Sunday, January 24, 2016

[BOOK REVIEW] Seribu Bangau by Yasunari Kawabata



Judul: Seribu Bangau
Pengarang: Yasunari Kawabata
Penerjemah: Endah Raharjo
Penerbit: Gading Publishing
ISBN: 978-602-149-136-2
Tahun Terbit: Januari 2015
Tebal Buku: 145 hlm.
---

Pertama membaca judul buku ini, saya kira akan menemukan berbagai kisah romantis antara muda-mudi. Namun ternyata buku ini sungguh berbeda. Seribu bangau yang tertera dalam buku ini tak lebih dari sekadar kain pembungkus yang bermotif seribu bangau. Sederhana sekali, ya?

Di dalam buku ini tentunya lebih menggambarkan perihal upacara minum teh. Dimana hampir di setiap babnya selalu disuguhi oleh segala hal tentang minum teh, termasuk detail peralatan minum teh dalam sebuah upacara. Adapun hal tersebut dapat ditemukan pada halaman pertama yang berisi catatan tentang upacara minum teh yang menjadi latar dalam kisah di buku ini.

Penjelasannya cukup detail, mengenai asal muasal upacara minum teh ini yang ditemukan pada abad ke-13 pada zaman Zen Buddhisme di Jepang. Dimana pada zaman itu teh dipercaya sebagai minuman paling sempurna untuk mengolah jiwa. Seperti yang kita tahu bahwa upacara minum teh di Jepang memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dengan menyeduh teh biasa pada umumnya. Namun dalam upacara ini, penyeduhan teh dilakukan dengan cara yang runut dan sesuai dengan tahapannya.

Buku ini pun hanya berisi 5 bab saja. Pada bab pertama menceritakan tentang pertemuan Kikuji Mitani, tokoh utama dalam buku ini, dengan si gadis pemilik kain bermotif seribu bangau di kuil Engakuji dalam upacara minum teh. Dimana pertemuan dengan si gadis, Yukiko Imamura, ditentukan oleh Kurimoto Chikako, seorang perempuan (atau laki-laki) yang telah mengabdi pada ayah Kikuji untuk merawat pondok teh. Di sini dijelaskan bagaimana Kikuji saat bertemu dengan Chikako dan pertemuan pertamanya dengan gadis Imamura.

Tak hanya bertemu dengan gadis Imamura, namun Kikuji juga bertemu dengan Bu Ota, mendiang istri ayahnya, atau bisa dibilang ibu tirinya. Dalam bab 2 ini terjadi percakapan yang cukup panjang tentang Bu Ota dan Kikuji hingga berakhir pada hubungan terlarang.

Bab 3 masih seputar upacara minum teh, dimana Bu Ota merasa bersalah entah karena kematian ayah Kikuji atau masalah lain. Rasanya ganjil sekali, saya tidak menemukan makna lain dari bab ini. Setelah bertemu dengan Kikuji, Bu Ota pergi. Anaknya, Fumiko, menitipkan Guci bercorak Shino kepada Kikuji yang akhirnya dijadikan tempat jambangan bunga.

Pada guci tersebut nyatanya merupakan guci yang diberikan oleh ayah Kikuji kepada Bu Ota. Kikuji sendiri menyimpannya sebagai cangkir minum teh sehari-hari, yang biasanya dipakai oleh Bu Ota untuk minum sehari-hari pula. Namun, di akhir cerita, Fumiko memecahkan cangkir tersebut dnegan dalih ada cangkir yang lebih pantas untuk digunakan dalam minum teh.

Hubungan Kikuji dengan Fumiko pun menjadi dekat, namun masih dibayangi oleh kematian Bu Ota. Sedangkan dengan Yukiko Imamura, Kikuji masih memikirkannya. Terakhir ia mendengar kabar dari Chikako bahwa gadis itu telah menikah, entah sebuah kebohongan atau bukan.
---

Entahlah, rasanya saya masih belum menemukan esensi apapun soal Seribu Bangau yang menjadi judul buku ini. Memang tidak lebih daripada selembar kain penutup yang bercorak seribu bangau. Pada keseluruhannya, buku ini menceritakan soal penyesalan dan kenangan.

Novel karya Kawabata ini bagusnya mendapat Pemenang Hadiah Nobel pada tahun 1968. Namun, saya masih tetap belum mengerti apa esensi dari novel ini. Hehehe :D

"Orang mati tidak akan menuntut pertimbangan moral pada orang yang masih hidup." (p. 72-73)

RATE: 3/5.

Purwokerto, 24 Januari 2016. 12:31.

No comments:

Post a Comment