Monday, March 28, 2016

[BOOK REVIEW] Cruise Chronicle by Ruwi Meita



Judul: Cruise Chronicles
Pengarang: Ruwi Meita
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 9797806685
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: 296 hlm.

BLURB

Dahulu, dia pernah bercerita: 

“Ada sebuah jalan setapak mistis yang membentang sejauh dua kilometer dan menghubungkan dua desa. Konon, jalan itu bisa membuktikan cinta sepasang kekasih. Berjalanlah dari arah berlawanan dan bila kau setia, kau akan bertemu kekasihmu tepat di bawah sebuah pohon besar.”

Dia berjanji, bahwa cinta kami begitu tulus hingga jalan setapak semacam itu tidak akan memisahkan kami. Namun, kini dia tak lagi di sisiku, dan aku harus menahan perihnya patah hati. Bagaimana bisa aku melupakannya, sementara ke mana pun aku pergi, dapat kuhidu aroma tubuhnya?
---

Ini buku kedua karya Ruwi Meita yang saya baca. Berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul, Ruma Lebah, saya menemukan beberapa kerumitan dalam buku ini. Ya, buku ini penuh teka-teki hingga terbongkar satu persatu pada setiap babnya.

Membuka bab awal buku ini, saya disuguhkan dengan sketsa unik soal kapal pesiar (saya lupa tepatnya di kota mana). Keindahan sketsa itu sontak membuat saya membayangkan rasanya naik kapal pesiar keliling eropa. Perjalanan inilah yang dirasakan Reya dan Vini, berkeliling eropa dengan naik kapal pesiar mewah hadiah dari sebuah majalah. Reya sendiri merupakan seorang pimpinan redaksi majalah perempuan terkenal, sedangkan Vini adalah sepupunya.

Alsan Reya mengajak Vini sangat sederhana, karena tak ada yang bisa  diajaknya untuk berpetualang. Perjalanan di dalam kapal pesiar ini tidak begitu sederhana. Seorang pengusaha dan pejabat negara keturunan indo bernama Jhonny Draco, juga sedang menikmati kemewahan kapal pesiar ini dengan seorang model cantik bernama Shirens.

Tidak hanya itu, kapal pesiar ini pun dijalankan atas suruhan seseorang bernama Hamid Khan yang memiliki tanggung jawab. Hamid Khan merupakan anak dari Emir Khan, seorang pebisnis dan kepala negara yang tidak ingin keberadaannya dipublikasikan. Oleh sebab itu, Hamid Khan hidup dalam kepura-puraan dan penyamaran, agar identitasnya tidak diketahui publik. Di sisi lain, seorang pemuda bernama Musashi pun berniat menaiki kapal pesiar demi mengejar seseorang yang dicintainya.

Cerita dalam buku ini dituturkan secara selang-seling. Dimana bab pertama diceritakan soal Reya dan Vini, kemudian bab selanjutnya soal Shirens, selanjutnya Hamid Khan, selanjutnya soal Mushasi, begitu seterusnya. Hal inilah yang membuat saya tidak ingin berhenti membacanya hingga tuntas, karena semakin saya membaca semakin besar pula rasa penasaran saya akan akhir buku ini.

Memang sih, buku ini memberiikan akhir yang sederhana, tetapi konfliknya cukup membuat saya gemas dan ingin segera mencapai akhir. Beberapa bab menceritakan soal Langit, kekasih Reya yang menghilang setelah lamarannya ditolak oleh ayah Reya. Hingga pertemuan itu terjadi dengan sangat tiba-tiba dan ternyata sudah disusun sedemikian rupa oleh Langit.

Prolog dalam buku ini juga sangat mengena, soal sepasang kekasih yang melewati "Jalan Kekasih" (kalo nggak salah ingat) untuk membuktikan cinta mereka. Jadi, jalan itu memiliki dua ujung di dua desa yang berbeda. Si laki-laki berjalan melalui satu ujung di desanya, sedangnya si perempuan juga berjalan melalui ujung satunya lagi di desanya. Apabila sepasang kekasih itu mencapai suatu pohon yang sama di tengah jalan tersebut, maka cinya mereka abadi. Namun, apabila mereka tidak bertemu, artinya salah satu dari mereka pasti melakukan sebuah kebohongan atau ketidaktulusan.

Kenyataannya, mereka tidak bertemu di pohon tersebut. Timbullah prasangka buruk pada masing-masing dari mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Akan tetapi, beberapa puluh tahun kemudian, pasangan mereka masing-masing telah meninggal, mereka masih memendam cunta dan mencoba sekali lagi melewati "Jalan Kekasih". Lalu, apa yang terjadi? Mereka bertemu di sebuah pohon di tengah perjalanan. Mereka dipertemukan dengan keadaan sudah tua dan keriput.

Artinya bahwa setiap cinta membutuhkan pengorbanan meski tidak saat itu juga terjadi.

Well, saya suka novel ini. Lebih suka lagi dengan pembatas novelnya yang berbentuk jangkar.

---

QUOTES OF THIS BOOK!

"Cinta bisa menjadi rumit, tetapi juga sangat sederhana. Dua versi yang berbeda, namun sama-sama kompleks. Ketika cinta menjadi rumit, sebenarnya ia sederhana dalam kerumitannya. Keduanya hanya bisa dibuktikan oleh waktu." (p. 3).
"Sendiri dan tak pasti. Bukankah kerentaan hanya tinggal menanti waktu untuk mati? Dan bukankah mati itu selalu sendiri?" (p. 26).
"Jangan tutup matamu. Kau harus menghadapi rasa takutmu dengan mata terbuka. Dan kau akan melihat bahwa rasa takyt hanyalah imajinasimu." (p. 55)
"Pulang menurutku bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan sebuah alasan bagi semua orang untuk kembali pada orang yang dicintainya meski cinta sulit diraih." (p. 67)
"Melupakan adalah perjuangan yang tidak mudah tatkala hatinya berubah menjadi magnet yang melekat pada hati orang lain." (p. 76)
"Tidak ada yang sia-sia untuk pilihan yang sudah dibuat." (p. 105)
"Laki-laki bajingan tidak memberimu pilihan, tapi memaksamu pada satu kondisi yang tak bisa kau tolak, hingga tanpa sadar kamu terjebak dalam permainannya. Tentu saja permainan yang menguntungkan dirinya." (p. 179).

RATE: 4/5

No comments:

Post a Comment