[Book Review] Confessions of a Shopaholic by Sophie Kinsella


Judul: Confessions of a Shopaholic (Pengakuan si Gila Belanja) | Pengarang: Sophie Kinsella | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: Agustus 2007 (cetakan kelima) | Jumlah Halaman: 472 hlm. | ISBN: 9792202366 | Harga: Rp 65.000,- (Saya beli di obralan harganya Rp 10.000,-)

Apa yang ada di pikiranmu ketika kamu terlilit hutang hampir 1000 pound banyaknya? Saya pasti sudah kewalahan, entah bagaimana cara membayarnya. Seribu pound itu… banyak. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar 17 juta rupiah. Hebat benar bisa dapat uang sebegitu banyak dalam waktu singkat. Dan hal inilah yang dialami oleh Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis keuangan, yang setiap harinya menulis artikel keuangan termasuk ‘Bagaimana Anda Mengelola Uang’. Berbanding terbalik bukan?

Terlihat dari judul buku ini, benar bahwa Rebecca ‘Becky’ Bloomwood adalah seorang shopaholic alias gemar sekali berbelanja. Ia selalu membeli barang-barang di toko dengan kartu kreditnya. Kebanyakan memang barang branded dan mewah. Tak jarang ia selalu tergiur dengan kalimat ‘SALE’ di toko yang menjadi langganannya. Baginya, belanja adalah surga. Tetapi akibat kegemarannya berbelanja, dirinya kemudian terjebak di kubangan utang atas kartu kreditnya.

Sebenarnya saya mau membahas sedikit soal opini saya mengenai berbelanja menggunakan kartu kredit. Saya nggak akan benar-benar bebas jika belanja menggunakan kartu yang satu itu. Semacam, kamu membeli, tapi kamu berhutang dulu. Jadi, nggak ada istilah ‘ada uang ada barang’. Saya mungkin juga nggak benar-benar tahu bagaimana sistem kartu kredit bekerja, tapi saya pikir itu semacam layanan pascabayar dimana kamu bisa menggunakannya dulu, baru kemudian membayar di akhir bulan. Begitu bukan sih? Koreksi jika saya salah.

Dan dalam buku ini, kita akan dibawa melihat bagaimana cara Becky menghadapi tagihan utangnya dengan… berbohong. Yup, ia selalu lari dari kenyataan; pura-pura sakit, mengarang cerita soal bibinya, membuang semua surat tagihan utang, hingga kabur ke rumah orangtuanya. Ya, rasa takut Becky yang tidak bisa membayar utang itulah yang membuatnya selalu menghindar. Belum lagi ia masih terus membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang tidak begitu dibutuhkannya.

Ia mencoba banyak hal, mulai dari mengikuti kata-kata motivator untuk ‘Kurangi Belanja, Perbesar Penghasilan’ sampai ia mencoba beralih profesi jadi wirausaha pembuat bingkai foto. Semua usahanya sia-sia rupanya. Lalu bagaimana Becky bisa lepas dari jerat utang-utangnya?

"Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah bersikap berani dan menghadapi masalah. Hubungi bank dan beritahu bahwa Anda punya kesulitan keuangan. Mereka bukan monster! Mereka berniat menolong. Melarikan diri tak akan memecahkan masalah apapun. Semakin lama Anda tunda, semakin parah keadaannya." - Rebecca Bloomwood. (Hlm. 428-429).

Buku bersampul merah muda ini sungguh memikat bagi saya. Namun, di beberapa bab terkesan bertele-tele. Ya, buku ini punya sisi romansa antara Becky dan Luke Brandon, seorang direktur PR ‘Brandon Communications’, tapi rasanya sisi itu hanya ditampilkan sedikit juga. Dan yang saya sayangkan, usaha Becky keluar dari utangnya agak kurang greget, meski di akhir ia kembali menulis sebuah artikel investigative dari sebuah bank yang membuatnya bisa bangkit perlahan-lahan. Secara keseluruhan, saya suka, meski ada bagian yang membosankan.

RATE: 3/5
---

NB:
Sedikit membahas soal film yang diadaptasi dari buku ini, jujur saja saya lebih menyukai ending dari filmnya dibanding dari buku ini. Lebih masuk akal di scene film, meski sebenarnya plot di buku ini berusaha mengembalikan Becky pada passionnya yang seorang jurnalis. Tapi untuk kenyataannya saya lebih suka ide sutradara di film untuk mendapatkan uang lebih cepat dengan menjual barang-barangnya.

Cileungsi, minggu yang sederhana.
8 Oktober 2017. 09:25.

Comments

  1. Saya malah belum pernah baca ini buku hahahha... Tipikal chicklit gramedia ceritanya.

    ReplyDelete
  2. aku pernah bilang ke mamaku kalo aku pengen punya kartu kredit tapi ga diizinin. kayaknya bakalan banyak khilap soalnya kayak si rebecca ini hehe. belum pernah baca bukunya tapi pengen baca deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kan. Mending pake sistem ada uang ada barang deh biar ga kebablasan hehe.
      Silakan baca, cukup seru lhoo.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)