Perihal Waktu Yang Terbuang

Sumber: freepik.com (dengan sedikit perubahan)
Warning! Tulisan ini nampaknya hanya akan berisi keluh kesah, curhat, dan sebagian keresahan saya soal waktu. Panjangnya mungkin akan membuat kalian semua bosan, tetapi silakan kalau mau dibaca sampai selesai. Semoga bisa mengambil hikmahnya.

Sejak bangku SD bahkan Taman Kanak-Kanak, saya sudah diajarkan bagaimana caranya menghargai waktu: tepat waktu salah satunya. Pukul 7 pagi saya harus sudah berada di sekolah, jika terlambat sedikit saja maka hukuman akan menanti saya. Pun dengan perintah agama untuk melaksanakan solat 5 waktu. Pernah saya dengar nasihat bahwa solat itu harus disegerakan jika sudah waktunya. Lihat, waktu lagi-lagi bermain dalam hidup kita.

Memasuki SMP, waktu masuk sekolah lebih ketat lagi. Pukul 7 pagi gerbang sudah ditutup, itu artinya saya tidak boleh masuk ke kelas untuk mendapatkan ilmu. Lihat bagaimana berharganya waktu? Masa SMA pun sama, setelah gerbang ditutup, semua siswa yang terlambat disuruh pulang kembali ke rumah. Ya, siapa suruh dia telat datang ke sekolah. Tidak peduli alasan apapun. Terlambat tetaplah terlambat. Waktu tidak boleh terbuang sia-sia begitu saja.

Sumber: freepik.com (dengan sedikit perubahan)

Kalau ada yang bilang waktu adalah uang, mungkin saja benar. Saya mengaitkannya dengan perihal pekerjaan. Bagaimana waktu kita ditukar oleh rupiah. Namun, tidak banyak yang mengerti betapa waktu yang terbuang sia-sia adalah sebuah kejahatan paling kejam menurut saya. Saya sungguh seringkali merasa menyesal kenapa tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin di masa lalu. Kalau saja waktu 24 jam dalam sehari milik saya bisa digunakan secara produktif, mungkin saya bisa menghasilkan banyak hal.

Be on time is a must.

Sebagaimana waktu yang saya punya adalah sebuah harta yang tak ternilai, maka saya akan sangat menghargai ketepatan waktu. Mungkin ini sebabnya kenapa para dosen dan pimpinan perusahaan seringkali mematok deadline untuk sebuah pekerjaan. Deadline adalah harga mati. Tidak ada tawar-menawar. Sekali kamu melewati batas itu, maka hilanglah semua yang kamu punya (ex: pekerjaanmu).

Saya bahkan mau curhat soal ospek yang pernah saya alami. Bagaimana panitia ospek bersusah payah membuat jadwal agar mahasiswa baru datang tepat pada waktunya. Memangnya kenapa kalau kita datang telat? Pertama, jelas kami, mahasiswa baru dan panitia, akan mendapat hukuman. Kedua, kalian sungguh dianggap menghancurkan rundown acara.

Sumber: freepik.com (dengan sedikit perubahan)

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Jawabannya jelas, keterlambatan satu orang atau beberapa orang, dapat menghambat yang lainnya. Misal, acara mulai jam 6, tetapi satu panitia belum datang, acara jadi mundur beberapa menit. Hal ini layaknya efek papan domino; ulah satu orang, berakibat ke semuanya.

Jam karet has already existed in ourselves.

Hahaha!
Maaf, saya ingin tertawa dulu sejenak melihat kebodohan kita hari ini. Kemana rasa penghargaan kita terhadap waktu? Kemana? Pergi bersama angin, ya? Saya kini tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa kepastian. Saya kini tahu rasanya menunggu orang yang dengan mudahnya mengatakan, "Nanti paling yang lain juga ngaret." Duh, sakit hati sekali saya mendengar itu.

Saya mungkin bukan tipe orang yang on time setiap waktu, saya fleksibel dan cenderung melihat situasi. Saya lebih suka datang lebih awal ke kelas, dibanding "Kabarin ya kalau ada dosen,". Meskipun saya pernah melakukannya karena mendapat info yang tidak pasti. Hahaha.

Begini, gaes, kenapa sih kita semua sangat suka datang terlambat? Disengaja pula! Tahu nggak gimana sebelnya orang yang nungguin? Tahu nggak gimana betenya orang lain yang merasa waktunya sia-sia buat nunggu itu? Halo, plis, sadar diri. (Saya juga pernah begini makanya saya tahu).

Perihal waktu ini sebenarnya gampang-gampang susah, simpel, tapi krusial. Mengutip statusnya Desi Wulandari, "Kenapa mereka lebih memilih buat berangkat jam 19.15 ketimbang jam 18.45, ketika ada janji untuk ketemuan jam 19.00. kenapa mereka selalu mikir, 'ah paling yang lain juga ngaret.'" Halo, hidup gue nggak cuma nungguin elo doang kali!

Lagi-lagi saya dibuat geregetan soal permasalahan waktu. Kenapa kebanyakan orang bisa datang on time ketika mereka masuk ke dunia kerja? Alasannya simpel, "Nanti gajinya dipotong kalo telat". Iya, saya juga kalau telat datang ke tempat kerja pasti dipotong gajinya karena merugikan orang lain. Makanya saya berusaha on time. Tetapi, apakah karena uang? Nggak juga sebenarnya. Lalu, kenapa orang-orang sekarang susah banget buat on time? Jawabannya, "Sudah menjadi budaya sih jam karet itu."

Budaya?

Jam karet itu budaya?

Budaya dari mana?

GILA!

Kalau jam karet itu jadi budaya, matilah kita karena selalu menunggu.

Begini, ya, pembacaku yang ganteng dan cantik. Waktu ini nggak bisa berulang lho, jangan sampai penyesalan datang berkali-kali karena kita nggak bisa tepat waktu. Kalau kita datang terlambat, sebaiknya meminta maaf karena kamu sudah menyia-nyiakan waktu orang lain, baik sengaja maupun engga. Bukannya malah melenggang dengan santai seperti tak punya dosa apa-apa.

Dan juga jangan menyalahkan orang yang datang tepat waktu kalau kita terlambat. Kita yang salah kok, percaya deh. Jelas orang yang datang tepat waktu itu bakalan bete, marah, baper sekalipun karena mereka merasa apa yang sudah mereka rencanakan dengan waktunya jadi berantakan gara-gara nungguin kamu. Iya, kamu yang datang terlambat tapi malah ngatain baper!

Sumber: freepik.com (dengan sedikit pengubahan

Sungguh, sebisa mungkin kita memang harus disiplin sama waktu. Datanglah 5 atau 10 menit sebelum jam yang dijanjikan, supaya semua pertemuan bisa mulai tepat waktu dan nggak harus nunggu. Percaya deh, nunggu itu capek. :(

Kalau sudah bisa disiplin buat tepat waktu, tularkan ke orang lain. Kalau orang lain malah menganggap kamu terlalu disiplin, biar saja. Biar dia terkena azabnya nanti menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung datang. Hahaha *evil laugh*. Intinya mah, tepat waktu itu nggak ada ruginya buat kita. Semoga kita selalu menjadi orang yang menghargai waktu yaa!

Segini aja keluh kesah saya soal waktu, semoga bisa diambil hikmahnya. Makasih yang udah mau baca sampe abis. Sampe kesel saya ilang. Hahaha. See you next time.

Kamar kos, di tengah meriang dan kesel.
20 November 2016. 22:53.

Comments

  1. aku termasuk orang yang strict banget sama waktu.. tapi orang2 rumah dan keluargaku itu selow abis, dan aku dijulukin sii 'riweuh' sama mereka haha :D

    salam kenal,
    http://www.fujichan.net/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha emang suka gitu. Coba giniin, "biarin riweuh yang penting disiplin" hehe

      Delete
  2. renungan banget buat ane yang lagi nempuh semester akhir, kadang suka mikir, 4 tahun ini udah ngapain aja ya, kayaknya kebanyakan waktu yg kebuang.
    eh malah curhat -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sama! Saya juga lagi mikir kayak gitu. Mahasiswa semester akhir emang gini ya? Hm.

      Delete
  3. nah kita bangsa indonesia banyak yg gak disiplin waktu padahal di islam sangat jelas tenatng displin waktu, misal kita puasa namanya buka sdh ada waktunya, imsak dsb, kita gak bisa melanggar tapi anehnya kalau hal yang bukan menyangkut yg berhubungan dg agam susah sekali untuk displin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak. Bener banget. Tetapi nggak cuma itu. kadang soal agama juga seringkali nggak disiplin. Kesel kan ya kalo liat orang nggak tepat waktu :(

      Delete
  4. Budaya ngaret itu iya yang sedih banget :')))

    ReplyDelete
  5. boleh boleh opininya, gak curhat kok ^^

    ReplyDelete
  6. great tips! bermanfaat sekali dan menginspirasi!

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah aku paling ndak suka ngaret, rasanya gak tenang aja kalo dateng telat. Huhuhu. Nice words, mbaknyaaa.

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)