Thursday, January 26, 2017

Untuk Seseorang yang Hari Ini Memeluk Pikiranku dengan Erat


Dear, Bang.

Surat ini aku tulis dengan banyak keresahan yang tidak tersampaikan secara langsung. Serba-serbi kebingungan yang terus menerus aku rasakan sejak hari itu. Ada beberapa hal yang sesungguhnya ingin aku jelaskan melalui tulisan ini sebab aku tak bisa membicarakan hal ini melalui chat ataupun voice note seperti biasa. Malam ini, aku yakin kamu juga sudah hendak pergi tidur. Tak apa, aku tak ingin menganggu.

Bang, bolehkah aku merasa rindu padamu sementara aku bukan siapa-siapamu? Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini terpikirkan olehku bahwa aku rindu. Mungkin karena we're chatting on whatsapp almost everyday. Walaupun... hampir setiap hari juga aku berusaha menahan diri agar tidak terlalu sering menghubungimu. Memberondongmu dengan cerita-cerita tidak pentingku seputar magang, teman yang menyebalkan, atau hal-hal sepele lainnya seperti aku yang malas makan. Sungguh amat sangat tidak penting, kan? Dan sehari tanpa kita chatting, aku masih bisa tahan. Meskipun kamu benar soal aku yang menunggu pesanmu.

Jujur saja, apa yang membuatku rindu padamu tak pernah bisa aku jelaskan. Aku tidak tahu mengapa setiap kali melihat namamu muncul di grup, aku langsung ingin mengirim pesan padamu. Masa bodoh, aku rindu. Katamu, aku boleh bilang rindu kapanpun aku mau. Tapi sepertinya kamu bakalan bosan kalau aku bilang rindu setiap hari. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa apa-apa kalau sudah melihat responmu yang begitu.

Bang, ada sebuah ketakutan yang sama yang aku rasakan waktu aku suka pada orang lain. Dan itu sama persis. Aku tahu kamu bebas bergaul dengan siapapun, wanita manapun yang mau kamu dekati, Tetapi kenapa setiap hal itu terjadi, aku malah merasa di-PHP-in? Padahal, ya, kembali lagi, aku bukan siapa-siapamu. Jujur, fase semacam ini sudah pernah aku lewati. Kamu bisa baca tulisanku yang ini kalau kamu mau tahu. Dan aku sungguh amat sangat malas jika harus mengulangi fase yang sama. Bagiku, lebih baik aku pergi saja daripada harus menjalani rute yang sudah pernah aku tahu ujungnya.

Aku tidak tahu pikiranmu, juga apa sebab malam itu akhirnya kamu mengatakan hal itu. Apa itu cuma bagian untuk meredakan penasaranku? Atau sekadar membuatku senang kemudian pergi? Aku nggak tahu, ya, Bang. Sungguh. Kalau memang cuma begitu, bilang saja. Biar aku nggak perlu lagi repot-repot berasumsi apapun. Karena semuanya bakal jadi percuma kalau aku sudah menetapkan hati di kamu, tapi kamunya pergi menjauh.

Bang, mungkin aku memang nggak pernah mengerti situasi apa yang kamu hadapi sekarang. Aku mungkin egois karena cuma ingin didengarkan, tapi... banyak hal yang sebenarnya ingin aku tahu soal kamu. Apapun itu. Tapi kamu nggak pernah cerita dan aku jadi ragu kalau sebenarnya kamu memang nggak pernah percaya sama aku. Kalau kamu masih mengungkit soal wartawan itu, aku bisa apa. Sekeras apapun aku menyangkal, kayaknya kamu nggak bakal percaya. Padahal, aku memang sudah jarang membahasnya, bukan karena aku berusaha menutupi apapun darimu. Aku berusaha sebisa mungkin bercerita padamu soal hal-hal itu, semata-mata karena aku percaya padamu. Oh iya, aku lupa, mungkin kamu bosan mendengar ceritaku.

Bang, apa bentuk pedulimu selama ini cuma semata-mata kasihan? Kalau iya, bilang saja. Apa bentuk pedulimu selama ini hanya semata-mata karena aku terlihat membutuhkannya? Bilang saja, Bang. Aku sungguh malas kalau harus merasa cemburu melihatmu bercanda dengan teman perempuan lain. Sebenarnya aku nggak ingin bilang soal ini, tapi aku juga malas kalau harus sakit sendirian. Masa bodoh kalau tulisan ini terlihat seperti tulisan bocah yang nggak masuk akal. Masa bodoh kalau tulisan ini kamu anggap tidak penting. Masa bodoh kalau tulisan ini kamu bilang pelampiasan. Memang! Masa bodoh, Bang. Aku cuma nggak mau "sakit" sendirian, terus tiba-tiba nangis dan nggak tahu harus ngasih tau siapa.

Aku nggak mau hari-hariku kayak gini terus cuma gara-gara mikirin kamu. Apa aku egois kalau aku minta kamu mikirin aku?

Ah, biar aja. Paling juga dicuekin.


Sincerely,
Tiwi.

Kamar kos, masih jam 9 malem dan aku merasa kacau banget.
26 Januari 2017.

NB: Jam berapapun kamu bangun nanti, bales chatku.

10 comments:

  1. Lah aku bacanya kok memeluk pinggang bukan pikiran wkwkw, males makan tapi kadang laperan ya Kak Tiw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marfa, fokus dong wkwk :D
      Btw iya nih, laperan tapi mageran haha

      Delete
  2. Kak tiw, mantap djiwa nih tulisannya. Namanya juga perempuan kak, maunya didengerin tapi susah buat ngedengerin, wajarlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha apanya mantap jiwa nad? Lebih mantap jiwa tulisanmu yang soal memasak laaah wkwk
      Ya, perempuan mah gitu. Makanya aku gak suka sama perempuan wkwk

      Delete
  3. Dek...Abang habis kuota internet..isiin dulu donk ha-ha-ha...

    ReplyDelete
  4. Bacanya bikin baper.
    Sungguh perempuan sekali tulisannya, penuh dengan perasaan dan emosi jiwa.
    Salam kenal yaa :D

    ReplyDelete
  5. duh jangan baper kak. Mungkin si abangnya bukan nggak percaya sama kakak, tapi dia memang type yang tak ingin berbagi cerita hidupnya pada orang lain selain dirinya sendiri. Tapi nggak tau juga sih ya kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Muthi. Mungkin memang benar, karena perihal kisah hidup seseorang nggak harus diceritakan sama orang lain, ya :D Thankyou sudah mampir.

      Delete