(Bukan) Jarak yang Tak Bisa Dilewati



Setiap jarak bicara soal kamu. Penantian yang membuat raga terhenyak sesaat. Meniti jarak ratusan kilometer hingga jarak hanya tujuh menit dengan jalan kaki. Setiap hembusan angin hari itu kumaknai dengan harapan. Aku berharap, ragaku dan ragamu dapat menyapa semesta bersama. Melepaskan keraguanku akan kamu. Meletakkan semua rindu pada titik yang sama.

Sayang, rindu itu hanya sampai pada jarak 7 menit sebelumnya; tidak berjalan mendekat, tetapi menjauh.

Suara-suara itu menggema di telingaku. Bicara bahwa aku seharusnya berjalan ke kantormu saja. Mencarimu di antara orang-orang itu. Memelukmu. Oh, maaf aku egois. Bahkan aku saja tidak tahu apakah kamu ada di kantor atau di jalan. Rasanya hari itu menjadi sebuah puncak dari keraguanku. Tanpa sadar aku kembali ke persimpangan awalku; berjalan maju atau berhenti di kamu.

Aku tidak tahu. Tidak pernah tahu.

Sejak hari dimana kamu tidak lagi berada di tempat yang sama. Aku tahu, tidak ada lagi harapanku untuk mengikuti jejakmu. Sebab, kemanapun kamu pergi, aku tidak akan tahu. Mungkin hatimu bukan buatku. Hahaha. Lagi, aku melakukan kesalahan atas sebuah harapan yang terlalu tinggi ini.

Kotak-kotak kenangan itu serasa tiada arti. Kalau dunia menyimpannya dalam lemari, kamu tidak harus membukanya. Aku yakin kamu tidak akan melakukannya, jelas karena kamu tidak ingin.

Jadi, waktu itu aku sungguh sangat ingin berjalan ke kantormu. Sendiri pun tak apa asal aku tahu kamu ada di sana. Kenyataannya kamu bahkan tidak bicara sedikitpun soal keberadaanmu. Kupikir akan lebih sia-sia ketika aku kesana dan kamu tak ada. Jarak 7 menit bagiku termasuk jarak yang begitu dekat dibanding jarak awal kita. Jauh.

Ada sedikit alasanku bicara lagi padamu melalui pesan itu. Hanya ingin bertanya apakah kau ingin bertemu denganku atau tidak. Namun, kuurungkan semua itu. Malu dan terlihat terlalu berharap. Padahal aku rindu. Ah, biar sajalah. Sekarang aku sudah di tempat lain. Jadi, nikmati saja hidupmu.

Kalau suatu saat nanti bisa bertemu, anggap saja jarak 7 menit itu pernah jadi sesuatu yang berarti buatku. Karena jarak 7 menit ternyata sebuah hal yang tak bisa aku lewati dengan mudah.

Sumber: path

Sia-sia saja bicara di sini. Toh menulis ini sangat mudah dibanding menulis pesan berisi puisi yang menyatakan kalau aku rindu.

Cileungsi, 16 Mei 2016. 00:10

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)