Monday, April 24, 2017

Lelaki yang Mengusap Kepalaku Dari Jauh


Ada bagian memori yang kembali ketika aku bertemu dia hari itu. Sisa-sisa masa lalu yang belum selesai. Jeda panjang yang kami lalui tanpa tegur sapa. Aku terhenyak, menatap sosoknya yang berdiri di depanku. Diam-diam aku bergumam sendiri. Itu dia. Orang yang dulu pernah aku kagumi. Orang yang dulu sempat aku perhatikan, hingga ujungnya saat itu aku menulis sebuah cerita tentang dia. Tentang bagaimana aku berharap dia mau melihatku sebagai perempuan, bukan sebagai adiknya.

Ini soal masa lalu. Dan kisah yang belum selesai, tapi akan segera aku selesaikan.

Menatapnya ragu-ragu adalah kebiasaanku. Diamnya adalah penasaranku. Tertawa sesekali, mendengar bicaranya yang lugas dan berapi-api. Dia, laki-laki yang hidup dalam tembok yang dia bangun sendiri. Dia yang lekat dengan dingin. Dia meruntuhkan segala ketakutanku untuk bicara sekaligus membuatku ciut untuk pergi meratap.

Aku lupa kapan tepatnya melihat dia secara nyata. Melalui dunia maya, semua yang aku baca terasa tak jauh berbeda dengan kenyataan. Semua gambar, tulisan, dan caranya mengobrol di sana selalu aku anggap nyata. Sampai suatu hari, terasa ada yang mengiris hati saat ia mengundang temanku ke acaranya. Dia launching buku. Dia penulis. Dan dia laki-laki yang sama yang mengganggu pikiranku lagi.

Entah seberapa luas hatiku bisa memikirkan banyak orang sekaligus. Entah seberapa banyak orang yang bilang kalau aku terlalu dekat dengan banyak teman laki-laki. Entah... aku hanya merasa nyaman berteman dengan mereka. Menerima kedatangan mereka dengan label "teman" ataupun "kakak". Tidak pernah ada maksudku menebar segala jenis harap. Tidak sama sekali.

Sejak pertemuan itu, aku masih menyimpan semua hening itu sendiri. Merasa tidak perlu bicara apa-apa. Merasa baik-baik saja tanpa harus menunjukkan apa-apa. Let's see and you'll know. Segala senda gurau yang kubangun di grup bukanlah hal yang serius. Merayu dan menggoda dengan tingkah seenaknya juga bukan kebiasaanku. Tapi ternyata, dari gurauan itu aku menyimpan sesuatu yang bisa aku anggap serius untuknya. Semua hal yang aku katakan di grup, mungkin adalah sisa perasaan masa lalu yang belum selesai.

Tembok yang ia bangun mengelilingi dirinya masih kokoh. Tidak mampu aku tembus, dan mungkin tidak akan pernah. Dia dalam heningnya sendiri, aku dengan gelisahku sendiri. Ketika kelelahan mendera dengan sangat, aku memutuskan bahwa semua ini harus ada ujungnya: kejelasan. Aku bicara padanya, soal perasaanku yang memang belum selesai sejak dulu. Aku melupakan segala batas budaya yang bilang perempuan tidak wajar mengungkapkan perasaan duluan. Masa bodoh, ini harus selesai, pikirku waktu itu.

Dan benar, jawabannya membuatku serasa ditampar di depan orang banyak. Dia percaya, tapi tidak percaya lagi atas semua perasaanku sejak aku membahas orang lain di depannya.

‌Sederhananya, bagaimana aku bisa percaya kamu benar mencintaiku, sementara kamu dekat dengan yang lain dan lainnya. Gitu. Saranku, kalau kamu punya perasaan lagi yang benar-benar pada seseorang, jangan seperti itu lagi.
‌*Usap kepalamu dari jauh*

Hari itu juga aku menangis sejadi-jadinya. Ada yang lebih teriris dari perasaan yang tak terbalas. Aku menangisi semua kebodohanku, meskipun aku merasa tidak melakukan hal yang salah. Tunggu, bukankah apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain?

Diamku adalah cara untuk menjaga perasaan. Sebab, menyukai seseorang mungkin tidak harus dengan dikatakan. Aku memilih untuk tidak bicara apa-apa tentang siapapun yang aku suka, tapi untuk yang satu ini biar saja. Aku hanya ingin menuliskannya, meskipun ini soal perasaan yang harusnya sudah selesai.
---

Selesai? Belum.

Melihatnya bernyanyi adalah salah satu kegiatan favoritku. Ruangan dingin dengan lampu warna-warni itu mempertemukan aku dan dia lagi. Aku cuma bisa diam. Bicara dalam pikiranku sendiri, sesekali menatapnya yang duduk di sebelah kiriku. Ya, aku memang berharap dia akan duduk di sana.

Gerak suaranya memenuhi pendengaranku, memenuhi pikiranku, hingga merasuk ke bagian paling dalam di hatiku. Suaranya menghidupkan memori lama yang tertidur. Perasaan yang ingin segera aku sudahi, tapi belum mampu. Hingga percakapan yang sederhana itu terjadi.

"Kenapa nggak nyanyi?"

"Batuk, mas."

"Yaudah, minum gih. Itu ada minum."

"Aku bawa kok kalo minum mah."

Ia diam. Kemudian, "Kalo rindu kamu buat aku bawa nggak?"

Aku tersenyum sok manis. Apa katanya? Rindu aku buatnya? Hah! Parah! Dengan gombalan sereceh itu aku masih bisa tersenyum manis buatnya? Aku masih merasa rasa sukaku padanya bertambah berkali-kali lipat. Sialan!

"Bawa kok, ada nih di tas," balasku pada akhirnya.

Benar kata orang, kata-kata penulis itu beda. Sekali dia berucap, dia bisa meruntuhkan segala daya pertahanan yang aku punya. Dia laki-laki dingin yang melampaui batas temboknya sendiri jika ia mau. Tapi orang lain tidak akan mampu menembusnya jika ia tidak ingin.

Sementara aku bergumul dengan kerumitan yang tercetak di hatiku, aku tahu ia tidak pernah punya maksud apapun. Apalagi untuk serius maupun bercanda denganku soal perasaan. Aku tahu dan sudah pernah tahu soal itu. Sayangnya, kejadian semacam itu tidak mudah aku lupakan. Meskipun baginya mungkin itu cuma lelucon karena ia tahu aku pernah suka padanya.

Lepas daripada itu semua, rasanya aku memang ingin perasaan itu segera berakhir. Cukup saja dia menjadi kakakku, tidak perlu menjadi laki-laki pendamping. Kecuali atas kehendak Tuhan. Cukup saja dia menjadi pemanis hidupku.

Dan, usapan kepala dari jauh yang ia lakukan padaku akan kuanggap sebagai usapan sayang seorang kakak kepada adiknya.

Dia, laki-laki yang dingin, tapi mampu menghangat dengan caranya sendiri.


Di kereta menuju Purwokerto, sedang ingin menangis.
23 April 2017. 21:13

4 comments: