Generasi Millenial dan Ketergantungannya Pada Media Baru



Ke Jogja?

Sendirian?

Naik motor?

Yakin?

Insya Allah. Nyasar tinggal buka Google Maps.
---


Pernah melakukan hal di atas? Tentu saya sudah melakukannya dua hari lalu dan tiba dengan selamat di Jogja. Beberapa hari sebelum keberangkatan dari Purwokerto, saya betul-betul memperhatikan arah yang ditunjukkan oleh maps digital di ponsel saya. Sebab, saya tidak ingin nyasar terlalu jauh dari jalur yang sebenarnya. Sampai di Jogja pun saya masih tetap menggunakan maps demi sampai ke tempat makan yang saya inginkan atau tempat nongkrong hits di Jogja.

Ya, benar. Maps adalah andalan saya.

Bicara soal penggunaan maps dan fungsi digital lainnya rasanya semua orang hari ini juga turut menggunakannya. Terutama generasi muda yang saat ini mendominasi ranah digital. Pernah dengar soal generasi Millenial? Jujur, saya pernah, tapi tak begitu paham maksudnya. Setelah browsing (kelihatan sekali kan kalau saya ternyata juga generasi millenial), saya tau kalau generasi ini lahir di tahun '80-an sampai sebelum tahun 2000-an. So, kalau dilihat secara tahun lahir, memang benar saya masuk golongan tersebut.

Generasi Millenial ini tentunya di tahun sekarang sudah memasuki usia produktif yang mana dominasi dalam ranah publik dipegang hampir sebagian besar oleh mereka. Selain itu, generasi ini dianggap sebagai generasi yang melek teknologi karena lahir di tengah-tengah perkembangan teknologi canggih, termasuk soal media baru seperti internet. Bisa dilihat dari kebiasaan anak jaman sekarang yang seringnya update melalui jaringan internet ataupun media sosial. Segala macam informasi mereka dapatkan melalui media digital, bukan lagi media konvensional seperti zaman dahulu.

Sebagai generasi Millenial, tentunya kami benar-benar memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Dikit-dikit googling, dikit-dikit update, itu sudah jadi kebiasaan. Pemenuhan informasi melalui internet ini memang terlihat lebih mudah bagi kebanyakan orang yang punya smartphone. Aktivitas seperti menonton tv, membaca buku sampai berita, mengobrol dengan teman, bisa dilakukan dalam satu waktu sekaligus. Semua ada dalam genggaman, begitu kan?

Hal yang juga saya lakukan ketika ingin mengetahui sesuatu adalah mengetikkannya pada mesin pencari, bukan lagi pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi di dalam buku. Karena saya merasa mencarinya di internet akan lebih cepat dan mengefisienkan waktu yang saya punya. Beberapa dari informasi yang saya dapatnya merujuk pada blog pribadi, terlebih kalau yang saya cari adalah tentang ulasan perjalanan atau suatu tempat. Yup, dalam hal ini blogger berkontribusi sangat besar melalui pengalaman.

Kenapa begitu?

Anggap saja dulu saya pernah ingin naik gunung. Bertanya pada senior ternyata belum memuaskan hasrat keingintahuan saya, akhirnya saya browsing. Beberapa orang mengabadikan catatan perjalanannya dalam blog pribadi mereka. Dari membacanya, saya tau banyak hal, baik hal-hal umum seperti catatan waktu, persiapan, sampai pengalaman pribadi, semisal terkena badai di gunung. Nah, hal ini yang sesungguhnya saya ingat baik-baik karena pengalaman mereka lebih bisa dipercaya daripada sekadar gambaran umumnya.

Blogger sebagaimana yang saya ceritakan di atas, tentu punya kredibilitas sendiri menyoal pengalaman yang mereka tuliskan di blognya. Travel bligger, food blogger, beauty blogger sekalipun punya kredibilitas lebih di mata saya. Beberapa waktu lalu saya juga sempat mencari referensi lipstik di beberapa beauty blogger, hasilnya ya memang bisa dipercaya karena mereka menuliskan berdasarkan pengalaman mereka setelah menggunakan produk tersebut.

Bagaimana bloger menghadapi pembaca millenial?

Jawabannya sederhana, berikan pengalaman paling jujur kepada mereka. Bagi saya, pengalaman yang tidak mengada-ada bisa menjadi informasi yang akurat untuk sebuah referensi. Ini berlaku untuk yang based on experience, ya. Kalau untuk ulasan literatur tentu harus punya banyak bahan referensi dari buku-buku terkait. Saya sendiri merasa belum mampu mengulas buku semacam buku kuliah. Hahaha. Skripsi aja baru mau mulai.

Ya, intinya generasi millenial ini generasi kritis. Bisa jadi kita nggak akan baca informasi dari satu sumber saja. Demi menghindari hoax juga, kan?

Yogyakarta, hujan yang mengundang rindu di akhir Februari. 13:23.

Comments

  1. Wah, kalau saya tipe lebih suka ke perpustakaan kak. Dan seringkali, lupa waktu kalau sudah di perpustakaan. Soalnya sinyal wifi lebih kuat di perpustakaan :-)
    Btw, ulasan yang menarik dan tepat. Semangat milenial!
    @ge1212y

    ReplyDelete
  2. Hei MBak, lagi di Yogya ya?
    hepi vacation, semoga betah blusukan di Yogya. Sayangnya kita gak bisa kopdaran ya? Saya lagi diklat di BAndung sampai dengan akhir BUlan Mei.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah, tetep nggak bisa ketemu yaa. Ini saya udah di purwokerto lagi :D
      Next time semoga bisa kopdar yaa :D

      Delete
  3. Sekarang kalau mau kemana-mana mesti google maps dulu, hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)