Monday, October 10, 2016

Telepon Dari Jauh dan Sebuah Tanggung Jawab


Minggu malam yang sepi dan dingin. Perutku sudah kenyang oleh roti bakar isi keju yang kubuat sendiri dengan memanggangnya di wajan. Inginku lekas tidur karena barusan Bapak sms menyuruhku untuk segera tidur, padahal beliau baru saja membuatku ingin pulang dan mencicipi rendang yang katanya sedang dimasak adikku. Rendang di rumah rasanya enak, beda dengan yang ada di warung Padang, berapapun harganya. Ya, aku akan segera tidur setelah menyelesaikan tulisan ini.

Berawal dari percakapan di kolom pesan instagram Rabu kemarin (5/10). Seorang kakak yang kini berada di asrama dan sedang belajar menjadi seorang pilot bertanya tiba-tiba, "Tiw, kok aku enggak bisa copy foto dari ig-mu, ya?". Aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, "Foto yang mana?" Dijawabnya dengan sebuah pernyataan yang membuatku harus melihat kolom notifikasi. Foto itu foto lama, foto kemping terakhirku bersamanya sebelum akhirnya dia berangkat ke asrama. Itu Mas Azis, yang pernah aku ceritakan dulu sekali di postingan ini.

Kangen Masnya.
Rindu itu ternyata tak bisa dipungkiri, bisa dibilang aku cukup kangen pada kakakku yang satu itu. Sejak mengenal dia, aku tahu bahwa dia tidak seserius seperti ketika dia ada di dalam forum kepanitiaan. Dia lebih luwes dan friendly. Malam itu, aku sedang berada dalam sebuah rapat KMPA ketika ia tiba-tiba menelepon melalui LINE. Sebuah percakapan panjang pun dimulai; tentang sebuah kegiatan dan tanggung jawabku di dalamnya.

Percakapan itu tentunya membuat aku sadar bahwa peranku di dalam kepanitiaan itu cukup penting. Humas dan P3K. Bicara soal diksar, soal tanggung jawabku untuk merencanakan survei jalur rasanya tak bisa kulakukan sendiri, meskipun ada teman-teman lain yang siap membantu.

"Kamu, kan, jatuhnya paling tua di sana. Emang saatnya buat kamu dan angkatanmu gimana mengkreativitaskan."

Kalimat itu seakan membuatku berpikir ulang, posisiku sekarang memang berada di tingkat paling krusial di ruang itu. Aku sudah tidak boleh lagi ogah-ogahan, moody, dan menghilang seperti dulu. Rasanya menyesakkan sekaligus terharu ketika seseorang yang dulu memberimu materi diksar di ruang itu, sekarang ia menelepon untuk menanyakan kabar "rumah"nya dan keberlanjutan semua kegiatan. Padahal, aku sendiri tidak begitu tahu banyak soal apa yang ia tanyakan malam itu. Menjawab sekenanya membuatku lebih sesak lagi karena selama ini aku tidak memanfaatkan ruang dengan baik seperti yang ia sarankan padaku.

Mengingat hal itu aku kembali membaca ulang tulisanku yang berjudul Surat Untuk Lusi. Tidak ada yang lebih kusesali bahwa sampai saat ini aku masih sering melakukan hal yang sama. Aku cepat sekali bosan, dan berubah jadi yang menyebalkan. Aku merasa kesal setiap kali ada yang salah dalam kegiatan kami, tapi tak kunjung bicara dengan apik di depan mereka. Kadang-kadang aku hanya bisa nggrundel dan memilih pergi.

Berkembang di dalam sebuah ruang tentu keinginanku dari dulu. Sebuah kalimat yang pernah aku baca, tapi lupa sumbernya, mengatakan "Banyak belajar, banyak lupa". Nah, seperti itulah aku. Pernyataanku, kekecewaanku, dan semua gelisahku dalam tulisan untuk Lusi itu terjawab oleh satu tulisan dari Mas Iin dalam blognya, Catatan Untuk Tiwi. Aku hampir-hampir menangis membacanya saat itu (fyi, aku baru sampai di Sidareja setelah menyetir motor selama 2,5 jam dari Jetis). Pelataran masjid di Sidareja itu cukup bisa membuat rasa lelahku menghilang sejenak.

Ada yang begitu peduli pada setiap keluh kesahku tentang ruang itu. Ketika aku selalu menyalahkan diriku sendiri, ia berbalik menyalahkan dirinya. Apakah semua salah para tetua? Tentu tidak. Bagiku, ini murni kesalahanku, kekeliruanku yang tidak sadar tanggung jawab. Kelalaianku yang selalu menghindar. Dan kini aku punya tanggung jawab yang ternyata besar dampaknya untuk kegiatan sekrusial ini.

Telepon dari Mas Azis dan catatan dari Mas Iin tentunya menjadi pengingat dan penyemangat bahwa aku adalah bagian dari keluarga, aku punya tanggung jawab, juga hak dan kewajibannya untuk menjaga keluarga ini tetap ada. Sudah saatnya kita berjuang bersama-sama, bukan dengan rasa egois masing-masing, tapi dengan rasa saling memiliki. Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi sejarah baik untuk anggota selanjutnya nanti.

Kamar kos. Sudah berganti Senin rupanya.
10 Oktober 2016. 00:07.

10 comments:

  1. Amin alllahummaa aminn...
    Smanggatt yaa mbak Tiwi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih Mbak :)
      Semangat juga buat dirimu.

      Delete
  2. tingkatkan mba, tetap semangat terus ... :)

    ReplyDelete
  3. Postingan ini mengena banget ke hati saya. Saya juga selama di perantauan suka lupa sama keluarga, suka jarang menelpon ke rumah. Terima kasih atas remindernya. Saya juga bagian dari keluarga kecil ini, dan saya harus menjalankan peran saya =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehehe, iya nih kak. Saya pikir emang keluarga di rumah dan di kampus bisa berjalan seiring harusnya hehehe.
      Semangat kak!

      Delete
  4. semangat tiw.. nanti bakalan kangen tuh kalau udah wisuda

    ReplyDelete