[Book Review] Garis Waktu by Fiersa Besari



Judul: Garis Waktu | Pengarang: Fiersa Besari | Penerbit: MediaKita | Tahun Terbit: September 2016 | Jumlah Halaman: 216 hlm. | ISBN: 9797945359 | Harga: Rp 40.600,-

"Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam Semesta bekerja seperti itu." (Hlm. 107)

Ini buku Fiersa Besari lainnya yang akhirnya saya baca.  Garis Waktu terbit jauh sebelum Konspirasi Alam Semesta terbit. Namun, pada waktu itu saya lebih tertarik membeli buku Konspirasi Alam Semesta terlebih dulu karena kepincut sama judulnya yang estetik dan nyastra abis. Entah kenapa akhir-akhir ini saya suka sekali melihat buku dari judulnya.

Sejak jatuh cinta pada buku Konspirasi Alam Semesta, saya juga jadi jatuh hati pada penulisnya. Bagi saya dia salah satu penulis, penyair, dan penyanyi yang punya kelas tersendiri di dunia seni. Kalimat-kalimatnya di media sosial selalu punya sense of sastra yang apik yang bikin saya selalu ingin meretweet ataupun merepost-nya. Baru-baru ini saya tahu kalau dia ternyata memang lulusan sastra.

Garis Waktu punya sampul berwarna putih yang sederhana. Deretan gambar di sampulnya punya kaitan dengan cerita di dalamnya. Ada banyak cerita yang Bung Fiersa suguhkan di dalam buku ini dan tentunya dilengkapi dengan gambar. Selain sampul, yang saya suka dari buku ini adalah pembatas bukunya yang punya ukuran sebesar kartu pos. Kenapa? Nggak tau kenapa, ya saya suka aja.

Menggenapi rasa penasaran, setelah membaca prolognya, ternyata buku ini bisa dibilang sebagai semacam memoar cinta dari si penulis. Ia bilang kalau tulisan di dalam buku ini dikumpulkan dari catatan-catatan yang berserakan di media sosial pribadinya. Setelah tambal sana sini—menambahkan ini itu—akhirnya buku Garis Waktu bisa diterbitkan dengan sebuah kisah utuh soal perjalanan waktu... dan cinta.

"Menaruh hati di atas ketidakpastian sikap sama saja dengan menaruh tangan di atas tangan seseorang yang sama sekali tidak ingin menggenggam." (Hlm. 49).

Bagi sebagian orang, bentuk buku berupa memoar semacam ini bisa jadi terasa membosankan. Terlebih di dalamnya hanya ada tokoh "aku" dan "kamu" tanpa dilengkapi dengan nama. Seolah-olah memang cerita ini merujuk pada si penulis dan si perempuannya. Atau lain hal, cerita ini bisa jadi dirasakan oleh siapapun yang menjadi "aku" di luar sana. Baiknya, buku ini tidak perlu repot memikirkan nama tokoh yang harus mempunyai karakter. Cukup dari tokoh "aku" dan "kamu" saja karakter bisa tergambar dengan sendirinya.

Bagi saya, buku Garis Waktu terasa menyenangkan. Membaca tulisan Bung Fiersa sudah seperti mendengarnya bicara. Saya jadi ingat kata-kata Mbak Pungky soal blogging (beda konteks, tapi hampir sama), "Tulislah kayak kita lagi ngomong sama orang. Jadi orang bacanya pun kayak lagi dengerin kita ngomong". Dan itu berlaku buat tulisan Bung Fiersa di buku ini. Setiap kali membaca satu cerita, di beberapa paragraf saya seperti merasa dia sedang berbicara pada saya.

"Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita." (Hlm. 32).

Bung Fiersa selalu menggunakan bahasa sederhana. Sesekali menggunakan majas yang membuat tulisannya makin berwarna. Nggak heran, ini pelajaran sehari-hari yang dia dapat di jurusan sastra, mungkin. Tulisannya rapi, dalam artian logika kalimatnya teratur, sehingga apa-apa yang saya baca mudah sekali dimengerti tanpa harus mengerutkan dahi terlebih dahulu. Penggunaan majasnya pun cukup sederhana.

Lalu, apa lagi, ya?

Oh, ya, meski di awal Bung Fiersa bilang kalau tulisan ini adalah karyanya yang tersebar di dalam media sosialnya, saya masih belum menyakini apakah ini fiksi atau bukan. Atau mungkin... ini adalah kehidupannya yang difiksikan? Bisa jadi.

Sejauh ini, saya teramat jatuh hati pada tulisan Bung Fiersa dimanapun itu. Khusus untuk buku Garis Waktu, saya menyukainya karena ia memberikan gambar di setiap awal mula ceritanya. Hampir mirip dengan buku kumpulan cerita Hidup Berawal Dari Mimpi milik Fahd Djibran dan BondanF2B dulu itu. Yang membedakan hanyalah quotes yang diselipkan di setiap akhir cerita yang bisa dikutip siapapun. Bagi saya, ini cukup menyenangkan karena saya sangat-sangat suka dengan kata-kata Bung Fiersa.

"Karena... aku menyayangimu tanpa 'karena'" (Hlm. 85).

Buku Garis Waktu memang benar-benar perjalanan cinta di sepanjang waktu kehidupan. Mulai dari tahun pertama hingga berakhir di tahun kelima yang penuh dengan lika-liku cinta; pertemuan, jatuh cinta, kesedihan, kegembiraan, kebahagiaan, kepatahhatian, hingga mengikhlaskan seseorang. Sebuah fase umum ketika seseorang mulai membuka diri dan perasaannya untuk orang lain. Garis Waktu memberitahu kita kalau waktu terus berjalan, sesulit apapun atau seindah apapun hidup kita. Benar begitu?

Sekian. Rate: 4/5.


Cileungsi, 17 November 2017.
19:06

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)