Secangkir Kopi dan Patah Hati Berkali-Kali


Dear, you or anybody who read this post.

Secangkir kopi yang kusesap malam ini terlalu manis. Tidak dengan cerita ini.

Tiga hari lalu aku masih ada di kamar yang sama, mengucap rindu yang sama, dan menyukai orang yang sama. Tetapi hari ini, rindu itu tidak ada lagi. Mereka benar-benar pergi atau mungkin berubah jadi benci. Siapa yang bisa menyangka kalau perasaan yang hidup di antara kesepian bisa tiba-tiba kabur dan tak ditemukan lagi? Aku menyerah dan memilih pergi dari sana.

Sebuah tempat di mana aku membaca kabar itu adalah tempatku sekarang menulis postingan ini. Tidak ada yang berubah, hanya pikiranku yang semakin kalut dan ragu-ragu muncul lebih banyak dari biasanya. Perasaan sedih, kesal, marah, terkhianati, atau merasa dibohongi, semua tercampur, baur jadi sebuah rasa benci yang sampai di ubun-ubun. Tidak tahu kenapa, aku cuma mau benci. Itu saja.

Sahabatku bilang, "Kalau dia masih begini aja, atau sikapnya mulai berubah, tandanya dia menjauh." Dan kali ini dia benar.

Patah hati berkali-kali itu menyakitkan, ya? Iya, kamu dibuat jatuh cinta berkali-kali, tapi patahnya juga berkali-kali. Sampai temanku bilang, "Itu hati apa kayu sampe patah gitu." Hatiku mungkin kayak cokelat yang kalau kena panas meleleh, kalau dingin beku jadi patah.

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari tiga hari lalu ketika akhirnya aku berhasil menangis karena mendapat kabar yang cukup mengejutkan itu. Ah, iya, aku terlihat lemah dan cengeng sekali hanya dengan sekali membaca langsung turun air mata. Waktunya tepat sekali ketika aku sedang nonton drama Thailand di bagian klimaksnya, kemudian temanku datang membawa kabar itu. Rasanya... runtuh semua dunia. Rasanya semua yang pernah aku lakukan jadi sia-sia begitu.

Siang itu, aku berusaha tidak lagi percaya pada apa yang aku lihat. Aku menunggu setiap penjelasan yang harusnya keluar dari dirimu. Membaca itu, aku tahu, aku yang salah. Aku yang terlalu egois memaksa kamu untuk tetap di sana tanpa kemana-mana. Nyatanya kamu tidak lagi ada di sana.

Sejak hari itu aku tahu, aku sudah dibuat patah hati yang kesekian kalinya. Aku mau bilang kamu jahat, tetapi rasanya itu terlalu kejam. Sampai hari kemarin kamu masih baik padaku, meskipun tetap saja kamu membuatku patah hati dengan atau tanpa sengaja. Aku tidak tahu apa maksud pesanmu tadi malam yang mengiyakan pertanyaanku soal itu. Pikiranku menjawab bahwa kamu ingin aku menjauh. Seperti seharusnya, sedari awal aku tidak harus percaya padamu.


Jawabanmu sudah menjelaskan semuanya bahwa ada sebagian rindu yang tidak bisa dipaksakan, juga soal perasaan. Akan tetapi, patah hati itu sakit sekali. Terutama kalau kamu tahu bagaimana rasanya dipaksa pergi tanpa penjelasan. Anyway, aku sudah tidak lagi membutuhkan penjelasan, baik darimu, temanmu, atau siapapun yang berhubungan denganmu. Itu hidupmu, dan mungkin aku yang membuat hidupku (juga hidupmu) jadi rumit.

Sekalian saja kubicarakan hal ini di sini. Tidak akan kusebut kamu jahat, tetapi akan kusebut kamu terlalu baik, terutama pada setiap perempuan. Bukan salah perempuan kalau akhirnya aku (dan perempuan lain) baper. Kamu yang harusnya tahu kalau sikapmu menimbulkan banyak persepsi, angan, dan semua harapan. Jangan pernah berjanji kalau nyatanya kamu akan lupa dan sengaja melupakan.


Kopiku sudah habis. Ingin rasanya aku meneguk kopi pahit di angkringan samping tugu Jogja sana, Entah dengan siapa, yang jelas bukan kamu. Karena aku tahu, kamu bukan lagi orang yang sama seperti dulu aku kenal. Kamu yang hari kemarin telah membuatku lupa bahwa aku pernah kenal orang seperti dirimu. Kamu yang hari kemarin sudah cukup membuatku tertawa miris atas kebodohanku sendiri. Kamu... jahat.


Purwokerto yang dingin oleh rasa ingin.
12 September 2016, 23:16.

Comments

  1. harusnya ending ceritanya dikasih kombinasi kayak gini wi "(nama), yang kamu lakukan ke aku itu ... Jahat!" *gaya AADC*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlalu mainstream kak kalo pake akhiran itu :D

      Delete
  2. saya juga pernah kyak gini (kayaknya) hehe
    btw, keren2

    ReplyDelete
  3. saya juga pernah kyak gini (kayaknya) hehe
    btw, keren2

    ReplyDelete
  4. kayaknya kita pernah merasakan hal yang sama hahaha *peluk*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)