Wilujeng Tepang Taun!

Karena saya suka foto kamu yang ini.

Wilujeng Tepang Taun!
Selamat 22 tahun. Semoga segala yang terbaik buatmu, ya.

"Ketika rasa itu hadir dalam batasan, hanya perlu mengikhlaskan satu sama lain.
Sekecup doa dalam solat menjadi penghantar pesan dari luasnya horizon antara laut dengan gunung bahkan hingga laut lagi."

Seperti isi pesan pada pagi yang gelisah. Kita berada di jarak yang jauh. Aku adalah laut dan kamu adalah gunung. Di mana titik pertemuan yang aku idam-idamkan tidak kunjung terjadi. Senja selalu berusaha menghibur walau malam kita dibatasi oleh teknologi yang membuat mati kutu karena di tempatmu sinyal tak semudah itu kau dapatkan. Hampir setiap sore laut juga menemaniku mengirim rindu. Setiap petang, doa-doa berterbangan ke langit, siapa tau mampir di tempatmu.

Malam-malam setelah rapat evaluasi, aku seringkali memaksa diri menghubungimu demi mendengar suaramu.

"Sorry harus turun ke bawah demi dapet sinyal."

Tak jarang kamu juga ada di luar bertemankan angin dingin yang berhembus kencang hingga sampai di telingaku. Sadar atau tidak, teleponku membuatmu memaksa diri untuk berdiri di luar dan membiarkan dirimu diterpa angin malam yang dingin dan terlalu jahat. Aku egois, ya? Tapi kamu tak pernah marah.
---

"Udah nonton film ini?"

"Belum."

"Nonton yuk."

Sesederhana itu acara "janjian" kita untuk nonton film, kan? Meskipun film yang terakhir kita tonton sudah lama sekali dan tidak sesuai dengan tujuan awal kita. Hahaha. Hampir-hampir aku luluh lagi kepadamu ketika kamu dengan semangat berbicara banyak hal tentang cita-citamu, tentang keinginanmu, tentang apapun yang kamu tau. Sama seperti malam ketika kita berbincang panjang lewat telepon... Kamu kehabisan topik dan bilang padaku, "Gantian kamu yang cerita dong."

Aku juga ingat, malam terakhir kita nonton bareng itu kamu bilang, "Tiwi tumben pake rok?" Lantas aku ingin tertawa sekeras aku bisa, tapi tidak jadi. Takut dimarahi orang-orang di dalam bioskop. "Keliatan lebih feminim," katamu. Aku cuma meringis. Padahal aku pernah ketemu kamu pas lagi pake rok dulu itu. Mungkin kamu lupa karena kita pernah punya jeda yang cukup lumayan pasca aku patah hati tempo hari itu.

Sampai hari ini, semesta masih berbaik hati membiarkanmu ada di lingkaran hidupku. Meski tidak lagi dengan cara yang sama seperti dulu, aku tau kita partner nonton yang oke. Hahaha. Aku juga cukup berterima kasih karena kamu sudah mau mengirimkan "bom" ke kosanku meski dengan cara yang aneh juga. Hahaha. Lucu juga mau kirim barang tapi tanya alamat ke orangnya. Jadi gagal misterius deh.

Jadi, sebelum tanggal 29 Juni habis, aku cuma berharap kamu jadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Penelitian lancar dan lulus tepat waktu. Kita satu sama ya, kamu nggak datang seminar proposalku dan aku juga nggak datang seminarmu. Tapi doa sama-sama nyampe, Insya Allah. Hadiah juga sudah sampe ke tangan masing-masing. Semoga jadi kenangan yang menyenangkan, ya.

Selamat ulang tahun, Aa. Bahagia salawasna. Tetap jadi partner nonton saya, ya?


Sincerely,

Tiwi.

NB: Ini bonus puisi tahun lalu waktu kita abis malem mingguan nonton film yang saya lupa judulnya apa. Mengenang Malam Minggu.


Purwokerto, baru sampe euy.
29 Juni 2017. 21:14.i

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)