Tuesday, February 2, 2016

Sebuah Rasa yang Terlambat dan Terabaikan

Untuk seseorang yang kutemui dua kali saja.

Sudah kutanyakan kabarmu kemarin malam melalui BBM. Melalui surat ini rasanya aku tidak perlu lagi bertanya kabar. Pun untuk kamu tahu, Kak, aku baik-baik saja. Tidak kurang suatu apapun. Buku darimu pun masih tersegel, belum sempat aku baca.

Soal buku itu aku sangat berterimakasih karena telah memberiku buku sesuai keinginanku. Meski aku mendapatkannya dengan syarat bahwa aku harus berjuang menyelesaikan semua tugas kuliahku dalam seminggu itu. Aku berusaha menggarapnya dengan baik, juga dengan terseok-seok. Terima kasih telah memberiku semangat yang cukup untuk aku bisa terus percaya pada diriku sendiri.

Melalui surat ini pula aku ingin menyampaikan sesuatu perihal percakapan kita tempo lalu di BBM. Hingga saat ini aku tidak tahu mengapa aku masih berfokus pada satu orang yang sama: dia. Kamu pun tahu itu kan, Kak? Tetapi obrolan kita masih tetap sama seperti biasanya. Entahlah, aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu apakah kamu tertarik padaku atau hanya sekadar bercanda padaku. Hatiku bilang sih kamu tertarik, tapi aku tidak berani bertanya lebih jauh.

Mungkin kamu lupa, tapi aku ingat kamu pernah berkata seperti ini dalam salah satu pesanmu, "Nanti kalau dideketin malah lari.". Ah, tentu saja itu benar. Dugaamku tidak salah kan, Kak? Kamu juga benar soal aku akan menjauh ketika kamu dekati. Bicara banyak hal denganmu sangat menyenangkan, tetapi kalau kamu sudah bicara soal perasaan, aku angkat tangan. Ada ketakutan yang terselip di sana, Kak. Ketakutan yang bicara di pikiranku bahwa aku belum siap. Ya, aku masih terlalu muda untuk berpikir soal keseriusan hati.

Malam tahun baru itu mungkin yang menyakitkan bagimu, kalau benar kamu menyukai aku. Kamu bertanya satu hal padaku tentang sebuah nama laki-laki yang saat itu sedang aku sukai dan aku menjawabnya dengan sebuah nama; jelas bukan namamu. Maaf. Aku sempat ingin menghindari pertanyaan semacam itu, tak ada niatku menyakitimu, Kak. Setelahnya kamu hilang.

Dua hari lalu aku bermimpi, entah itu kamu atau bukan, tapi aku merasa itu kamu. Rindu itu datang, itu sebabnya aku bertanya kabarmu lagi. Obrolan lama kita seakan menghilang dan lenyap ditelan kesepian. Apa kamu sudah tidak mau bicara banyak hal bersamaku? Atau mungkin memang aku yang menghindari kamu? Ah kenapa ini menjadi rumit?

Kak, seperti yang aku bilang bahwa aku terlanjur nyaman denganmu hanya sebatas "Kakak". Bukan untuk suatu hubungan lebih. Jika ada perasaan sayangku padamu, tentunya perasaan itu kutunjukkan seperti kakak sendiri. Aku tahu bahwa kamu juga punya adik yang seusia denganku, kan. Ah, semoga surat ini bisa menjadi sebuah penjelasan dari sikapku yang kemarin-kemarin. Semoga kamu selalu bahagia dengan siapapun yang akan mendampingimu nanti.


Sincerely,


Afrianti Eka Pratiwi


Cileungsi, 1 Februari 2016. 13:00.

1 comment: