Monday, February 1, 2016

Untuk Kekasih Dalam Khayalan

Untuk seorang kekasih yang hidup dalam imaji.

Hai, Kamu. Sudah berapa batang rokok yang kamu habiskan hari ini? Sebungkus kah? Apa kamu sudah mulai lupa akan kesehatanmu? Aku masih berhak mengkhawatirkanmu, bukan? Aku selalu peduli, tanpa kamu minta. Aku juga masih merindumu seperti waktu 5 tahun lalu. Ingat? Kupastikan tidak karena kamu memang tidak pernah tahu.

Seperti gumpalan asap yang kauhembus saat ini, aku masih heran mengapa pelarianmu jatuh pada benda yang satu itu. Aku mungkin sudah terbiasa melihat bahkan sedari kecil aku sudah tahu benda itu. Disulut-dihisap-kemudian habis. Lekat sekali dengan hidupku. Namun, sungguh semua ini diluar dugaanku jika kamu, kekasih dalam imajiku, menghisap dengan sengaja tumpukan racun dalam sebatang rokok.

Sayang, sejak hari pertama kamu menghembuskan asap dari bibirmu, kamu sudah menukar kesehatan paru-parumu sendiri. Aku bicara begini karena aku sayang, rindu akan bibirmu yang tak tersentuh benda itu. Seperti lirik lagu yang dulu sering kita dengarkan di dalam kelas, "Aku merindukan kamu yang dulu", kamu yang bebas asap rokok.

Ah, mari kita lupakan sejenak soal asap itu. Akan kuajak kamu kembali ke masa lalu, Sayang. Tahukah kamu bahwa sampai di detik aku menuliskan kalimat ini, aku masih sering terbayang bagaimana lugunya kamu, bagaimana jeniusnya kamu, dan bagaimana lucunya kamu. Kamu selalu bisa membuat semua orang tertawa, pun denganku. Ingat saat kita sama-sama duduk di atas meja saat pelajaran kosong? Kamu selalu bergaya seolah-olah kamulah penguasa negeri. Bukan, bukan dengan gayamu yang sombong, tapi tingkahmu saat itu memang sangat lucu.

Kamu tentu juga ingat saat kita mencoba bernyanyi bersama. Tidak dengan iringan alat musik apapun, tapi cukup dengan tabuhan meja oleh tanganmu. Rasanya semua waktu kosong menjadi lebih ceria bersamamu.

Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa surat ini datang dengan penuh cinta. Cinta yang sama sedari dulu. Aku pernah bilang tidak bahwa aku bosan merindumu? Hari ini, aku bosan. Bosan merindumu dengan cara yang sama. Setampan apa wajahmu saat ini aku masih bisa melihatnya, tetapi tidak dengan hatimu. Aku tidak lagi di sana. Tidak lagi terkurung oleh kejamnya kata-katamu. Aku sudah bebas.

Hai, Sayang, kupikir kamu beda dengan wajah tampanmu tanpa sebatang rokok di sela jemarimu. Kupikir kamu beda tanpa menghisap racun itu sesudah makan. Ternyata kamu sama. Sama terjatuhnya, sama terpuruknya, sampai kamu rela menghembuskan asap itu. Aku ingin melarangmu, tetapi bicara soal kesehatanmu tentu kamu yang paling tahu, bukan aku.

Semoga kamu tetap baik-baik saja bersama kepulan asap yang kaubuat, Sayang.


Salam,


Afrianti Eka Pratiwi.

Cileungsi, 31 Januari 2016. 21:08.

No comments:

Post a Comment