Tuesday, June 20, 2017

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan

Lucu kan ya covernya.
Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas | Pengarang: Eka Kurniawan | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: April 2014  | ISBN: 6020303934 | Harga: Rp 75.000,-

Jangan pernah terkecoh oleh judul. Saya bilang, jangan.

Jujur saja, saya membeli buku ini pun karena melihat dari judulnya dan sampulnya yang full color. Meskipun sebelumnya saya sudah melihat book trailer-nya, saya nggak menyangka kalau bukunya akan sevulgar ini. Terima kasih, Eka Kurniawan, untung saya udah 21+ ketika membaca ini. Jadi, nggak takut kena razia usia kalau ternyata ketahuan baca buku diluar usianya.

Well, gimana ya mau nyeritain isi bukunya. Kok agak nganu gitu lho mau menyebutnya. Jadi, ini buku isinya soal “burung” yang tidur. Tapi diluar itu sungguh ada nilai moral yang saya ambil juga mengenai ambisi yang seharusnya dibarengi dengan kebijaksanaan.

Tersebutlah dua anak bernama Ajo Kawir dan temannya, “Si Tokek”. Pada bab awal tanpa aba-aba langsung diceritakan soal kemaluan Ajo Kawir yang tidak juga bisa bangun meskipun sudah dipancing sedemikian rupa. Saya sendiri sempat kaget, apa hubungannya judul dengan isi buku yang begini ini? Tapi akhirnya saya lanjutkan saja. Dua orang anak ini suka berkelahi dan memancing keributan. Hingga suatu hari Ajo Kawir diberikan tugas untuk membunuh seseorang.

Ada suatu ketika, saat keinginan birahi Ajo Kawir dan Si Tokek sedang dalam masa penasaran. Eh gimana sih ngomongnya ya ampun. Mereka berdua pergi ke suatu rumah yang di dalamnya tinggal seorang janda sinting bernama Rona Merah. Mereka pergi mengendap-endap tanpa sepengetahuan orangtua. Alasan mereka tentu cuma satu, memuaskan hasrat seksual mereka. Tapi sesampainya di sana, mereka malah mendapati ada dua orang polisi yang sedang memperkosa Rona Merah.

Tanpa berniat untuk lari, mereka malah tetap mematung dan mengintip aksi bejat kedua polisi itu. Hingga Ajo Kawir ketahuan sedang mengintip, sedang Si Tokek kabur meninggalkannya. Polisi itu ternyata memaksa Ajo Kawir untuk menggagahi Rona Merah dan karena ketakutan hingga akhirnya kemaluan Ajo Kawir tidak lagi mau bangun seperti burung yang tertidur.

Selama beranjak dewasa, Ajo Kawir terus menerus berusaha membuat si burung bangun. Pun ketika ia bertemu dengan seorang gadis, Iteung, yang menyukainya, si burung tetap tertidur lelap. Iteung dan Ajo Kawir bertemu dengan cara yang aneh menurut saya. Mereka saling berkelahi hingga keduanya babak belur. Iteung sendiri seorang perempuan yang jago berkelahi bahkan melebihi Ajo Kawir. Ada penjelasan mengapa Iteung pada akhirnya memilih masuk kelas bela diri ketimbang kelas menari atau lainnya.

Ajo Kawir dan Iteung akhirnya menikah karena mereka saling mencintai, namun sampai saat itu pun si burung masih enggan bangun. Hingga tiba-tiba Iteung hamil, entah anak siapa. Ajo Kawir memutuskan untuk pergi dan menjadi supir truk. Sejak saat itu ia memilih untuk mengikuti ketenangan seperti si burung, tidak berkelahi, dan hidup dengan damai.

Rindu dan dendam…
Ajo Kawir masih rindu pada istrinya yang berada di penjara karena membunuh orang. Iteung ternyata berusaha untuk membalas dendam suaminya pada dua polisi yang membuat kemaluan si suami tidak lagi mau bangun.

Rasanya buku ini seperti sebuah perjalanan kehidupan yang nyata, diluar dari bahasa yang digunakan Eka Kurniawan yang saya rasa sangat vulgar, tapi inilah realita. Kalau penasaran bisa baca sendiri, tapi ya lihat usia dulu ya. Karena ada label 21+ di belakang sampulnya. Eh, tapi buku ini keren juga bisa menang nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa kategori Prosa. Hehehe.

Cileungsi, laper nih.

20 Juni 2017. 19:34.

2 comments:

  1. pertama baca buku eka yg judulnya 'LELAKI HARIMAU' memang di sana juga ada sedikit vulgar, tapi gak se-vulgar ini deh kayaknya. dari review ini aja udah keliatan vulgarnya. ahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum pernah baca yang lelaki harimau wkwk.
      Iya ini vulgar bener dah :D

      Delete