Sunday, July 3, 2016

When A Daughter Was Cooking...


Sebagai perempuan, anak kos, dan calon istri serta ibu rumah tangga, aku diharuskan bisa masak. Sesungguhnya ini lebih seperti tuntutan peran yang mewajibkan seorang perempuan bisa masak. Padahal, nggak bisa masak pun nggak apa-apa. Cuma kamu harus tahan banting sama omongan orangtua ataupun ibu mertua kamu soal dirimu yang nggak bisa masak. Kalau mau berpikiran modern sih ya, sekarang sudah banyak restoran, kamu bisa beli asal kamu punya uang. Sesimpel itu.

Hal pertama yang akan kamu hadapi ketika kamu belum bisa masak adalah sindiran semacam ini: Nanti suamimu mau dimasakin apa?

Tunggu dulu, itu omongan mamaku kalau aku lagi malas bantu masak. Iya, aku belum bisa masak. Sejauh ini memang baru bisa masak yang gampang-gampang macem tumis kangkung, bening bayem, sop, kentang balado, perkedel, ayam goreng, dan orek tempe. Sedikit sekali kalau dibandingkan sama papaku yang selama ini ternyata bisa masak juga.

Halo, papaku aja bisa masak, masa aku enggak? Jangan mau kalah! Papaku jago banget masak rendang, cara mengolah daging yang benar pun beliau tahu. Kadang mamaku suka diajarin sama papa soal mengolah daging yang baik dan benar. Nah, kan. Sesungguhnya nggak cuma perempuan yang wajib bisa masak, lelaki yang bisa masak juga keren. Sering lihat juga kan chef itu kebanyakan laki-laki? Ya, itu.

Pertanyaan kedua yang sering dihadapi kalau nggak bisa masak adalah: Nanti suamimu lari ke mbak-mbak warteg yang lebih jago masak dari kamu, lho.

Oke, aku sih nggak pernah dapet omongan seperti itu. Tapi ternyata dipikir-pikir bener juga. Suami juga mau makan masakan istri, bukan karena dia nggak suka makanan luar, tapi biasanya masakan istri itu ada bumbu cintanya. Mungkin bisa jadi nggak lebih nikmat dari makanan restoran, tapi lihatnya pake mata hati dong, biar kerasa perjuangannya. Hahaha.

Kalau dari tadi aku selalu ngomongin suami dan rumah tangga, bukan berarti aku sudah mau menikah. Bukan! Tapi mama selalu bilang kalau anak perempuan memang harus bisa masak, minimal buat dirinya sendiri. Apalagi aku anak kos yang kalau mau hemat ya harus masak daripada beli makan di luar terus.

Baca juga: When Your Mom Talking About (Your Future) Wedding

Di rumah kost, aku beberapa kali memasak untuk diriku sendiri. Ya, banyak diajari oleh Mbakku yang juga ngekost bareng aku. Dia jago banget masaknya. Oleh karena itu, aku belajar beberapa masakan sederhana dari dirinya. Kalau di rumah kali ini, aku memasak telur sambal balado dan sayur lodeh. It was my first time to cooked this menu. Padahal mama sudah sering banget masak menu ini, tapi karena aku nggak pernah nimbrung, hasilnya ya aku nggak tahu apa-apa. Padahal juga cara masaknya mudah banget.

Ini nih penampilan sambel balado yang aku ulek sendiri. Awalnya mama bilang mau diblender aja, tapi akhirnya aku yang harus mengulek. Baiklah, kuulek dengan rasa cinta dan kasih sayang buat makan malam keluargaku. Selain lebih alami, sekalian olahraga pergelangan tangan biar makin sehat. Hahaha. Ya, intinya kalau pake ulekan lebih kerasa enak daripada digiling pake blender.


Masak sayur lodeh pun meskipun pake bumbu instan, tetep bisa enak. Kemudian mama berkata, "Suamimu nanti dimasakin begini aja pasti udah seneng. Sederhana, tapi cukuplah buat makan daripada beli di luar terus."

That's the point! Perempuan memang nggak wajib bisa masak, tapi kalau melihat keinginan untuk menyenangkan suami ya memang harus belajar masak. Balik lagi ke kalimat di atas, "Emang mau suamimu lebih milih mbak-mbak warteg dibanding istrinya?" Alasannya cuma karena istrinya nggak bisa masak. Duh, Mas, sini aku masakin. Hahaha.



Cileungsi yang dirundung hujan, masakanku sudah siap disantap.
3 Juli 2016. 17:46.

No comments:

Post a Comment