Friday, October 13, 2017

Kehidupan Setelah Euforia Wisuda



“Jangan mau lulus cepat, tapi luluslah di waktu yang tepat.” -  Anonim.

Kata-kata itu hampir setiap hari bergema di pikiran saya ketika sedang berusaha menyelesaikan tugas akhir. Meski begitu, yang ada di pikiran saya adalah bagaimana bisa lulus tepat waktu. Iya, tepat waktu bagi saya adalah 4 tahun masa studi alias 8 semester. Saya nggak pernah menargetkan sesuatu yang lebih cepat dari itu. Keinginan saya nggak muluk-muluk, apalagi sampai berharap lulus 3,5 tahun. Itu sih harapan waktu masih duduk di semester satu.


Memasuki semester 7, saya mulai berpikir realistis. Seorang senior pernah bilang ke saya, “Kamu baru bisa menargetkan kapan lulus kalau kamu sudah mulai masuk tahap penelitian.” Pada akhirnya saya menyetujui perkataannya. Target saya soal wisuda berubah total. Pelan-pelan, saya mencatat target seminar proposal sampai dengan ujian akhir skripsi. Hasilnya, hanya meleset beberapa hari dari perkiraan awal saya. Sungguh Allah Maha Baik.

Jangan pernah menargetkan sesuatu tanpa usaha.

Target wisuda saya jelas berubah ketika bulan Februari saya belum juga mengajukan judul skripsi. Maka, target itu saya pindah menjadi bulan September dengan segala perhitungan kalau saya bisa menyelesaikan skripsi dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan. And here I am, menjadi sarjana Ilmu Komunikasi di tanggal 13 September; tepat sebulan yang lalu.

Target ternyata bukan sebuah target, tetapi pada waktu itu saya memang ngebet sekali lulus bulan September. Kenapa? Ada 3 alasan yang mendukung dan mendesak pada waktu itu. Pertama, di bulan September itu masa studi saya tepat 4 tahun. Kedua, rumah kost saya mau dibongkar akhir September, dan percayalah mencari kamar kost baru itu tidak murah. Ketiga, saya tidak ingin lagi membebani orangtua dengan harus membayar uang kuliah untuk semester depan. Jadi, saya memang harus lulus bulan September. Bagaimanapun caranya.

Apa yang kamu dapatkan setelah wisuda?

Gelar, tentu saja. Ijazah, transkrip nilai, dan predikat “beban negara” dan “pengangguran baru” juga layak saya dapatkan. Meski sebenarnya saya mau mengaku sebagai freelance content writer. Hahaha.

Wisuda itu cuma euforia. Kesenangan dan kelelahan dalam sehari. Jadi model seharian. Capek sih, tapi ya memang senangnya bukan main. Apalagi orangtua hadir melihat saya berjalan di panggung, bersalaman dengan Rektor—yang mungkin kenal sama saya juga enggak—memakai toga, berfoto sana sini. Ya, wisuda cuma begitu saja. Padahal setelah wisuda saya punya beban lebih berat dibanding harus menghadapi ujian setiap semesternya.

Jadi, kehidupan saya setelah wisuda itu belum jelas arahnya. Saya sempat seminggu lebih nebeng di kosan temen karena sudah ‘diusir’ sama ibu kos. Belum lagi duit kiriman orangtua sudah berkurang. Mencari pekerjaan itu nggak mudah. Nggak kayak kamu kenal sama siapa, kemudian disuruh kerja di kantornya. Nggak, nggak gitu. Saya kirim CV sana sini, yang nyangkut cuma satu. Ya, disyukuri saja yang begitu.

Sampai akhirnya saya memutuskan pulang ke rumah. Menunggu kabar dari semua lamaran kerja yang saya kirim di rumah. Jadi pengangguran itu aslinya enak sih, nggak ngapa-ngapain, kerjanya bangun tidur, makan, nonton, dan begitu seterusnya. Tapi nggak enaknya, kalau temen kamu ngajak main, orangtua udah nggak akan ngasih uang jajan, mana berani kamu minta juga, kan? Malu lah. Hidup saya selama menunggu ini ya cuma di rumah, biar nggak harus ngeluarin duit. Makan kan gratis kalo di rumah. Hehehe.

Dan benar yang orang-orang bilang, kehidupan sesungguhnya itu adalah ketika kamu sudah selesai studi dan mulai menghidupi dirimu sendiri. Kamu nggak bisa lagi bergantung sama orangtua, apalagi kamu sudah cukup mampu untuk bekerja. Kebutuhanmu sudah jadi tanggung jawabmu, meski orangtua kadang masih suka kasihan lihat anaknya nggak punya duit. Sama kok saya juga. Orangtua saya masih suka kasih saya duit jajan tiap kali saya mau main sama temen. Uangnya tetep saya terima, tapi rasanya nggak seenak waktu masih sekolah, yang bebas nerima uang tanpa rasa bersalah.

Tapi balik lagi, saya wisuda tepat waktu, bisa kuliah di luar kota, menemukan kemudahan di segala hal juga karena doa orangtua. Jadi, meski hari ini saya sudah hampir memasuki fase bisa berpenghasilan, saya selalu bersyukur atas segala hal yang sudah terjadi kemarin-kemarin. Saya bahagia, dengan sangat.

Kamu tau, kan, hidup setelah wisuda itu berat? Jadi, mending pikirin dulu apa yang mau kamu lakukan setelah wisuda? Bekerja kah? Menikah kah? Atau cari beasiswa buat sekolah lagi kah? Terserah kamu. Yang penting targetmu tepat. Jangan kayak saya yang selalu mikir “liat nanti aja”, meski baiknya saya beberapa kali hoki di beberapa kesempatan.

Sebulan pasca wisuda, Alhamdulillah saya sudah diterima bekerja. Rencana manusia memang banyak, tapi Allah selalu tau mana yang terbaik dan dibutuhkan hambanya.

Cileungsi, selamat menjadi pewarta ibukota, Tiw!
13 September 2017. 18.00

1 comment:

  1. Hmm, nganggur emang enak banget. Tidur-tiduran, waktu luang banyak. Bisa nuntasin beberapa buku atau novel yang belum sempet dibaca. Cuma ya gitu, pas mau main dan jajan buku lagi susah. Karena bokek anjir. :(

    Asyik, jadi sebulan wisuda langsung dapet kerja nih, Tiw? Beruntung sekali~
    Soalnya ada yang sampai setahunan, tapi belum juga dapet kerjaan tetap. :')

    ReplyDelete