Surat Tanpa Perangko


Untuk Bosse magang @PosCinta

Halo, Bosse magang @PosCinta yanh katanya ganteng. Akhirnya aku menulis surat ini untukmu. Sebelumnya, salam kenal. Semoga kita bisa berteman, ya.

Well,  rasanya cukup aneh harus menulis surat kepada orang yang bahkan tidak aku tau namanya bahkan rupanya. Tapi karena sudah cukup meneguhkan niat untuk menulis, maka akan kukirim saja surat ini. Semoga kamu membacanya, ya.

Kali ini aku tidak akan membahas soal kegantenganmu atau memuji-muji soal itu. Maaf. Hahaha. Tapi aku akan membahas soal sebuah sensasi berkirim surat. Yup, berkirim surat secara fisik, bukan dengan electronic mail ataupun surat-surat digital lainnya. Kenapa kita harus bahas itu? Ya, bagiku menyenangkan saja membahas hal-hal personal semacam itu. Apalagi kamu, sebagai perantara di Pos Cinta, yang setiap hari juga membaca semua surat-surat itu, kan?

Aku yakin semua orang tahu bagaimana bentuk surat, format penulisannya, dan bagaimana caranya surat itu bisa sampai ke penerima. Tapi rasanya tidak semua orang pernah mengalaminya, ya? Aku sih pernah. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu juga pernah berkirim surat fisik seperti aku? Mungkin akan aku ceritakan sedikit pengalamanku soal ini.

Dulu saat aku masih SMP, mungkin sekitar tahun 2007, aku sempat memiliki sapen (sahabat pena) yang berasal dari Jawa Timur. Yup, kami saling mengirimkan surat, berkenalan, dan bercerita banyak hal soal kegiatan masing-masing melalui surat itu. Alamatnya aku dapatkan dari majalah Bobo di tahun itu. Dulu aku belum kenal media sosial seperti sekarang. Sehingga, punya teman baru yang bisa kukirimi surat adalah pengalaman baru dalam hidupku.

Memang sih, berkirim surat melalui pos tentu saja butuh biaya membeli perangko. Tetapi proses menunggu surat datang adalah hal yang menakjubkan. Rumahku jarang kedatangan Pak Pos. Ketika ada surat datang untukku, rasa bahagia itu menjalar hingga ke lubuk hati. Hahaha. Aku bahkan bisa menebak-nebak apa isi cerita yang tertulis di dalam surat tersebut. Mendapat cerita dari kota yang jauh dari tempatku tinggal juga bisa membuka wawasan. Karena, aku bisa tahu tanpa aku harus kesana.

Aku juga masih ingat berapa banyak surat yang kakekku kirim untuk ibuku. Surat-surat itu tampak sangat melankolis dan benar-benar mengetuk pintu hati. Bagaimana tidak, pembuka suratnya saja begini (kalau aku tidak salah ingat),

Untuk ananda tersayang...
Semoga ananda selalu dalam keadaan sehat. Ayahanda baik-baik saja disini.

Itu hanya sepenggal, sisanya aku lupa. Mungkin kalau dilihat jaman sekarang akan terlihat kuno dan lebay, tapi bagiku itulah esensinya menulis surat. Pun surat-surat itu ditulis dengan menggunakan tangan. Sehingga lagi-lagi ketulusan si pengirim surat tersirat di dalamnya.

Aku sendiri sangat berharap bisa menulis surat semacam itu lagi. Tetapi siapa yang masih mau berkirim surat kalau media sosial dan internet sudah lebih memudahkan? Padahal, berkirim surat itu lebih puitis daripada saling berkirim pesan online.

Bagaimana menurutmu, Bosse?

Sekian dulu suratku kali ini. Semoga kamu punya pandangan lain tentang pembahasan ini. See, ya!


Sincerely,

Tiwi.

Purwokerto, di tengah hujan deras.
13 Februari 2017.

P.S. Setelah baca surat ini, Bosse magang bisa DM aku ya (kalau tidak keberatan). Hahaha.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)