Saturday, January 14, 2017

Gadis yang Termenung di Balik Jendela

Sumber: shutterstock.com (dengan editan)
Aku tidak berniat melupakannya. Sosok gadis yang selalu membuatku tidak bisa tidur di malam hari itu. Keputusannya pergi memang diyakininya baik. Dia tak pernah bicara apapun padaku soal hal ini. Dia pergi dengan keinginannya sendiri, serta aku yang tak mampu membela diri.

Subuh menjelang pagi aku sudah terjaga kembali, setelah hanya terlelap dua jam saja. Hampir setiap hari dan hal itu membuatku muak, tak bergairah untuk pergi bekerja. Aku terbangun dan bergeming sejenak. Hari-hariku sudah lain setelah gadis itu pergi. Ah, apakah hidup harus semunafik ini? Aku tidak bisa tidak memikirkannya.

Persetan dengan gadis itu. Hidupku harus terus berjalan.

Kujerang air untuk menyeduh kopi. Aku butuh cairan hitam pekat itu untuk mengembalikan kesadaranku pagi ini. Masa bodoh kalau lambungku ikut sadar kalau ia belum diberi asupan pagi. Aku tak punya waktu, nanti saja di jalan.

Setelah rapi, aku mengunci pintu kamar kontrakanku. Berjalan menuju ujung gang dan berhenti di salah satu lapak nasi uduk. Kubilang pada ibu penjual bahwa aku hanya ingin membeli beberapa potong gorengan untuk mengganjal perutku. Tatapku beralih pada rumah ibu penjual. Sederhana. Kemudian mataku tertumbuk pada sosok gadis di balik jendela. Kekosongan itu menguar dari matanya.
---

"Terima kasih pernah menjadi yang terbaik untukku," ucap kekasihku pada  malam tahun pertama kami. Aku tersenyum mendapati binar-binar itu masih di matanya.

Seakan-akan waktu berhenti di sana. Klasik. Tapi keadaan semacam itulah yang aku ingin. Aku tidak mau beranjak kemanapun, aku ingin dia tetap ada di hadapanku. Menghabiskan malam-malam panjang dengan mendengar celotehnya. Membuat daftar kenangan baru dan membahas memori yang pernah kami lakukan bersama. Aku ingin dia di sana, tanpa harus kemana-mana.
---

Gadis itu menyedot perhatianku hingga aku sampai ke kantor. Gorengan yang kubeli dari ibunya hanya kusentuh satu. Aku tidak berminat lagi untuk makan bahkan memberi jatah bagi cacing-cacing di perutku. Gadis itu... seperti familiar di mataku.

Aku terduduk di kursiku. Menatap tumpukan brosur yang harus aku bawa hari ini. Tetapi lagi-lagi aku tidak berniat untuk ke luar kantor dan mendatangi satu per satu rumah yang biasa kudatangi. Bosan? Tidak. Hanya ingin sedikit santai.

"Oh, man! Lu udah seminggu nggak keliling. Gantian dong, gue lagi pengen ngadem di kantor." Kutatap Reno yang duduk di sebelahku. Baiklah, demi pertemanan kami dan demi agar aku tidak dipecat.

Aku membereskan brosur-brosur itu serta berkas alamat yang harus kudatangi. Sialnya, di luar sedang terik-teriknya. Pintar sekali Reno memintaku untuk bergantian keliling hari ini. Apakah neraka sedang bocor?
---

Pada suatu rumah yang mewah, aku terhenti di antara kesibukan yang nyata. Rumah itu kosong.

Lingkaran kuning panas di langit sana tampaknya makin terik saja. Kuhentikan motorku di sebuah lapak es kelapa untuk sekadar menghilangkan haus yang sejak tadi mendera. Biasanya aku akan dapat minum gratis kalau presentasiku berhasil di rumah-rumah mewah semacam ini.

Kutatap kembali rumah mewah itu sambil menyedot segelas es kelapa yang rasanya berasal dari surga. Kupesan sekaligus sepiring ketoprak di lapak sebelahnya untuk memberi asupan lambungku. Tiba-tiba aku ingat kalau plastik berisi gorengan tadi pagi masih tertinggal di meja kerja. Aku yakin, pasti sekarang plastik itu sudah ada di keranjang sampah. Tandas.

"Rumah ini memang seringnya kosong, Mas." Tiba-tiba saja si penjual ketoprak menyadari tatapanku. Aku menoleh ke arahnya. Mengharap jawaban lebih lanjut. Tetapi si penjual diam dan sibuk melayani pembeli lainnya.

Pikiranku kembali pada si gadis yang ada di balik jendela. Kenapa aku masih merasa kalau aku pernah bertemu dia sih? Rasanya aku baru sekali melihatnya.
---

Rasa penasaranku ternyata belum berhenti. Penyebab aku kehilangan nikmat tidur di bawah tengah malam sekarang bertambah, mantanku dan gadis di jendela itu. Gila, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa tiba-tiba memikirkan gadis itu?

Hampir setiap pagi aku menyambangi lapak ibu penjual nasi uduk. Sesekali aku sengaja untuk duduk dan makan di sana. Aku tidak berani bertanya pada si ibu karena mendengar dari beberapa tetangganya, gadis yang kulihat di balik jendela itu adalah anaknya. Gadis itu memang setiap hari berada di sana.

Kutatap lagi jendela itu dengan wajahnya yang semakin hari semakin kuyu. Seakan-akan sedang memenjarakan duka yang teramat. Menangisi setiap jengkal memori yang tersemat. Ia... sekarat.
---

Waktu tidak pernah kembali, pun diriku yang dulu.

Jari-jariku  yang bergerak lincah seketika terhenti di lini masa. Sebuah foto sepasang kekasih membuatku tersentak. Orang ini... siapa? Kekasih barunyakah? Tetapi otakku tiba-tiba teringat pada gadis yang wajahnya ada di balik jendela.  De javu macam apa yang sedang aku alami sekarang?

"Ren, gue hari ini nggak keliling dulu ya. Hari ini nggak panas-panas banget kok. Jadi, lo gak perlu takut kepanasan," ucapku pada Reno. Sebelum ia sempat memprotes, aku sudah pergi ke pantry untuk membuat secangkir kopi.

Ketidaktahuan membuatku tidak ingin berlama-lama berkubang di dalamnya.

Berkas alamat rumah mewah itu masih rapi di mejaku, lengkap dengan nama pemiliknya. Aku ketik nama itu di mesin pencari, dan kutemukan sebuah jawaban dari rangkaian rasa penasaranku. Lelaki itu memang kekasih barunya mantan kekasihku.

Dan gadis itu... tepat sekali! Gadis itu pernah kulihat di jendela rumahnya di lantai dua. Mata kuyunya masih tergambar jelas di sana. Aku melihatnya ketika melewati rumah itu.

Aku teringat percakapan ibu-ibu di sekitar kontrakanku. "Lelaki macam apa yang tega menghamili anak gadis orang, dijanjikan menikah pula, tetapi malah ditinggal begitu saja pas nemu yang baru. Gila!"

Semua kejelasan bergantung pada waktu.

Kepulanganku menjelang maghrib dihiasi senja yang muram. Duka yang kelam tersebar di seluruh semesta alam. Aku tercekat, berhenti di depan rumahnya. Gadis yang wajahnya berada di balik jendela itu kini sudah menjadi mayat. Menyisakan luka yang dahsyat. Kemudian aku teringat Ditha, mantan kekasihku yang memiliki kekasih baru. Detik itu juga aku berlari secepat kilat ke rumahnya serta berdoa agar ia selamat.[]

Kamar kos, pagi menjelang siang.
12 Januari 2017.

4 comments: