Sepiring Nasi Goreng

Kepada seseorangku, yang semoga sedang tidak kelaparan.

Kakak, kukirimkan surat ini hanya ingin bercerita. Malam-malam yang kelam sudah terlewati. Hanya bersisa sedikit lagi rindu yang minta diobati. Semoga ia tidak seperti bom waktu yang mematikanku.

Malam heningku berisi dialog-dialog rumit dalam film Butterfly Effect yang baru saja aku tonton. Katanya itu film bagus, kupikir itu film kepribadian ganda, ternyata bukan. Ah, aku memang sedang menggandrungi hal-hal soal kepribadian ganda dan sejenisnya. Aku suka, bahkan lebih dari tahap penasaran.

Malam itu juga aku sempat melirik sepiring nasi yang tergeletak di meja; dingin. Rupanya aku tak berniat memakannya. Hanya saja, lambungku berontak minta diisi. Tentu saja kau tahu bagaimana rasanya kelaparan ketika di kamar kost tidak ada makanan. Satu-satunya yang tersisa cuma nasi putih dingin yang memelas dan merasa sepi tanpa teman. Aku tergugu.

Membuka lemari makan pun sia-sia saja. Aku ingat mie instan terakhirku sudah kuhabiskan kemarin malam. Hari ini hujan deras sejak pagi datang, membuatku malas bergerak kemana pun, termasuk menambah stok mie instan dalam lemari. Aku kembali tergugu. Tak ada sebutir telur pun, tak ada kerupuk. Nasi putih itu benar-benar tanpa teman, Kak.

Aku berjalan ke dapur, mencari sesuatu yang bisa jadi teman untuk si nasi putih yang sendirian bersama koloninya. Taraaa! Aku menemukannya dalam kotak bumbu milik kami--penghuni kost; bawang merah, bawang putih, cabai, sedikit garam, dan kecap. Suatu pengubahan atas sesuatu lainnya. Ah, ya, aku ternyata tidak menemukan teman yang pas untuk si nasi putih, tetapi aku mengubahnya menjadi sesuatu yang menggugah seleraku, selera kita.

Suatu hari--beberapa hari lalu sepertinya--aku sempat bertanya, "Mengapa nasi goreng ada? Mengapa orang repot-repot mengolah nasi yang sudah matang?" Dan hari ini aku tahu jawabannya: bagiku sepiring nasi goreng adalah bukti kecintaan kita pada sepiring nasi putih.

Mungkin kau akan tanya kenapa. Jawabanku, mari kita mengingat masa lalu kita. Kau dan aku sama-sama menyukai suatu makanan bernama Nasi Goreng Pattaya di suatu kedai makan di kota kita menuntut ilmu. Suatu makanan berupa nasi goreng yang dibalut telur dadar, sebuah makanan yang sederhana dengan cita rasa yang berbeda bukan? Tentulah kita bisa memakan nasi putih dengan telur dadar saja, tetapi karena kecintaan kita kepada nasi putih yang dingin, kita mengubahnya jadi nasi goreng.

Jadi, kenapa kita memilih nasi goreng jika kita mencintai nasi putih? Jawabannya sungguh sederhana: karena kita cinta nasi putih dan tak ingin ia dingin dan sendirian. Dengan menjadi nasi goreng, ia berpadukan bawang-bawangan, cabai, garam, dan lainnya sehingga berubah menjadi yang lebih kita cintai.

Hai, kak, aku (rindu) ingin makan Nasi Goreng Pattaya denganmu.


Sincerely,


Afrianti Eka Pratiwi.

Cileungsi, 5 February 2016. 18:58.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)