My Caving Experience

Ini aku di ketinggian 2 meter dan sudah lelah.

Gaes, kalian suka olahraga alam bebas? Itu lho, olahraga yang katanya ekstrim tapi seru banget. Olahraga ekstrim nggak cuma naik gunung, tapi ada juga panjat tebing, susur goa (caving), paralayang, dan lainnya. Aku sendiri juga nggak banyak tahu soal olahraga alam bebas. Beberapa yang aku tahu ya cuma itu karena aku sendiri belum pernah coba dan baru coba ketika masuk mapala.


Nah, kalau kemarin aku sudah cerita bagaimana aku sepertiga berhasil memanjat Tebing Putih, kali ini aku mau bercerita soal pengalaman pertamaku menyusuri goa. Nah loh, udah kayak orang primitif aja masuk-masuk ke goa. Eits, gaes, jangan salah. Ternyata susur goa ini lebih asik dan menyenangkan. Sungguh di luar dugaanku deh pokoknya.

Jalan menuju Goa Petruk

Jadi, waktu aku masuk mapala dulu, aku cuma tahu kalau kegiatan mapala itu cuma naik gunung. Aku tertarik pun karena melihat saudaraku yang suka naik gunung. Motivasi itulah yang membuatku mendaftarkan diri sebagai anggota KMPA FISIP Unsoed. Kesenangan demi kesenangan berlanjut karena aku mulai mengenal banyak kegiatan yang sebelumnya tidak aku ketahui dan belum pernah aku coba.


Selama setahun pertama aku berada di mapala, aku belum pernah sama sekali mencoba yang namanya caving. Pada waktu itu, alasanku tidak mau caving selalu tentang mata. Ketika ada yang mengajakku untuk susur goa, aku selalu menjawab, "Nanti aja kalo udah operasi mata, biar nggak ribet pake kacamata." Sesungguhnya ketakutanku pada waktu itu cuma satu, aku takut ketika kacamataku jatuh, aku tidak bisa melihat apapun dan malah merepotkan yang lain. Dan, karena sekarang sudah operasi mata dan tidak terlalu bergantung pada kacamata, aku sudah bisa susur goa. Yeay!


Jadi selama rangkaian pendidikan lanjutan ini, kami mengikuti dua kegiatan caving. Pertama kami memang susur goa dan yang kedua kami harus melakukan SRT (Single Rope Technique) atau jelasnya kita naik/turun goa dengan menggunakan satu tali. Nah, pengalaman ini yang pertama aku dapatkan saat itu.

Semangat, team!

Untuk cavingnya sendiri, kami mengekplore dan memetakan jalur Goa Kemit dengan mengukurnya dan melihat ada ornamen apa saja di dalam goa. Ah, ternyata semenyenangkan ini yang namanya susur goa. Kalau tahu begini sih dari dulu aja aku ikut caving. Hihihi. Dan sungguh luar biasa waktu aku berada di dalam goa. Beneran bagus ternyata. Ada ornamen yang membentuk gorden, stalaktit, stalakmit. Ah, jadi pengen ke goa lagi. Tapi satu hal nih gaes, kalau ke goa, kamu harus siap baterai headlamp atau senter cadangan, soalnya bakalan gelap banget kalau nggak ada penerangan.

Ini aku. Lagi jadi model di goa.

Setelah melakukan exploring dan pemetaan di Goa Kemit, esoknya kami SRT-an di Goa Petruk. Goa Petruk ini sendiri sudah menjadi tempat wisata yang biasa dikunjungi orang. Tetapi, kami bakalan naik ke "lantai dua" untuk kemudian turun ke bawah dengan SRT. Wah, gila! Ketinggiannya 30 meter, gaes! Aku sempat merinding ketika Kollin mengatakan kita harus turun ke bawah.

Kendala terbesar team kami adalah... tidak ada yang mau rigging! Jadi, rigging itu adalah memasang tali/jalur pengaman untuk nanti dilewati. Dan tentunya orang pertama ini harus bersusah payah memasangnya untuk teman yang lainnya. Akhirnya, Laras menjadi penyelamat kami semua dan bersedia menjadi orang pertama yang memasang tali tersebut. Fiuh!

Tuh liat, tinggi banget kan. Laras aja keliatan kecil :(

Bayangan-bayangan menyenangkan dan ketakutan berbaur jadi satu. Ketakutanku sesungguhnya sama seperti kebanyakan orang, bagaimana kalau alat yang aku gunakan tidak kuat menahan beban dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Ah, kubuang jauh-jauh pikiran itu. Kemudian aku turun ke bawah dari ketinggian 30 meter itu hanya dengan mengggunakan satu tali dan berbagai alat pengaman lainnya. Cukup lama aku turun dan mungkin paling lama karena lagi-lagi tanganku kelelahan menekan autostop (alat untuk turun dengan mengulurkan tali). Ampun deh!

Itu aku dan... perjalanan masih jauh, Bung!

Setibanya di bawah aku langsung memesan es teh. Hahaha. Istirahat tiga puluh menit, aku harus naik lagi ke atas dengan teknik yang sudah aku pelajari sebelumnya. Masya Allah, beratnya bukan main. Sepertinya aku harus banyak belajar dan menurunkan berat badan deh. Terlebih waktu awal mau naik sempat terjadi tragedi tali nyangkut dan nggak bisa turun. Padahal ketinggiannya belum ada 5 meter. Kemudian Kollin dan Micar bahu-membahu udah kayak lomba panjat pinang nolongin aku. Yaampun!


Akhirnya aku bisa naik dengan tenang. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Aku sempat hampir menangis ketika rasanya aku sudah lelah sekali dan sudah mau disitu saja. Tapi bagaimana lagi. Aku harus tetap naik. Sampai Kollin bertanya padaku yang sudah setengah naik, "Tiw, kamu mau turun apa lanjut?"

Aku bingung. Kalau naik, rasanya aku lelah. Tapi kalau turun susah lagi mindahin alatnya. "Kalau turun susah, Lin." Aku memberikan jawaban gantung kepada Kollin. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan dan... demi apapun lama banget! Rasanya usahaku yang sekian tidak membuahkan hasil. Berkali-kali aku mendongak ke atas tapi ternyata masih jauh, masih panjang tali yang aku aku naiki.

Hingga kurang lebih 5 meter menuju perhentian, aku sempat bingung mau bagaimana. Kakiku bolak-balik nyangkut di footloop (tali penyangga kaki). Aku berkali-kali diterikai, "Tiw udah sampe mana?", "Tiw, semangat! Dikit lagi sampe!" Dan aku hanya menjawab, "Bentaaar! Kakiku nyangkut!" Sambil ngos-ngosan dan mau nangis. Sumpah perjuanganku untuk sampai atas bener-bener banget deh.

Sedikit lagi sampai atas, Eci, Denden, Lusi, Cici, Micar, dan Laras turut menyemangati. Aduh, rasanya mau pingsan! Tapi lega karena sudah sampai di atas. Ketika di perjalanan sih bilangnya, "Aku sudah nggak mau ah kayak gini lagi." Eh pas sampe atas malah, "Besok-besok lagi ah." Hahaha. Ternyata memang asik banget!

Ini Goa Petruk

So, begitulah pengalaman caving dan SRT-ku. Semoga lain kali bisa share pengalaman lainnya. Aku masih pengen nyobain caving di goa yang ada airnya, tapi belum berani cave diving. Hahaha. Semoga ada waktu. Salam Lestari!

Purwokerto, 10 Januari 2016. 23:15.

Comments

  1. Jadi inget salah satu novel yang juga menceritakan tentang cave ini. Judulnya Land of Caving karya Jane M. Auel :)

    Seru banget ya Kapri...tapi saya liat gambarnya kayanya saya ga bisa deh, suka sesek kalau di ruangan gelap gitu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, aku jadi mau baca. Hahaha.
      Saya mah dimana-mana hatiku senang, Tant wkwk

      Delete
  2. waow keren. caving, aku jadi pengen nyoba :D
    oh ya itu menjadi bukan menjaid :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan dicoba kak. :D
      Iya itu typo. Terima kasih koreksinya :D

      Delete
  3. aku kira caving itu yang naik diatas ban terus nyusurin gua nya kayak goa pindul, ternyata lebih dari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik di atas ban? Mungkin itu kalo goanya berair kali ya jadi kudu pake ban. Aku belom pernah sih wkwk.
      Tapi memang sih caving nggak cuma itu kok :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)