Thursday, October 6, 2016

[BOOK REVIEW] Milea, Suara Dari Dilan by Pidi Baiq


Judul: Milea, Suara Dari Dilan | Pengarang: Pidi Baiq | Penerbit: Pastel Books (Mizan Publishing) | Tahun Terbit: Agustus 2016 | Jumlah Halaman: 360 hlm. | ISBN: 9786020851563 | Harga: Rp 79.000,- 

Track 1 dalam kumpulan lagu Dilan bersenandung, mengisi heningnya malam dengan alunan piano dan suara seorang gadis yang lembut. Aku menulis ini sembari mendengarkan. Mengingat kembali kisah Dilan dan Milea yang romantis. By the way, karena aku ikut Pre Order buku Milea. tentunya aku bisa menikmati lagu-lagu dari CD bonus dari bukunya. Yeay!

Dimana kamu? Ketika kumau...
Apa kau juga, ketika kurindu...
Dengarlah sunyiku
Dengarlah diamku
Dan rindu...
Engkaulah, artinya bagiku

Biarlah rinduku
Kumau kabarmu
Dan rindu...
Sunyilah, artinya wakilmu
(Di Mana Kamu)
---

Milea sudah menceritakan Dilan dalam dua buku sebelumnya. Salah satunya pernah saya review di sini. Dalam dua bukunya, Milea menceritakan semua detail apapun yang berhubungan dengan Dilan. Pokok utamanya tentu saja kisah cintanya dengan Dilan, namun seperti kalian semua ketahui, kisah cinta Dilan-Milea yang amat sangat romantis dan membuat iri semua remaja, harus kandas begitu saja. Sampai salah satu kakak laki-laki saya bilang, "Aku pikir Dilan sama Milea bakalan langgeng. Eh kok malah putus. Ya, kesel aja."

Buku Milea kali ini memberikan sudut pandang dari Dilan. Jika sebelumnya Milea yang bercerita, maka kali ini Dilan mencoba mengklarifikasi apapun yang pernah Milea sampaikan dalam bukunya. Jujur, semua yang ada dalam buku ini memang sifatnya hanya klarifikasi dan apa-apa yang Dilan ketahui melalui sudut pandangnya.

Awalnya saya pikir, buku Milea ini akan banyak mengulang atau minimal mengutip banyak sekali dari dua buku Dilan sebelumnya. Ternyata sama sekali tidak, apa yang sudah diceritakan di dua buku sebelumnya, hanya disebut dengan kalimat, "Kalian tentu sudah tahu apa yang Milea ceritakan dalam bukunya." Sehingga, sangat efisien dan tidak banyak membuang waktu. Meskipun pada akhirnya saya seringkali lupa apa yang Milea ceritakan di bukunya. Hahaha.

Buku setebal 360 halaman ini nyatanya bisa saya habiskan dalam waktu 2 hari. Seperti biasa, Ayah Pidi Baiq membuat buku ini sangat ringan. Rasanya seperti membaca catatan harian atau diary milik Dilan. Tulisan khas Pidi Baiq dalam ketiga bukunya, serta pemilihan font yang tidak membuat mata lelah, bikin saya ingin cepat-cepat menghabisi bukunya. Namun, karena buku Milea ini adalah catatan milik Dilan, banyak juga kata-kata yang saya skip karena sudah tahu maksudnya. Apalagi soal percakapan yang singkat-singkat ketika dialog bertelepon. Mungkin saya bosan.

Untuk sampul bukunya, jujur saja, saya sangat suka sampul buku yang ketiga ini. Warna abu-abu dan gambar tokoh Milea yang menunduk, membuat kesan kelabu, keragu-raguan, dan kesedihan.

Sekali lagi, dalam buku ini Dilan secara terbuka membahas apapun yang pernah Milea sampaikan. Sehingga, sedikit banyak konfliknya tidak terlalu terlihat lagi. Dilan menyampaikan apa yang ada di pikirannya sebagai anak laki-laki dan geng motor. Saya jadi ingat, kakak laki-laki saya yang satunya pernah bilang begini, "Buku Dilan 1 sama 2 itu buku trik mendapatkan cewek, soalnya kan sudut pandangnya Milea, jadi kita tahu gimana cewek. Nah, kalo buku yang ini, trik mendapatkan cowok, soalnya dari sudut pandang Dilan."

Nah, tentunya kamu tahu dong, Dilan dan Milea sudah putus? Ada banyak hal sebenarnya yang bisa dipetik dari buku ini. Apa? Tentunya soal dunia asmara remaja, sih. Begini...

Laki-laki itu tidak bisa dikekang. Terlihat bagaimana ketika Milea melarang Dilan untuk tidak bergabung dengan geng motor. Dilan sayang dengan Milea, tapi di geng motor itu ada teman-temannya. Tentunya Dilan tidak ingin apa yang menjadi kesukaannya dibatasi. Dilan tahu bagaimana kekhawatiran Milea, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan teman-temannya. Bahkan ketika Dilan mulai berpacaran dengan Milea, teman-temannya menganggap Dilan berubah.

Hingga akhirnya mereka putus. Dilan hanya mengiyakan keinginan Milea untuk putus, karena... Dilan tidak mau membatasi Milea. Kalau itu keputusannya, Dilan tidak berhak memaksa. Ada satu hal yang saya tangkap dari sini. Dilan sama sekali tidak terlihat sedih setelah putus dengan Milea karena...

Setelah itu, aku ingin berusaha bisa mengendalikan diriku agar bisa tetap dalam kontrol karena aneh juga aku tidak merasa patah hati kalau diputus, tetapi aku tidak mau menjadikan diriku terus-menerus dikonsumsi oleh perasaan berduka dan tidak ingin membiarkan diriku larut di dalam kesedihan bersama lautan air mata. (Hlm. 234)

Bagiku, walaupun patah hati itu rasanya tidak enak, aku masih ingin bisa menggantungkan lampu-lampu yang aku olah sendiri di sudut-sudut ruangan tergelapku! Kupikir ini tentang strategi. Tidak ada orang di dunia yang mampu sempurna menangani persoalan, tapi itulah cara otakku mengatasi keadaan untuk membuat perlindungan diriku, untuk menjaga kewarasan dan kesehatan diriku. (Hlm. 235)

Kenapa sih, Dilan nggak balikan aja sama Milea? Duh. Jadi gini, lho. Milea jelas sudah memutuskan Dilan. Masa dia juga yang minta balikan. Kan gimana gitu, ya. Dilan pernah curhat sama Remi Moore, dan Remi menjawab begini,

"Lia bisa aja ngerasa, kalau ngejar-ngejar Dilan, takutnya dibilang cewek murahan." (Hlm. 324)
"Nah, sekarang, coba aja sama Dilan pikirin, gimana rasanya udah mutusin, terus minta balikan. Cewek lho ini! Bisa aja dia gak mau dibilang cewek plin-plan, atau mungkin dia malu, atau apa ya?" (Hlm. 325)
"Lia tuh nunggu kamu ngajak balikan. Udah kodratnya cewek tuh cuma bisa nunggu. Cowoknya harus ngerti. Tapi kamunya ya gitu, malah ngerasa gengsi mau ngehubungi dia." (Hlm. 325)

"Buat cewek, harga diri itu segalanya." - Remi Moore.

Nah, begitulah nasihat Remi Moore ke si Dilan. Kenapa kayaknya Remi tahu banget, ya? Ya, soalnya dia tahu gimana rasanya jadi cowok, tapi dia milih jadi cewek aja katanya, soalnya harga dirinya tinggi. Hahaha.

Cukup seru baca buku ini. Kalau penasaran, bisa baca sendiri yaaa! :D

RATE: 4/5

Kamar Kos, menjelang dini hari.
6 Oktober 2016. 12:56.

8 comments:

  1. aku punya novel ini, tapi belom sempet namatin >.<

    ReplyDelete
  2. Setuju banget. Kalo Dilan 1 dan 2 itu cara mendapatkan cewe, buku Milea ini adalah bagaimana cara mendapatkan cowo hahaha. Gua dari kemaren lagi baca, tapi belum beres nih, baru setengah hehehe

    ReplyDelete
  3. Suka banget sama review-review kamu...aku follow ya

    ReplyDelete
  4. Lebih ngena buku pertama. Apalagi di buku ini sering banget tuh kalimat 'seperti yg Lia tulis di bukunya'. Lah? Saya aja lupa kejadiannya.
    Butuh waktu seminggu lebih buat selesaiin baca, hehee :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, memang saya juga lebih suka buku pertama. Gregetnya dapet, sensasi sukanya dapet hahaha.
      Nah, bener kak. Apalagi baca dua buku pertama udah lama banget wkwk

      Delete