Saturday, October 21, 2017

Kali Ini, Lelaki yang Mengusap Kepalaku Dari Dekat


Benar​ kata orang, perasaan itu tidak akan selesai meski kita sudah mengungkapkannya. Aku sudah salah memprediksi hal ini sejak dengan susah payah mengatakan padanya soal keanehan di pikiranku. Dia bicara dengan sangat halus seperti seorang kakak pada adiknya. Sementara aku, menangis kekanakan. Sekarang aku ingin tertawa mengingatnya.


Dia masih sama. Seorang laki-laki dingin dengan tembok tinggi di sekelilingnya. Jangan harap bisa meruntuhkan pertahanannya. Aku--hingga saat ini--mungkin hanya bisa merobohkan tidak sampai setengahnya. Meskipun di saat-saat tertentu aku sangat ingin membawanya keluar dari lingkaran tembok itu. Tapi percayalah, dia juga masih laki-laki yang sama untuk bisa menghangat dengan caranya sendiri.

Kali ini sudah selesai. Aku yang memulai dan aku yang menyelesaikan.

Percaya atau tidak, sebuah cerita pendek yang aku tulis di tahun 2011 sudah menyiratkan tentang kami berdua. Dan kali ini aku benar-benar percaya bahwa kami sudah saatnya selesai. Meski pada akhirnya hubungan semacam ini bisa jadi bumerang untuk keberadaan kami.
---

Hari itu aku melihatnya kembali setelah hampir satu semester tidak bertemu. Ya, dia masih orang yang sama meski dengan dalih muka-gosong-abis-turun-gunung. Dusta. Dia masih sama tampannya seperti biasa. Ditambah dengan kacamata--yang entah minus berapa--menghiasi wajahnya.  Aku duduk di sampingnya dengan kaku setelah mencoba bicara seperti biasa. Rasanya semua skenario yang kubangun rusak begitu saja dengan kehadirannya.  Tidak ada yang bisa kulakukan selain pura-pura sibuk dengan ponselku.

Dia masih sibuk dengan ponselnya juga ketika aku sedang menatapi punggungnya yang tidak bersandar di tembok. Kadang-kadang aku menyesali pertemuan-pertemuan semacam ini. Mengingat aku sulit membangun suasana dan obrolan yang asik dengan orang yang jarang kutemui wujudnya. Terlebih dengan dia. Aku seperti membeku, tak bisa berkata apa-apa. Iya, bagaimana caranya aku bisa bicara kalau jantungku deg-degan parah? Sial.

Aku selalu membiarkannya berjalan lebih dulu. Sebab, aku selalu suka menatap seseorang yang kusuka dari belakang. Menatap punggungnya dan mengikuti ke arah mana dia pergi. Seperti ini caraku menjaga, agar aku tahu bahwa ia tak akan pergi kemana-mana. Kalaupun pergi, aku akan tau kemana arahnya. Walau begitu, aku juga suka berjalan di sampingnya.

Gelap studio bioskop membuatku sedikit tenang. Entah perasaan macam apa yang sedang berkecamuk di pikiranku. Aku cuma diam, tidak ingin membahas apapun dengannya. Mataku tetap fokus ke layar, sampai aku sadar beberapa kali ia menatap ke arahku. Entah, aku belum pernah melihat dia menatapku kecuali ketika kami ada di ruang karaoke waktu itu. Sungguh, setiap kali dia menatap ke arahku, aku selalu ingin menoyor pipinya dan bilang, "Sana jangan liatin aku mulu." Tapi lagi-lagi aku cuma diam dan membiarkannya menatapku.

Gelisah di hatiku sudah makin tidak karuan. Hari itu aku memang harus menyelesaikannya. Mencari jawaban atas keresahanku sendiri. Meski kenyataannya, aku sudah tau sejak awal tentang jawaban apa yang akan aku dapatkan.

Hening mengunci bibirku rapat-rapat. Tidak bicara apapun itu membosankan. Aku belum bisa buka suara untuk hal terpenting yang ingin aku utarakan karena aku sungguh tidak sanggup. Kami cuma diam. Bicara tentang satu hal, kemudian hening. Bicara lagi satu hal, kemudian bisu.

"Mana katanya mau ngobrol sama aku. Diem mulu," katanya memecah kesunyian di antara kami.

Aku hanya tersenyum, mengisyaratkan 'tunggu-aku-belum-siap' sambil tetap melipat-lipat kertas yang ada di meja. Berkali-kali mata kita bertemu dan tatapan itu masih menunggu aku bicara.

Aku berusaha bicara sebanyak mungkin, tapi yang keluar dari bibirku cuma beberapa kata lirih. Bagusnya, dia menangkap maksudku dengan cepat hingga aku tak harus mengulang pertanyaanku. Buruknya, aku hampir ingin menangis meski selanjutnya aku ingin tertawa; menertawakan kebodohanku. Ya, kadang-kadamg aku ingin sekali merutuki diri sendiri  yang cuma bisa haha hehe di depan orang ketika akan bicara serius. Kemudian menyesal karena apa yang dibicarakan tidak sesuai keinginan.

Dia mengatakannya dengan pelan. Menyampaikan dengan hati-hati. Sudah kuduga akhirnya bakal begini. Keraguannya menjelaskan banyak hal yang tidak bisa lagi aku perjuangkan di banyak titik. Aku menyerah setelah sudah pasrah. Kubilang kan, aku hampir menangis saat itu, tapi aku bukan orang yang mudah menangis di depan orang lain. Jadi, hal itu tidak lantas membuat kami terlihat seperti pasangan yang baru saja putus cinta. Tidak.

Hanya saja, rasanya cukup menyakitkan ketika ada seseorang yang bilang bahwa aku adalah perempuan tidak peka walau sebagian pikiranku membenarkan pernyataan itu.

Perempuan tidak peka.

Tidak peka.

Tidak-peka?

Sungguh untuk yang satu ini diluar prediksi. Dia masih menatapku dengan tatapan yang sama. Aku tidak lagi berani menatapnya. Tembok itu mungkin terbentuk lagi untuk membatasiku dengannya. Membiarkan aku berada di luar kehidupannya. Perasaanku dan perasaannya mungkin ada  di jalur yang sama, tapi ada banyak keadaan yang membuat kami tidak mampu  memaksakan apapun yang ada di depan. Kami cuma mampu sampai di sini, di titik ketidaknyamanan sekaligus kenyamanan untuk saling menyayangi satu sama lain yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan ini rumit, tetapi kami sudah memutuskan bagaimana ujungnya hari itu.

Kami masih sama-sama berjalan ketika dia mengusap kepalaku, kali ini dari dekat dan langsung.

Ya, dialah lelaki yang mengusap kepalaku dari jauh, waktu itu. Hari ini kami sudah selesai dengan fase itu dan berhenti sampai di sini saja.

Cileungsi, dua hari setelah bertemu.
21 Oktober 2017. 01:39.

2 comments:

  1. Mau dong diusap kepalanya dari dekat dan langsung. Kok romantis banget, ciyeee.. Hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini sini. Wkwk.
      Bagian mana sih yang romantis?

      Delete