Thursday, March 3, 2016

[BOOK REVIEW] A Cat In My Eyes by Fahd Djibran



Judul: A Cat In My Eyes
Pengarang: Fahd Djibran
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 9797806227
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: 190 hlm

BLURB

Waktu kecil, kita sering bertanya, “Ma, aku keluarnya dari mana, sih?”atau “Pa, Tuhan itu siapa?” Tapi, semakin tua, kita semakin jarang bertanya. Hidup ini tidak lagi menarik tanpa pertanyaan. Monoton. Terjebak dalam rutinitas. Padahal, hidup yang nggak pernah dipertanyakan adalah hidup yang nggak layak diteruskan, kata Socrates. Nah, lho!

Mata kucing aja selalu bertanya. Coba, deh, tatap matanya. Sekarang giliranmu, nyalakanlah matamu dan bertanyalah!
---

Buku ini terdiri dari cerpen, puisi, dan prosa karya Fahd yang mengandung unsur pertanyaan. Pertanyaan sederhana yang hadir di pikiran kita. Saya menyukai garapan dan rangkaian kata milik Fahd. Mengalir, sederhana, dan bermakna. Saya rasa buku ini cukup menghibur, tapi juga cukup membuat kening berkerut karena secara tidak langsung kita dihadapkan oleh pertanyaan yang selama ini berputar di pikiran kita.

Pertanyaan-pertanyaan yang kita anggap biasa dan belum tentu ada jawabannya. Atau bisa jadi pertanyaan itulah yang menjadi jawaban. Bingung, kan? Saya pun demikian.

Membaca buku ini juga membuka pikiran saya atas segala hal yang selama ini tidak saya pikirkan dan saya anggap biasa. Fahd sangat bisa meramu tulisan semacam ini dengan dasar filsafat yang sederhana dan mudah dimengerti. Hampir semua tulisan di dalam buku ini menjadi favorite saya.

Ada 3 tulisan yang paling saya sukai, yaitu "Tubuh", "Ke manakah Kau siang tadi, Tuhan?" dan "Keberagama(a)n".

Dalam cerpen berjudul "Tubuh", Fahd merajutnya dalam sebuah format surat yang mempertanyakan perihal kecantikan perempuan. Bahwa kecantikan perempuan bukan sekadar putih, tinggi, langsing, seperti model-model di TV. Pada sebuah percakapan antara Marva dan Zira, ada sebuah kalimat yang cukup menohok.

"Kita telah melakukan kejahatan paling keji. Kita telah menciptakan batas-batas uang diskriminatif. Cantik-tidak cantik. Bagaimana perasaanmu, jika kau sekarang perempuan, dan orang-oranh memberikan label 'tidak cantik' di dadamu? Itulah kejahatan kita selama ini, Zira!" - Marva. (p. 18-19).

"Ukuran cantik atau tidak itu relatif. Semua perempuan di dunia ini cantik. Atau, justru tidak ada perempuan cantik di dunia ini. Sebab, yang kutahu sekarang, kecantikan seorang perempuan ada pada hati, jiwa, pikiran, dan tubuhnya sekaligus." - Marva. (p. 19).

Untuk tulisan berjudul "Ke manakah Kau siang tadi, Tuhan?" Fahd menuliskannya dengan amat sederhana. Seolah-olah menghubungi Tuhan bisa melalui SMS dan telepon seperti yang kita punya. Prosa ini singkat, tapi cukup memikat hati dan berpikir bahwa sesungguhnya menghubungi Tuhan tak sesulit ketika kita menggunakan ponsel yang membutuhkan pulsa. Tetapi bicara pada Tuhan bisa diibaratkan dengan percakapan menggunakam telepon dan SMS yang harus tulus dan membutuhkan "pulsa" berupa amal baik. Menurutku begitu sih.

Dalam tulisan "Keberagama(a)n", Fahd lagi-lagi bicara soal perbedaan, baik secara fisik, latar belakang budaya, maupun agama. Saya menyukai keseluruhan ini prosa ini karena hampir semua manusia bisa bersatu karena keberagaman, tetapi bisa pula terpecah karena ada perbedaan.

Ada sebuah kalimat yang cukup menggambarkan soal perbedaan dan persamaan dalam diri manusia.

"Tak ada yang mungkin diserupakan sepenuhnya. Sebab keberagaman adalah salah satu wajah Tuhan yang menjadi manifestasi kesempurnaannya. Bila segalanya serupa, tentu meragukan bila kita harus menilai Tuhan sempurna. Dalam keserupaan tak ada kesempurnaan. Dalam ketaksempurnaan tak mungkin ada keagungan Tuhan." (p. 126).

Intinya buku iniembawa banyak pertanyaan yang sering kali kita abaikam dalam lehidupan.
---

QOUTES OF THE BOOK.

"Cantik adalah jawaban itu sendiri, Zira. Bukankah juga tidak setiap kata kita definisikan dan tak udah kita definisikan?" - Marva. (p. 13)
"Orang-orang yang mengaku telah mendefiniskan makna cinta hanya sanggup menyebutkan ciri-cirinya saja. Eksistensinya saja, bukan esensinya." (p. 13)
"Cinta adalah jawaban, Zira. Bukan pertanyaan. Dan, kita akan mengerti jika terus menikmatinya sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita." - Marva. (p. 14).
"Mungkin, mitos hanyalah dongeng tentang orang-orang yang memiliki kehidupan tak serupa dengan kita dalam dunia yang tak sama dengan kita. Itulah jawaban Ayah." (p. 34-35)
"Tetapi, yang terpenting di balik rasa kagum terhadap keindahan adalah pengetahuan mengenai dari manager keindahan itu bermula dan untuk apa keindahan itu diciptakan. (p. 40)
"Kebahagiaan adalah menemukan seseorang untuk kau peluk saat kau menanngis--berbagi perih bersamanya. Dan, kesedihan adalah saat kau harus tertawa sendirian." (p. 55)
"... / Time is a kind of friends. / It makes us old." (p 66)
"Waktu itu abadi karena ia selalu berubah dan bergerak. Keabadian tidak terletak pada keituhan yang diam dan sepi. Keabadian justru terletak pada pergerakan dan perubahan. (p. 68).
"Namun, benarkah waktu adalah ilusi dan jika tanpa persepsi sesungguhnya waktu tak ada?" (p. 70).
"Kita merasa normal dengan hanya tidak telanjang dan kumal di jalan, sementara kita telanjang dan kumal di hadapan Tuhan." (p. 123).
"Barangkalu benar, cinta adalah salibg bertukar dan saling menangkap." (p. 154).
"Pemafaan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi ia melapangkan masa depan." (p.169)
"Namun, mencintaimu adalah hal lainnya. Aku tak perlu apa-apa, tak perlu menjadi siapa-siapa. Cukup sehari, cukup sekali, aku bahagia sekaligus bangga mencintai sebagai diriku sendiri." (p. 174).

RATE: 3/5
---

Cileungsi, 14 February 2016. 00:17.

No comments:

Post a Comment