Semarak Pesta Budaya Desa Kalilunjar ke-184

Photo by: eciiiiiw

Desa Kalilunjar itu nama salah satu desa di Kabupaten Banjarnegara. Sudah setahun belakangan ini Desa Kalilunjar menamakan dirinya sebagai desa wisata. Perubahan demi perubahan sudah mulai terlihat, salah satunya dengan keberadaan Bukit Asmara Situk, juga sentra oleh-oleh yang berasal dari Salak. Udah pernah coba kerupuk salak? Itu kerupuk paling enak kayaknya, meski aku juga baru pertama kali coba.

By the way, tanggal 29 Agustus 2017 lalu, Desa Kalilunjar merayakan hari jadi ke-184, lho. Sebagai bentuk perayaannya, ada event budaya yang memang menjadi tradisi tahunan di sana. Lokasinya juga nggak jauh dari Bukit Asmara Situk, pas banget di seberangnya. Malam tanggal 28, kami diajak menyaksikan malam tirakatan untuk menuju puncak acara esok hari. Nggak Cuma itu, tapi ada juga Parade Gending dan Obor Ambal Warsa yang turut menyemarakkan acara ini.

Malam puncak perayaan hari jadi Desa Kalilunjar ke-184 ini juga membuat suasana jadi elegan dengan keberadaan lampion yang dinyalakan di sepanjang jalan mendekati area balai desa. Andai semua lampu listrik dimatikan, pasti suasana akan semakin syahdu yang khidmat.

Jujur saja, bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini membuatku berpikir bahwa masyarakat desa masih sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Mereka benar-benar mempersiapkan acara ini dengan detail, termasuk dengan berpakaian adat. Melihat perayaan ini aku jadi bertanya-tanya, apakah di kota besar masih ada yang mau merayakan hari jadi kotanya dengan cara seperti ini? Kalau yang aku lihat malah kebanyakan membuat acara modern yang tidak mencerminkan nilai kebudayaannya. Nggak tau juga sih.

Photo by eciiiiiw

Esok paginya, perayaan hari jadi Desa Kalilunjar masih berlanjut dengan acara Mboyong Oyod Genggong—jujur aku kurang tau maksudnya apa—tapi ternyata acara itu adalah semacam ritual arak-arakan dengan membawa akar dari Genggong ke Balai Desa. Kenapa akar? Karena hasil pertanian terbesar di Desa Kalilunjar adalah umbi-umbian dari akar, seperti singkong. Sehingga, bisa jadi acara ini menjadi bentuk syukur masyarakat kepada Sang Maha Pemberi.

Photo by eciiiiiw

Selagi parade atau arak-arakan itu dimulai, di seberang balai desa juga diadakan Pesta Pala. Di sini semua RT wajib menyajikan makanan olahan yang terbuat dari pala atau umbi-umbian akar tadi. Modifikasinya sangat bervariatif, aku sendiri nggak sempat coba banyak makanan di sana. Tapi lagi-lagi aku kagum dengan masyakaratnya yang sukacita menyambut acara ini dengan menghias stand mereka, berpakaian kebaya untuk perempuan yang menjaga stand. Mulai dari anak-anak sampai yang sudah sepuh sekalipun turut hadir. Keren pokoknya!

Menghadiri event budaya semacam ini membuatku makin jatuh cinta sama Indonesia yang punya banyak budaya. Mungkin orang luar nggak banyak tahu kalau di Desa Kalilunjar ini selalu punya acara yang keren kayak gini setiap tahunnya. Bahkan aku juga baru pertama kali ke Desa Kalilunjar, tapi… banyak hal yang membuatku terkesan di kunjungan pertama.

Semoga kebudayaan semacam ini terus lestari. Selamat Hari Jadi Desa Kalilunjar ke-184!

Purwokerto, 9 September 2017.
09:49.

Comments

  1. Kerupuk salak itu yang seperti apa yak? pernah makan di tempat temen di Banjarnegara, tapi keripik salak.

    ReplyDelete
  2. Selalu menarik kalau ada parade budaya begini, warga lokal berbahagia bersama

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)