Saturday, January 21, 2017

Pertemuan Ketiga Setelah Jeda Panjang

Sumber: www.pinterest.com (dengan sedikit editan)
Dear readers,

Aku yakin setiap orang punya kesan tersendiri mengenai pertemuan pertama. Entah menyenangkan, menyebalkan, atau malah membuatnya jadi kenangan yang panjang hingga saat ini. Aku mungkin bukan orang yang gampang mendapat kesan dari sebuah pertemuan pertama. Aku mudah sekali lupa wajah orang bila hanya bertemu satu kali. Jadi, aku harus bertemu beberapa kali untuk bisa mengingatnya lebih lanjut.

Pertemuan kali ini bukan soal yang pertama, melainkan yang ketiga. Kenapa? Seperti yang aku bilang tadi, pertemuan pertamaku dengan orang ini tidak berkesan apapun. Ya, aku selalu cuek pada orang lain ketika aku sedang suka-sukanya pada satu orang. Hahaha, maafkan aku, Bang.

Satu jam lagi dari deadline untuk tulisan ini dan dia, orang yang ingin kuceritakan di sini, sudah tidur duluan. Setelah sebelumnya mengirimiku pesan untuk tidur.  Aku belum ingin tidur, aku masih mau membicarakannya di sini. Di laman yang biasanya aku gunakan untuk membahas orang-orang. Aku sudah pernah bicara soal dia dalam tulisan ini, namun aku sengaja membahas ulang soal dirinya dan urusannya denganku setelah kami kembali bertemu.

Di pertemuan ketiga setelah jeda enam tahun lamanya.

Aku melempar sebuah pernyataan bahwa aku akan pulang ke Bogor di suatu grup dimana ia juga berada di sana. Tidak ada yang aneh, ia terbiasa bercanda dengan siapapun termasuk aku. Sesekali kami bicara melalui personal chat, membahas apa saja. Pun hari itu, dia dengan suka rela menawarkan jemputan untukku. Ada yang salah? Tentu saja tidak. Aku menerima segala bentuk kebaikan yang dia tawarkan. Aku sungguh rugi kalau menolak kebaikan itu ditambah di hari kepulanganku itu aku akan mampir dulu bertemu teman-teman lama yang juga sudah enam tahun tak kutemui.

Pertemuan itu agaknya membuatku tidak secanggung dulu. Ya, dulu aku masih SMA, masih pemalu walaupun sekarang juga masih jadi gadis pemalu. Dulu aku masih kecintaan banget sama yang  itu, sekarang masanya sudah lewat. Aku tahu aku sudah tidak harus memikirkan orang di masa lalu itu lagi. Aku sudah berada di masa sekarang, menuju masa depan.

Ada satu hal yang ingin aku bagikan. Setelah pertemuan hari itu, dia dan dua temannya kembali menemuiku. Kali ini kami meet up di kotaku, bukan lagi Jakarta seperti waktu itu. Malam tahun baru pun kami habiskan di rumahku, mengobrol banyak hal. Entah, aku senang saja dia tahu rumahku, berkenalan dengan orangtuaku. Meskipun, ya, belum ada apa-apa di antara kami. Walaupun juga, dia sempat berkali-kali kode mau main ke rumahku, entah itu serius atau tidak. Hahaha.

Setelah hari itu, aku kepikiran. Sengaja kubongkar padanya soal tulisanku yang ini. Bertanya macam-macam, termasuk soal perasaan. Aku bertanya, dia balik bertanya. Belibet lah pokoknya, kayak bocah nggak mau ngaku kalo emang suka. Hahaha. Dan malam itu, aku tahu bahwa aku berhadapan dengan orang yang benar, tidak menghindar dan aku tidak takut untuk bertanya menyoal perasaan. Malam itu aku lega, meskipun aku sudah tahu bagaimana dia ke aku, semuanya berjalan sama saja. Dia masih berlaku seperti kakak bagiku, jadi teman ngobrol yang asik, dan jadi tempat laporan kalau aku lagi jenuh. Hahaha.

Satu hal lagi, aku selalu bilang kalau aku mau menikah 2019 atau 2020. Kupikir supaya angkanya lucu. Apa tanggapannya? Tentu saja dia jawab, "Aku udah tua dong kalo tahun segitu?" Hahaha. Biar saja. Sepertinya aku yang kemudaan. Tetapi aku selalu mengembalikan pertanyaan padanya, "Memangnya kenapa? Memangnya salah kalau kamu sudah tua, Bang?" Ya, aku dan dia selisih usia 7 tahun. Entahlah.

Pertemuan tetaplah pertemuan. Setelah jeda enam tahun, Tuhan masih berbaik hati mempertemukan kami lagi. Semga selalu ada jalan terbaik untuk aku dan dia. Entah bagaimana caranya.

Kamar Kos, menjelang tengah malam. Udah bukan malam minggu lagi.
21 Januari 2017.

4 comments:

  1. "Satu hal lagi, aku selalu bilang kalau aku mau menikah 2019 atau 2020. Kupikir supaya angkanya lucu. Apa tanggapannya? Tentu saja dia jawab, "Aku udah tua dong kalo tahun segitu?" Hahaha. Biar saja. Sepertinya aku yang kemudaan. Tetapi aku selalu mengembalikan pertanyaan padanya, "Memangnya kenapa? Memangnya salah kalau kamu sudah tua, Bang?" Ya, aku dan dia selisih usia 7 tahun. Entahlah."

    Bagi pembaca yang jeli, di bagian itu terselip kode-kode akan sebuah ajakan untuk menikah, namun seperti yang sudah-sudah, terkadang candaan yang serius ditanggapi dengan candaan pula. Padahal candaan yang serius terdapat "keinginan dan harapan yang ingin dibenarkan, ingin dikabulkan, ingin diseriuskan." Tapi sayangnya, masih sedikit orang yang mengerti akan sebuah pesan yang terselip dibalik dari sebuah canda X)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjang ya kak komennya. Hahaha. Ya, kalo dibilang kode untuk menikah sih mungkin iya, tapi ya entah. Biar saja waktu yang menjawab :D

      Delete
  2. wah jauh bedanya ya kak, 7 tahun, tapi bukan masalah kok itu haha. Abangnya ngode ngajak nikah itu kak pas paragraph kakak bilang mau nikah di 2019 atau 2020. Semoga ada jalan buat kalian ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Muthi. Jauh ya bedanya wkwk. Hahaha entah deh ngodenya beneran apa engga. Biar aja.
      Aamiin buat doanya ya :)

      Delete