Thursday, January 5, 2017

Januari dan Sepotong Rindu yang Lain


Sebab rindu adalah awal dari pesakitan yang nyata.

Purwokerto masih sering hujan setiap jam 2 siang. Berbeda dengan rumahku yang selalu terik matahari setiap saat. Aroma hujan kota ini masih sama: dingin, tetapi menyenangkan. Pada hujan yang datang, aku selalu bergeming. Apa yang bisa aku katakan pada seseorang di sana itu ketika ia bertanya, "Kamu bahagianya gimana?". Kujawab dengan cuplikan tawa dan mengatakan bahwa aku bahagia ketika melihat hujan.

Meredam rindu itu sulit. Tidak tahu kenapa, rasanya nyeri setiap kali rindu itu datang. Termasuk rindu pada orang ini. Aku tahu, tidak mudah bicara padaku soal perasaan. Apalagi dia tahu segala bentuk kekecewaan, kemarahan, dan kerinduanku pada orang lain selain dia. Menikmati betapa proses jatuh dan patah hati itu sekian lama. Aku tidak tahu bagaimana dia (dan pikirannya). Aku tidak tahu bagaimana dia merespon segala bentuk ocehanku yang mungkin mengganggu. Aku tidak tahu dan tidak pernah mau tahu.

Pertemuan dua kali di enam tahun lalu membawaku kembali bertemu dengannya akhir tahun lalu. Aku tidak merasa apa-apa, semua berjalan biasa, terlampau biasa karena aku (dan dia) tahu kalau aku masih menyimpan kenang dengan seseorang lain. Tetapi, dia ada di sana, datang di waktu yang teramat cepat sebelum keretaku sampai di stasiun. Dia ada di sana, menjemputku dengan santai, tanpa aku minta.
---

Dear, Bang. Ada yang ingin aku sampaikan sejak hari itu. Sejak kamu ada di deretan driver grab di stasiun. Aku tidak tahu harus bilang bagaimana. Terima kasih yang teramat sangat karena kamu bersedia bangun pagi demi menjemput aku, demi menemani aku bertemu teman-teman yang lain. Pagi itu sesungguhnya aku merasa lapang ketika aku tahu ada seseorang yang bisa aku andalkan. Aku lega, melihatmu menawarkan bantuan, sehingga aku tidak harus luntang-lantung di ibu kota.

Perihal percakapan, aku memang tak banyak bicara hari itu. Kalau fokusku selalu pada ponsel, itu karena aku terlalu bingung untuk bicara. Apa yang akan kita bicarakan kalau aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan padamu? Membahas soal gebetanku jelas tidak mungkin, mantan apalagi, sudah malas aku membahasnya. Bertanya soal pribadimu, jelas aku tidak berani. Bagiku, kamu masih sangat misterius dan aku tidak berani masuk terlalu jauh.

Ketakutanku hari itu masih sama: takut kalau kamu tiba-tiba bicara soal perasaan. Aku jelas belum siap menerima segala bentuk perasaan. Aku takut. Iya, takut yang seperti dalam tulisan ini yang aku maksud. Sampai benar-benar aku tahu, kita harus membahas ini supaya semua tuntas sampai jelas. Kurasa aku dan kamu memang selalu sengaja menghindar dari topik semacam ini, walaupun jelas kita sama-sama tahu apa keadaan yang sesungguhnya.

Hei, Bang. Bicara denganmu selalu menyenangkan, tapi aku malu ketika aku bisa-bisanya dengan egois bertingkah seperti anak kecil. Kembali, aku merasa tertohok dengan kalimatmu lagi, "Coba pikirkan dan tanya hati kamu dulu. Apakah ini perasaan sesaat atau bagaimana...". Mendadak nyeri itu datang dan aku hampir menangis. Cengeng, ya? Tapi kamu benar, aku harus berpikir dulu, bertanya dulu, merenung dulu. Apa yang sebenarnya aku mau, meskipun aku juga tidak tahu apa yang aku mau.

Sesulit inikah ketika bicara soal perasaan?

Sampai perasaan itu tiba, aku tidak tahu mau bagaimana. Aku cuma mau tetap ngobrol sama kamu. Kalau kata orang, "Memupuk rindu itu perlu, salah satunya dengan tidak berkomunikasi dulu," terus kalau aku rindunya tiap hari bagaimana? Atau mungkin saja benar begitu adanya karena hidup masing-masing, rindu juga milik masing-masing, kecuali kamu mau menampung rindu dari bocah ini banyak-banyak.

Kamar Kos, menjelang maghrib.
5 Januari 2017.

No comments:

Post a Comment