Ketika Ramadhan di Tanah Rantau dan Segala Tradisinya


Lebaran di kota rantau bagi mahasiswa seperti saya ini rasanya sangat nano-nano. Di satu sisi, bahagia rasanya ketika kembali bertemu bulan Ramadhan, tapi di sisi lain jauh dari orang tua merupakan suatu tantangan tersendiri. Rindu dengan hidangan buka puasa dan sahur di rumah tidak lagi bisa dirasakan ketika berada di kota rantau.


Ini tahun keempat saya menjalani puasa di kota rantau, Purwokerto. Semua hal berjalan sama saja seperti hari biasanya. Namun, sependek pengetahuan saya, ada beberapa tradisi yang memang sering dilakukan orang-orang untuk menyambut bulan Ramadhan ini. Seperti beberapa hari lalu saat saya usai menjemput teman di stasiun, saya melihat ada pawai obor yang diikuti oleh rombongan anak kecil dan warga sekitarnya.

Pawai obor yang dilakukan oleh warga desa ini ternyata memang bertujuan untuk menyambut kedatangan bulan ramadhan. Sudah seharusnya, bulan yang penuh berkah ini disambut dengan penuh semangat, kan?

Sebenarnya saya nggak begitu paham sama tradisi di kota ini, cuma kalau saya di rumah biasanya akan ada acara "munggahan". Acaranya semacam selametan atau syukuran menjelang bulan puasa, ya bersyukur kepada Sang Pemberi Rezeki kalau kita masih diberi umur panjang sampai pada bulan Ramadhan. Acara munggahan ini sih sepemahaman saya biasanya sepaket dengan acara doa bersama, kemudian menyantap atau membawa pulang makanan dari si tuan rumah yang mengadakan acara ini. Ya, mirip-mirip sama kenduri sih buat orang yang datang.

Kalau di desa saya, di Gombong, biasanya juga ada tradisi ziarah atau nyekar. Yup, kegiatan untuk mengunjungi makam orang-orang yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengirim doa kepada almarhum dan almarhumah agar diberi kelapangan dalam kubur.

Nah, mungkin segitu aja sih pengetahuan saya soal tradisi menjelang bulan Ramadhan. Dan yang paling sering sih pasti... ada petasan dimana-mana. Entah faedahnya apa. Mungkin biar tambah semangat aja kali, ya. Hehehe.

Purwokerto, mepet deadline.
30 Mei 2017. 19:16.

Comments

  1. sedih ya ketika bersama klg semua sdh disediakan dg buka yang kita suka, di ranatu kita hrs cari sendiri dan mkn sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak. Makan seadanya aja karena kadang males belinya hehe

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)