Mengenai Kesepianmu


Untuk Tiwi, yang akhir-akhir ini sering merasa kesepian.

Halo, akhirnya aku dibiarkan lagi menulis di sini. Apa kabar, kamu? Semoga selalu bahagia dengan hidupmu sekarang, meskipun aku tahu kesepian sering menguasaimu lebih dari apapun. Aku juga tahu seperti apa sepinya kosanmu hari ini. Bersisa mahasiswa tingkat akhir yang sibuk dengan skripsinya masing-masing. Akan ada waktunya kamu sibuk dengan skripsimu nanti. Sebentar lagi dan segera.

Aku tahu kok, otakmu sudah mulai dibayangi kelulusan. Apalagi sudah banyak teman angkatanmu yang seminar proposal. Tekanan itu sungguh terasa sekali, ya, Wi? Bahkan untuk kamu yang tadinya bersikap seolah-olah semua akan bahagia pada waktunya. Tapi, bahagia itu harus diciptakan. Bahagia itu harus dibangun oleh dirimu sendiri. Orang lain tidak bisa menyamakan kadar bahagianya dengan bahagiamu. Kalau hanya dengan duduk du Tower di Kalipagu sana bisa membuatmu bahagia, lakukanlah. Jangan pula membuat dirimu seolah-olah harus merasakan kebahagiaan yang sama seperti orang lain. Jangan. Kamu punya caramu sendiri.

Wi, aku tahu betapa kesalnya kamu menghadapi perkataan orang-orang mengenai statusmu. Tidak salah memang bergaul dengan banyak teman laki-laki, apalagi sekre mapalamu itu isinya lebih banyak laki-laki dan aku juga amat sangat tahu batas kenyamananmu dengan mereka. Orang-orang itu tidak tahu kamu, tetapi mereka melihat kamu, Wi. Melihat apa yang kamu posting. Beberapa dari mereka pasti mengira bahwa kamu tipe perempuan yang "gampang nempel sana sini". Jahat memang kedengarannya, tapi itulah yang terlihat di permukaan. Mereka hanya tahu itu. Jadi, mereka juga tidak salah kalau menganggapmu begitu karena kamu tidak menjelaskan apapun pada mereka. Mereka hanya menyimpulkan. Lalu apa? Menurutku, kamu tidak perlu lagi memposting hal-hal semacam itu. Tidak penting dan ini demi kebaikanmu.

Sepi sepertinya membuatmu depresi, ya? Jangan buru-buru menyimpulkan kamu kenapa. Kamu hanya butuh sedikit hiburan dari efek stres yang selama ini terkurung di kepalamu. Ya, kupikir kamu sudah sedikit aneh ketika mulai membayangkan hal-hal semacam itu. Aku cuma takut kalau tiba-tiba kamu benar-benar melukai dirimu seperti yang ada di pikiranmu itu. Sadarkan dirimu, kalau sudah begitu kamu bisa langsung lari ke sekre, yang penting kamu jangan sendirian. Ajak siapapun pergi, jangan sendirian. Jangan. Kadang kamu bisa berubah jadi aneh kalau sendirian. Jangan biarkan kamu kesepian. Terlalu rawan buat dirimu sendiri.

Aku sudah dengar pula kabar soal kekasih sahabatmu itu. Susah memang berada di posisi semacam itu. Kamu tidak bisa mengatakan kalau dia itu milikmu, selama apapun usia pertemananmu. Tidak bisa, Wi. Kamu hanya perlu berterus terang pada dia dan kekasihnya bahwa hubunganmu dan dia memang sebatas pertemanan. Terlebih lagi kamu harus benar-benar membatasi porsimu dalam hubungan mereka. Tidak usah kepo. Tidak usah ikut campur. Seperti yang dia bilang kalau kamu tidak ada kaitan apapun dalam hubungan mereka. Intinya biarkan saja mereka. Jangan ngurusin urusan orang.

Terakhir soal kesepianmu yang berdampak kamu membutuhkan orang lain. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan biarkan egomu bikin kamu jadi orang paling jahat sedunia. Contoh sederhananya adalah jangan php ke orang. Apalagi demi kepentinganmu sendiri. Kamu aja nggak suka diphp-in, orang lain juga. So, kalau kamu beneran suka dan sayang sama orang, jangan dateng pas kamu kesepian aja, tapi jangan juga dateng setiap hari. Sewaktu-waktu bolehlah.

Sudahlah, aku kok jadi ngomentarin hidupmu. Ya, semoga tulisan ini bisa bikin kamu sadar kalau hidupmu itu kamu yang menentukan. Jangan takut salah, jangan takut kalah. Semangat!

With love,
Another me.

Kamar Kosmu, pegel.
26 Januari 2017.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)