Thursday, February 4, 2016

Romansa Dua Budaya

Kepada Ibunda dari seseorangku.

Apa kabar, Ibu? Semoga tetap sehat dan bahagia bersama Mpah. Ibu masih ingat saya? Saya adalah gadis yang datang bersama dengan anak perempuan ibu ke rumah di tanah sunda nun jauh di sana tanpa pemberitahuan. Hari itu saya tidak berniat sama sekali untuk berkunjung ke rumah ibu. Tetapi, sesampainya saya di Paris Van Java, saya mendengar anak perempuan ibu--yang saya panggil Teteh--memberitahu saya bahwa sebaiknya saya ke rumahnya karena Kota Bandung sesang macet total.

Pertemuan saya dengan ibu pertama kali terjadi saat bulan Desember, ya, Bu? Waktu itu adalah waktu terbaik saat anak lelakimu wisuda dan aku mengenal ibu sebagai teman dari Teteh dan adik kelas anak lelakimu. Iya, Bu, saya gugup ketika bertemu Ibu dan Mpah. Saya hanya berharap bahwa perkenalan kita hari itu menjadi suatu hubungan baik di masa depan.

Bu, masih ingat ketika kita berada bersama-sama di ruang baca di rumah Ibu? Ibu membaca buku National Geographic yang didapatkan dari saudara, pun dengan saya. Entahlah, Bu, saat itu saya tidak bisa berkata apapun untuk mengajak ibu bicara. Saya melihat ibu sedang asyik membaca dan saya tenggelam dalam pikiran saya sendiri; canggung. Saya memang bukan tipe orang yang banyak bicara, Bu.

Melalui surat ini, saya ingin bertanya satu hal yang mungkin sedikit sensitif. Jangan khawatir, saya hanya bertanya saja, ingin tahu pendapat ibu. Apakah ibu tahu soal mitos pernikahan antara budaya Sunda dan Jawa, terutama laki-laki Sunda dengan wanita Jawa? Bagaimana menurut Ibu? Apakah itu memang sebuah hal yang sangat beresiko jika terjadi? Atau mungkin Ibu menganggapnya hanya sebagai mitos yang tak perlu dipercaya karena semua hal di dunia mengharap Ridho Allah?

Bu, mungkin pertanyaan saya yang demikian membuat Ibu berpikir apa maksudnya. Ya, saya sedang menerka-nerka apakah akan terjadi sesuatu ketika saya menyukai anak lelaki ibu? Tetapi semua kembali kepada Allah, kan, Bu? Oh ya, mungkin ibu butuh penjelasan mengapa saya bertanya hal ini. Iya. Bu, saya gadis keturunan Jawa yang hidup selama 15 tahun di tanah Sunda. Sedikit banyak saya tahu soal Sunda. Namun, tetap saja tidak ada darah Sunda yang mengalir di diri saya. Sedangkan saya tahu, anak lelaki ibu adalah Sunda tulen. Itulah sebabnya saya bertanya demikian, Bu.

Sebelumnya, saya minta maaf apabila pertanyaan saya kurang berkenan di hati Ibu. Saya tidak ada maksud sedikitpun. Pertanyaan saya yang demikian juga menyangkut keyakinan saya akan mitos tersebut. Bahwa ada semacam ketakutan yang hinggap di hati saya. Mungkin juga ibu sempat berpikir demikian.

Terakhir, saya rindu rumah Ibu yang sejuk, meskipun airnya dingin banget. Hehehe. Maaf juga kalau saya sempat merepotkan ketika berada di rumah Ibu. Nanti kalau saya sempat main lagi saya bawakan getuk goreng ya. Bu. :)


Salam cinta,


Afrianti Eka Pratiwi

Cileungsi, 3 Februari 2016. 13:34.

No comments:

Post a Comment