Tuesday, September 6, 2016

Kepada Semesta Malam

Kepada semesta malam, tidak ada yang menyejukkan kecuali sepi yang mengurung lagi diriku pada kesendirian. Selama rindu itu masih mengembang, aku tidak pernah bisa diam.

Selamat malam, kamu. Sementara waktu berjalan pelan-pelan, aku tahu kita berdua sama sekali tidak berjalan di arah yang sama. Kita, aku dan kamu, adalah sisi yang berbeda. Jauh dari harapanku di masa lalu. Aku ingat ketika aku bertemu kamu di ruangan itu. Aku tahu, yang bergulir saat itu cuma waktu sepersekian detik untuk bisa mengenal sosokmu yang tidak pernah aku tahu. Aku berdiri di dekatmu, dengan harapan kamu bisa percaya aku sepenuhnya.

Di sela-sela waktu yang berjinjit di antara kekosongan, aku berusaha mencari tahu semua tentang kamu. Tentang bagaimana caranya berada di dekatmu tanpa harus aku yang bicara. Aku tidak pernah gemar bicara padamu. Aku cuma gadis pendiam yang suka mendengarkanmu bicara. Aku suka. A, apalah artinya aku di sini ketika kamu tidak lagi merasa sama denganku?

Apakah sebatas itu saja perasaan kita? Sebatas ruang kerja yang hitungan bulan. Sebatas gerak sistem yang merobek sekat itu sendiri? Aku tidak lagi percaya pada diriku sendiri apakah aku sudah menemukan orang yang bisa searah denganki. Sampai pada malam kesekian setelah rapat, kamu mau menemaniku makan malam. Di hari itu aku tidak tahu apakah kamu mau searah denganku atau tidak.

Searah? Aku tidak akan bicara soal cinta, aku cuma mau bicara soal arah yang sama. Ingat waktu kita pergi ke bioskop berdua? Rasa dingin di bioskop dan film Everest tak membuatku gigil sama sekali. Aku tahu itu kamu. Kamu yang ada di sampingku. Atau kamu mau ingat makan malam kita berdua setelah itu. Aku tahu malam itu kamu makan nasi dan lele goreng juga es teh manis. Aku tahu kamu tidak berniat mengajakku ke tempat itu karena tujuan awalnya bukan kesana. Kamu lupa jalan, iya kamu lucu.

A, kita memang sudah pernah bicara soal kita masing-masing. Semua terasa menjemukan dan melelahkan waktu itu. Aku memang bukan orang yang sabar untuk masalah perasaan, A. Mungkin aku yang terlalu larut dalam suasana, atau mungkin perasaanku yang salah tempat. Kamu tahu, akupun tahu, semua terlihat semakin rumit, kan?

Mungkin kita cuma terjebak di waktu yang sama pada saat itu, kemudian berbelok di jalan yang berbeda. Kita berdua sama-sama tahu di mana posisi masing-masing. Tapi saat ini, aku cuma mau kamu. Aku egois, ya?


Cilacap, di sela-sela KKN yang entah aku lupa tanggalnya.

No comments:

Post a Comment