Wednesday, January 18, 2017

Perihal Kriteria Idaman


That's Why I Adore You

Dua ribu tujuh belas. Sendiri. Bahagia. Namun. Lebih. Bahagia. Apabila. Denganmu.

Menjelang tidur di jam 3 dini hari kali ini, saya berusaha mengulang apa yang sebelumnya sempat aku pikirkan: jodoh. Klasik sekali memang kalau saya di usia muda--21 tahun--ini memikirkan jodoh, padahal lulus kuliah saja belum. Ah, memang bukan patokan, tapi itu sebuah prinsip untuk diri saya sendiri. Walaupun, kenyataan dalam Undang-Undang Pernikahan juga menyatakan kalau saya sudah diperbolehkan menikah secara usia. Lalu, apa gerangan yang membuat saya merasa perlu memikirkan jodoh? Satu, regenerasi. Dua, pemenuhan keinginan dicintai dan mencintai.

Pikiran-pikiran mengenai kekasih tentunya pernah membayangi, terutama di saat-saat rentan, seperti menjelang tidur ataupun ketika melihat pasangan kekasih lain lewat di depanku. Keinginan memiliki kekasih juga sempat ada, tetapi hal itu ditepis oleh berbagai hal dalam diri saya sendiri. Pertama soal studi saya. Kedua, saya berasumsi kalau saya ini tipe yang sangat memilih meskipun saya mudah sekali suka kepada orang (lelaki). Merujuk pada asumsi dasar saya, tentunya saya punya kriteria untuk seorang kekasih, tetapi definisi kekasih di sini akan saya arahkan pada kekasih seumur hidup saya (insya allah), yaitu suami saya nantinya.

Ada sebuah kalimat yang mengatakan kalau jodoh adalah cerminan diri kita sendiri.

Percayalah, beberapa kali dalam kehidupan ini, saya menemukan orang yang saya anggap cocok dengan pribadi saya, meskipun kenyataannya belum tentu berjodoh. Melihat hal itu, saya mungkin hanya bisa mengagumi, kemudian berdoa diam-diam supaya dia jadi jodoh saya saja, bukan jodoh yang lain. Kriteria yang saya cantumkan disini tidak serta-merta jadi keharusan, tetapi ini bentuk refleksi dari keinginan saya dan saya ingin suami saya nanti sesuai kriteria saya. Namun, kembali pada kuasa Tuhan yang sudah menyiapkan jodoh sesuai cerminan diri saya.

1. Penyayang
Bicara soal "baik" mungkin sudah klise karena setiap orang bisa saya sebut baik. Orang tidak dikenal yang memberi tahu saya soal kunci motor yang masih nyantol di motornya saja itu sudah termasuk orang baik. Atau orang yang memberitahu saya agar minggir dengan klaksonnya juga bisa saya sebut baik. So, itulah mengapa saya menyebutkan "penyayang" sebagai salah satu kriteria. Sebab, bagi saya orang baik belum tentu penyayang, tapi orang penyayang sudah pasti baik.

Kepada siapa lelaki ini harus jadi penyayang? Tentu kepada keluarganya, keluarga saya, dan saya pastinya. Asal jangan sayang dengan perempuan lain saja. Nah, kamu sudah merasa jadi orang yang penyayang belum? Iya, kamu.

2. Rajin Ibadah
Saya beragama Islam, tentu saya ingin punya suami yang seagama  dengan saya. Saya percaya ketika seorang lelaki rajin ibadah, artinya dia ingat dengan Tuhan, dan dengan kata lain dengan mengerti kewajiban apa yang harus dia lakukan sebagai kepala rumah tangga. Alasan lainnya, saya mau lelaki ini bisa membimbing saya untuk lebih memahami agama, namun tidak pula terpisah dengan hal-hal di dunia. Ya, seimbanglah. Perencanaan kehidupan akhirat tentu tidak saya pungkiri, tetapi kembali pada pernyataan bahwa kita juga hidup di dunia.

3. Punya visi dan pemikiran jangka panjang
Adalah sebuah dasar untuk menjadikan hubungan romantis menjadi terarah. Dan saya meyakini kalau seorang lelaki yang punya visi ke depan mampu membawa saya untuk berjalan beriringan ke arah masa depan yang lebih baik. Tetapi dia tidak harus berambisi untuk melakukan itu, saya dan dia masih bisa merencanakan segala visi tersebut dengan santai tapi terarah.

Intinya, seseorang ini bersedia menjalani hidupnya bersama saya hingga akhir hayat dalam ikatan pernikahan.

4. Mendukung saya sepenuhnya
Apapun yang saya lakukan hari ini, hari kemarin, dan hari ke depan adalah kehidupan saya. Mungkin, setelah lelaki itu masuk ke kehidupan saya, dia sedikit banyak akan mengintervensi hidup saya juga. Namun, penekanan saya disini adalah bahwa dia akan senantiasa mendukung saya apa adanya. Sebab, saya punya kebiasaan yang mungkin aneh bagi orang lain, yaitu ketika saya sedang tidak ingin apa-apa, saya bukan orang yang bisa dibujuk apalagi dipaksa. Saya berharap, dia bisa memaklumi hal ini.

5. Seseorang yang lahir lebih dulu dari saya.
Untuk poin ini, saya masih yakin kalau orang yang lahir lebih dulu (red: lebih tua) bisa lebih "ngemong" dan

6. Semoga itu kamu.
Ada banyak hal di luar 5 poin di atas yang sesungguhnya ingin saya jadikan kriteria kekasih idaman, tetapi kembali lagi pada kehendak Allah yang mau memberi saya jodoh seperti apa. Semoga sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Hahaha.

Karang Nangka, jam makan siang.
18 Januari 2017.

12 comments:

  1. Lalu, apa gerangan yang membuat saya merasa perlu memikirkan jodoh? Satu, regenerasi. Dua, pemenuhan keinginan dicintai dan mencintai. Tak terbedakan sebenarnya.

    ReplyDelete
  2. Lagi ngomongin saya, mbak? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masnya sesuai sama kriteria yang saya sebut di atas? Hehehe

      Delete
  3. Aamiiin, semoga terkabul jodoh yang diinginkan yaa :)

    ReplyDelete
  4. "Pertama soal studi saya. Kedua, saya berasumsi kalau saya ini tipe yang sangat memilih meskipun saya mudah sekali suka kepada orang (lelaki). Merujuk pada asumsi dasar saya, tentunya saya punya kriteria untuk seorang kekasih.."

    Entah kenapa gue bacanya berasa baca jurnal ya? :p
    Anyway gue doakan semoga terkabul wi. (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha terlalu formal ya, Jar? Itu gara-gara abis rapat bahas asumsi dan landasan organisasi. Wkwk
      Aamiin. Makasih jaaar. Semoga lo juga yaaa :D

      Delete
  5. Wah mantab kalimatnya "Bisa membimbing saya dalam hal agama, tp tidak melupakan dunia, yg seimbanglah" :-) Semoga Kamu dapatkan yg seperti itu.

    ReplyDelete