tidak disetujui pasangan, kan? Ini akan jadi masalah kalau setiap pasangan nggak punya cara penyelesaian yang baik.



Usia sahabat saya masih 22 tahun, usia yang cukup untuk menikah meski masih terbilang muda. Dan yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dia memilih menikah muda?

"Kalau nikah di usia muda, buat gue bukan karena takut ketinggalan stok jodoh. Tapi gue pengen berbagi cinta dan impian gue sama seseorang yg gue pilih."

Tuh, harus punya tujuan lain selain takut kehabisan stok jodoh. Hehehe.

"Soal dia yg kenapa gue yakinin banget, karena dia ada di jawaban istikharah gue. Karena muka dia muncul  pas mimpi ketika abis gue shalat istikharah," katanya lagi.
---

Saya belum menikah, jadi saya nggak tau gimana rasanya. Hanya saja, membahas pernikahan sahabat saya telah memberikan banyak gambaran kalau hidup berdua dengan seseorang yang kita pilih itu nggak boleh egois. Hidup berdua dengan seseorang yang kita pilih itu harus bersedia membagi apapun; waktu, mimpi, dan kehidupan dengan pasangan. Hidup berdua dengan seseorang yang kita pilih itu harus sadar posisi. Begitu kira-kira yang bisa saya simpulkan.

Jadi, menikah itu sebuah pilihan hidup. Bahagia atau tidak juga pilihan hidup.

Untuk Eka Nurwati dan Anton Julian, selamat berbahagia hingga ajal memisahkan, ya.


Salam,

Afrianti Eka Pratiwi.


Cileungsi yang lagi cerah.
16 November 2017. 12:06.

Comments

  1. Aku mau istikharah ah, siapa tahu jadi ada muka jodoh ku yang seliweran di mimpi, ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, boleh tuh. Emang paling enak minta langsung sama Allah ya :)

      Delete
  2. Menikah itu bener bener pilihan yang konsekuensinya gede banget sih. Kebanyakan teman yang udah menikah itu, pola pikir dan sudut pandangnya mendadak berubah jadi lebih dewasa, tenang, trus apa apa jadinya yang dipikirin bukan cuma dirinya sendiri, tapi juga keluarga kecil dan dua keluarga besar.

    Semoga kedua temanmu jadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah ya.

    ReplyDelete
  3. Menurut saya, peka dan sabar adalah dua modal utama yang sebaiknya ada saat akhirnya memutuskan menikah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)