Not Found

Untuk seseorang yang tidak pernah kutemukan (hatinya).

Di sebuah kedai kopi tempatmu bernaung saat ini, aku sudah tahu kemana tujuanmu. Salah besar ketika aku pergi ke sana dengan tujuan lain. Aku menobatkan tempat itu menjadi tempat ternyaman, (bukan) karena kamu. Bang, tentunya semua yang terjadi dahulu itu bukan mauku. Diam di antara mereka yang sibuk menjodoh-jodohkan kita.

Aku sendiri masih ingat ketika kubilang kau "lucu" di fotomu. Semata-mata aku ingin bicara kalau kamu memang lucu. Bukan karena ada perasaan atau yang lainnya. Namun, semua terlanjur menerima pernyataanku soal fotomu, yang hanya bercanda itu. Ah, aku salah rupanya.

Hampir setiap hari hal itu menjadi topik pembicaraan. Hampir setiap hari juga aku bergumam di balik kata-kata yang kulontarkan melalui ketikan, "Lekaslah berhenti. Aku merasa sudah cukup." Kenyataannya mereka tak juga berhenti membucarakan aku denganmu. Padahal aku tahu, yang kamu suka bukan aku. Hahaha. Jadi lucu saja ketika mengingat itu. Pun sampai sekarang.

Puncaknya adalah ketika suatu pembahasan tentangmu dimulai. Semua pertanyaan diatasnamakan dariku, padahal aku tidak sama sekali bertanya. Aku sudah mulai lelah dengan semua itu. Aku sempat menangis, Bang, kalau kau tahu. Itu sebabnya malam itu juga aku meminta maaf kepadamu dan gadis itu. Tentu saja dengan niat bahwa aku tak ingin lagi dijodoh-jodohkan denganmu.

Hai, Bang. Tahu alasanku menangis malam itu? Entah perasaan apa yang muncul, aku juga tidak tahu. Atau mungkin aku mengingkarinya. Ketika pertemuan di kedai kopi itu rasanya sama mendebarkannya, antara malu, takut, dan entahlah. Aku sempat juga melirik laptopmu yang kamu gunakan untuk bekerja... Wallpaper itu... Pemberian gadis itu ya? Hehehe. Ternyata kamu benar-benar menyukainya ya, Bang? :)

Untukmu, kudoakan yang terbaik, Bang. Selalu.


Sincerely,


Afrianti Eka Pratiwi

Cileungsi, 8 February 2016. 01:00.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)