Yuki no Hana, Pertemuan Manis di Festival Salju Sapporo


Judul: Yuki no Hana | Pengarang: Primadona Angela | Penerbit: Noura Books | Tahun Terbit: 2014  | ISBN: 9786021606728 | Harga: Rp 44.000,- (Saya beli obralan 12.000 kalo nggak salah).

Bulan April ini rasanya banyak hal yang mengingatkan saya akan Negeri Sakura. Dimulai dari film Shigatsu wa Kimi no Uso versi live action, guguran bunga sakura di aplikasi Line, ulang tahun saya, sampai kepada mimpi untuk bisa studi di Jepang, guguran bunga sakura di aplikasi Line, ulang tahun saya, sampai kepada mimpi untuk bisa studi di Jepang. Entah, apakah yang bersinggungan di dalamnya cuma kebetulan atau memang Tuhan sengaja membuat semangat saya tumbuh untuk bisa belajar lagi soal Jepang? Mungkin saja.

Kali ini saya telah selesai membaca satu novel yang berlatar tempat di Jepang. Yup, judulnya Yuki no Hana karya Primadona Angela. Buku ini merupakan bagian dari “Festival Series” yang digarap oleh Noura Teen. Novel-novel yang diterbitkan tentunya memuat berbagai latar festival yang ada di seluruh dunia. Dan saya membeli buku ini karena apalagi kalau bukan soal jejepangan?

Untuk ukuran teen fiction, saya masih bisa menikmati tulisan Mbak Prima di buku ini. Mulai dari judul bab yang menggunakan dua bahasa (kanji + romaji, disertai bahasa Indonesia), sampai penjelasan soal makanan yang sungguh amat detail.

Sayangnya, Mbak Prima ini nggak memberikan penjelasan itu melalui footnote, tetapi dijelaskan secara langsung dalam narasinya. Bagi saya, ini kurang enak untuk dibaca karena terasa berulang, terutama untuk bahasa Jepang dalam dialog. Saya jadi merasa membaca dua kalimat/kata yang sama sekaligus, padahal maksudnya untuk menjelaskan. Mungkin akan lebih rapi kalau menggunakan footnote saja.

Dari segi cerita dan alur, jujur saya saya menyukainya, meskipun ya mudah ditebak. Buku ini entah mengapa mengingatkan saya pada Winter in Tokyo milik Ilana Tan. Yup, di bagian Hana kecil bertemu dengan Takahashi kecil di Sapporo. Hana bertemu dengan Taka-kun ketika ia dan orangtuanya sedang berlibur untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, orangtuanya bertengkar karena perselingkuhan. Hana yang tersesat kemudian ditolong oleh seorang anak lelaki, Taka-kun.

Tunggu, ada yang saya tidak mengerti di sini. Apa sebab orangtua mereka membawa Hana ke Jepang dan kemudian bertengkar dan memutuskan untuk bercerai sepulang dari Jepang? Deskripsi di pikiran Hana, ia mengira bahwa mereka pergi ke Jepang untuk merayakan ulang tahun, tapi pasti ada maksud lain. Hm, apa ya? Kok saya jadi bingung sendiri.

Oke, setelah kedua orangtuanya bercerai, Hana hidup bersama ayahnya. Ibunya sudah menikah lagi, pun dengan ayahnya. Dan… Hana berusaha bekerja keras untuk kembali ke Yuki Matsuri di Sapporo tahun berikutnya. Apalagi kalau bukan mau bertemu dengan Takahashi? Ah memang ya, apapun akan dilakukan untuk bisa kembali ke sana. Apalagi punya teman.

Hana yang berusaha untuk bisa kembali ke Jepang rela bekerja apapun demi bisa mengumpulkan uang, sekalipun menjadi pengasuh lansia. Kepergian Hana ke Jepang juga didasari karena ia tidak lagi diakui sebagai anak oleh ayahnya. Jahat banget, ya. Iya, gara-gara ibu tirinya tuh. Hana ingin bisa berkuliah di Jepang, tapi kok nggak diceritakan dia udah lulus SMA apa belum sih. :(

Kisah romance dalam buku ini juga ala-ala anak muda yang masih labil. Berteman dengan Takahashi selama 10 tahun membuat Hana berpikir bahwa ia akan bisa suka pada Taka seperti saat pertama bertemu di usia 13 tahun. Namun ketika sampai di Jepang dan Sho, kakak Taka, menjemputnya, Hana merasakan hal yang berbeda. Sho adalah orang yang dingin, tapi punya perhatian dalam bentuk lain. Mungkin itu yang Hana suka dari Sho. Anyway, baca nama Sho, pikiran saya lebih cenderung ke arah Oppa Korea dibanding Jepang. Tapi kepikirannya si Hiromitsu di Heroine Shikkaku. Hahaha

Well, secara keseluruhan, buku ini asik dibaca untuk remaja-remaja yang punya cita-cita dan impian. Bahwa semua hal yang kita impikan selalu punya cara masing-masing untuk terwujud dan kebaikan orang lain pasti selalu ada asalkan kitanya juga baik. Dan, segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya.

Satu lagi, sampulnya yang berwarna putih dengan gambar boneka salju serta aksesoris lain yang berhubungan dengan Jepang bikin saya suka banget. Terkesan rame, ceria, tapi lucuk! Btw, Hana jadinya sama Takahashi atau Sho, ya?


“Random acts of kindness. Kalau ingin membalas kebaikan saya, balaslah pada yang lain. Jagalah kebaikan dan kebajikan agar tetap menyebar…” (hlm. 35).

“If you don’t like something, you have three options… Ignore it, change it, or accept it.” (hlm. 115)
Jadi, masih kepo nggak kayak apa Yuki Matsuri di Jepang? Saya sih masih kepo banget, jadi pengen kesana deh. Semoga 2 atau 3 tahun lagi bisa. Aamiin.

RATE: 3,5/5


Cileungsi, mendung nih.

19 April 2017.

Comments

  1. Aku belum pernah baca teenlit. Soalnya sukanya novel Thriller. Cuma yang ini sepertinya lumayan seru ya? Aku juga suka yang Jejepangan hehe. Nabung Mba, cari tiket murah ke Jepang hehe. Atau ikut lomba blog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka apa aja sih. Ini beli juga karena suka aja ada tema Jepangnya hehe.
      Nah, maunya sih nabung buat trip kesana. Semoga kesampean deh :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)