Thursday, January 26, 2017

Orang Itu Butuh Karya Hebat, Bukan Galau!

Sumber: google.com (dengan sedikit editan)
Di suatu hari di masa lalu, ada seseorang yang pernah mengatakan pada saya begini, "Orang itu butuh karya hebat, bukan galau."

Sejak kemunculannya di hari pertama musim hujan 2010, saya tahu bahwa keadaan tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Akan ada yang datang, baik dengan niat yang tulus ingin berteman atau malah ingin merusak segalanya. Saya menyadari bahwa dia tidak sesederhana itu masuk di kehidupan saya. Dia... seseorang yang punya dua efek untuk saya: membangun sekaligus menjatuhkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Saya cukup paham sekarang mengenai apa yang terjadi pada masa itu. Hanya saja, dulu saya terlalu terlena pada suasana hujan yang selalu romantis.

Menyatu dengan bisunya suasana, ia seakan-akan tampil dengan lapisan keceriaan lain yang membuatku sungguh ingin mengabadikannya. Hujan ataupun tidak, aku berniat mempuisikannya.

Kedatangannya di antara masa muda yang labil melewatiku begitu saja. Bertumpu pada dirinya, aku merangkai banyak sekali aksara yang diam-diam selalu kuselipkan doa di dalamnya. Perihal mengenang dan membuatnya abadi adalah tugasku. Hingga yang abadi bukan hanya dalam ingatan, tapi tercetak dalam lembar kertas yang nyata. Aku bangga sekaligus galau. Dia tidak sebaik yang aku kira.

Pertemuan saya dengan dia adalah takdir Tuhan. Sebuah garis yang bersinggungan tepat di tahun itu. Sedang saya, tak bisa menolak apapun yang terjadi. Setiap hari, ketika galau itu berujung pada rintik gerimis di luar gedung sekolah, selalu ada bait-bait yang merekah. Setiap hari, tanpa terkecuali. Sampai kemudian dia terlihat bosan dan mengatakan hal tersebut.

Puisi bukan sebuah hal yang mudah, bagi saya. Dia harus punya rasa di dalamnya, termasuk galau itu sendiri.

Hari ke sekian ketika saya sudah tidak lagi sesering itu bertatap dengannya. Saya tahu bahwa puisi dan mempuisikan sesuatu adalah bagian dari hidup saya. Efek galau yang jelas menghasilkan sesuatu. Saya berhasil. Berdiri di depan lapangan sekolah dengan menyerahkan piala hasil perlombaan di depan matanya. Saya tahu, saya sudah membuktikannya. Jelas, dia tidak bisa lagi meremehkan saya. Dia harus tahu, hari itu saya bangga akan diri saya sendiri. Pun dengan sekolah.

Saya cuma ingin bicara pada siapapun soal hal ini. Apa yang kemarin saya lakukan adalah sebuah bentuk pelampiasan dari rasa galau. Kalau bait-bait itu menguar dan dibiarkan tidak ditangkap, maka ia akan cuma jadi sampah. Tetapi, saya berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya jadi berguna, terutama untuk diri saya sendiri. Semoga kamu mengerti.

Kamar kos, siang hari yang mendung.
26 Januari 2017.

6 comments: