Surat Cinta Lagi?

Sumber: weheartit.com
Untuk Tuan yang membuat candu dalam rindu itu sendiri.

Hari-hari sudah berlalu sejak pertemuan dalam kecanggungan itu terjadi. Masih tidak ada apapun di antara kita, kan? Kita hanya dua orang manusia berlainan jenis kelamin yang berdiri bersisian tanpa tahu perasaan masing-masing. Tunggu, mungkin kamu tahu, tapi enggan memberitahu. Pun denganku yang hanya berusaha percaya kalau keajaiban itu ada. Entah, aku masih terlalu nyaman merindumu dengan sederhana.

Its almost three years and I can't move on. Maybe I don't know how it to be. Selama ini aku masih terus berdoa, menyelipkan namamu di dalamnya, berharap yang satu itu akan didengar oleh Tuhan. Sayangnya, hingga saat ini aku belum mendapat kepastian dari Tuhan kalau Dia ingin mengabulkan doaku. Mungkin Tuhan sengaja membuatku bersabar lebih lama atau mungkin memang tidak akan dikabulkan sama sekali. Hahaha ini terdengar sangat pesimis, ya? Mungkin, permintaanku terlalu berlebihan. Entah.

Seribu empat puluh dua hari yang lalu, aku adalah gadis usia sembilan belas yang menatap matamu dengan tenang. Apa yang kutatap bukan lagi soal fisikmu, tapi entah di kedalaman matamu, aku ingin terjebak. Siapa yang rela terjebak dengan sengaja? Harusnya tidak ada. Namun aku melakukannya dengan sadar. Dengan segala pertimbangan yang nyata, aku percaya kamu adalah orangnya. Masih sampai dengan hari ini.

Dua puluh lima ribu delapan jam yang lalu, aku adalah gadis usia sembilan belas tahun yang meluangkan tempat di sudut sana untukmu. Sudut kecil yang kemudian hari ini meluas sesuai keinginanku. Tuan, kamu sudah sering membuatku rindu serindu-rindunya manusia. Kamu dengan senyummu yang sama masih membuatku selalu berkata tentang hal yang sama.

Berpuluh-puluh juta detik dari waktu itu adalah waktu merindu. Ketidaktahuanmu membuatku tidak ingin memberitahu. Aku hanya ingin merindu dengan begini, menuliskannya dalam sebait puisi atau sepanjang surat yang mungkin tidak akan pernah kaubaca. Tuan, terkadang aku tidak tahu lagi perasaan macam apa yang ada pada diriku. Ia hilang, kemudian ada. Hilang lagi, ada lagi. Begitu terus. Beberapa teman memberitahu kalau aku harus melepas, iya aku berusaha. Ujungnya adalah kemarin, aku membiarkanmu datang lagi ke mimpiku.

Tuan, setelah hampir tiga tahun berlalu, entah kenapa aku masih tetap percaya tentang perkataanku yang dulu. Harapan-harapan yang entah sampai kapan masih kusimpan dalam bentuk doa. Aku... tidak tahu lagi harus bagaimana, Tuan.

Kusudahi saja tulisan ini. Semoga kamu bahagia. Tetaplah sederhana seperti dirimu yang aku kenal.

P.S. Aku tahu ini akan jadi surat kesekian yang mungkin akan kau abaikan, lagi. Seberapa banyak pun, aku akan tetap menuliskannya jika aku rindu.



Sincerely,

Gadis yang merindumu hingga ke Ibu Kota.

Purwokerto, masih di kota yang penuh kenangan ini.
8 Februari 2017.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)