Sebuah Romantisme yang Berbeda


"Aku harus pulang, mamaku ulang tahun." Salah seorang teman yang aku ingat buru-buru membeli tiket kereta demi bisa hadir di hari ulang tahun ibunya. Sungguh romantis.


Hai, Ma. Hari ini aku mau menulis sesuatu kepadamu. Tentang banyak hal yang jadi pikiranku akhir-akhir ini. Tentang hidup, rindu, tujuan, dan rasa cinta. Hari ini tepat tanggal 17 Maret yang juga hari ulang tahunmu ke-47. Meski jauh di rantau, aku tidak akan pernah lupa hari ulang tahunmu. Beberapa menit mendengar suaramu di telepon saja sudah kuanggap cukup untuk menebas jarak yang jauh di antara kita. Ma, selamat ulang tahun. Maaf kalau aku tidak berada di sisimu di hari bahagiamu ini.

Boleh aku bercerita, Ma? Aku selalu ingat keinginanmu soal, 'Wisuda-kerja 2 tahun-menikah'. Tentu hal itu masih jadi patokan untukku karena aku percaya apa yang Mama bilang hari itu bisa jadi adalah yang terbaik buatku. Ya, orangtua mana yang mau menjerumuskan anaknya ke sesuatu yang tidak baik, kan? Tapi rasanya tidak semudah itu menargetkan sesuatu yang belum pasti adanya, Ma. Entahlah. Sampai hari ini, aku masih menjadikan hal itu sebuah tujuan. Meskipun entah dengan siapa.

Ketika aku meneleponmu barusan, Mama tau kalau aku sedang sibuk mengajukan tugas akhir demi bisa lulus tahun ini. Demi bisa melihatmu tersenyum bangga saat aku diwisuda. Mungkin itu salah satu titik bahagiamu untuk anak perempuan yang hidup di kota rantau sendirian, kan?

Ma, membaca pesanmu soal kekasih hati kadang-kadang membuatku berpikir banyak hal. Tentang kesiapan, tentang siapa orangnya, tentang masa depan yang kadang terlihat jauh sekaligus terlihat dekat. Kuharap Mama mau selalu berdoa untuk segala urusan jodohku. Meskipun aku tau, mama pasti akan selalu berdoa tanpa diminta. Dan, mungkin suatu saat aku akan minta dijodohkan saja. Hehehe. Sebab aku tidak tau lagi bagaimana caranya memulai hubungan dengan orang lain, terutama kalau sudah menyangkut perasaan.

Akhir-akhir ini aku membuat banyak kesalahan soal hubungan dengan orang lain, Ma. Aku tidak punya pacar, tapi aku punya banyak teman lelaki yang siap membantuku kapanpun aku butuh. Niatku sebenarnya hanya berteman, kalaupun aku suka ya bisa jadi aku memang suka. Tetapi ada yang salah ketika aku memilih berteman dekat dengan banyak teman lelaki. Sampai hari kemarin, ada seseorang yang membuatku serasa ditampar dengan kata-katanya.

Sebuah kesalahan fatal yang tidak aku sadari dan malah aku ulangi.

Orang itu bilang kalau aku harus menjaga perasaan orang lain bila aku benar-benar suka pada orang itu. Apa mungkin ada batas yang sudah aku langgar dalam pertemanan antara perempuan dan laki-laki? Apa karena aku punya banyak teman laki-laki yang sering aku ceritakan sehingga aku dianggap 'gampangan'? Atau karena aku terlalu banyak bicara soal mereka sehingga aku tidak lagi pantas mendapatkan yang benar-benar sayang padaku?

Ma, salahkah ini semua ketika aku berharap kalau aku bisa terbuka dengan siapapun, membuat semua orang nyaman padaku, dan mau bicara padaku soal apapun? Salahkah?

Salahkah jika aku menganggap semua orang sama dengan label teman? Salahkah aku suka pada beberapa orang dalam satu waktu? Apakah cinta seterbatas itu?

Atau memang aku yang bebal kalau diomongin, ya, Ma?

Yasudahlah, intinya, aku bahagia karena Mama selalu ada buatku, meskipun jauh. Semoga di usiamu yang sekarang, mama bisa jadi orang yang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih-lebih segalanya. Aku rinduuu!



Purwokerto, dengan rindu yang mengembang.
17 Maret 2017.

Comments

  1. Selamat Ulangtahun ke 47 Tante, Sehat selalu .... Amin
    Orangtua pasti akan memberikan yangterbaik buat anaknya, semoga kebaikan dan kepercayaannya tidak kita salah arti dan salah gunakan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)