Takdir Kita Sedang Berjalan

Pengharapan tidak selalu sesuai dengan keadaan. Itulah kenyataan.
Aku di sini, kamu di sana. Kamu ke sini, aku di mana?
Waktu kita tidak pernah cocok.

Membiarkan waktu berjalan memang baik. Sangat baik untuk ukuran dua orang yang tidak pernah bertemu lagi pasca perpisahan. Menjalin komunikasi seadanya, bicara seperlunya, dan aku yang masih berangan dan punya mimpi yang sama. Sampai akhirnya, kata-kata "sudah lelah" selalu menjadi akhir, meskipun aku berani memulainya lagi.

Di semester yang katanya hectic ini, aku memang benar-benar hectic. Tak ada libur, tak ada main, tak ada jalan-jalan. Pun dengan pikiran-pikiran dan rasa rindu yang entah kemana. Semuanya hilang. Seperti sudah tidak ada lagi kamu, kecuali dua bulan lalu itu.

"Kemarin kan dia ke sini."

Oh ya? Bagus, aku tidak sama sekali tahu soal ini. Bahkan aku tidak ada di tempat yang sama. Bahkan mungkin ketika aku memilih kesempatan lain (ke Jakarta) waktu itu, pasti kejadiannya akan sama seperti beberapa bulan lalu. Aku kemana, dia kemana. Rasanya seperti, takdir menentukan kita tidak berada di jalan yang sama. Baiklah, aku bisa apa.

Katanya sih "tidak ada yang tidak mungkin", tapi mengusahakan hal ini sungguh sangat sulit. Bahkan dalam mata terpejam sekalipun. Artinya, mimpi itu tidak lagi menjadi sebuah tujuan utama kehidupanku. Aku hanya merasa sulit dengan segala realitas yang ada. Juga dengan dia yang entah di mana. Meskipun sejatinya, aku beranggapan masih ada kesempatan.

Separuhku... (semoga) kamu.

Kepada Tuan yang di sana, aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi aku cukup peduli dengan segala hal tentang Anda.

Purwokerto, 21 Desember 2015. 00:58.

Comments

  1. Kamu siapa-siapa, kalau bukan, meski kamu kentut, tapi kamu siapa-siapa. beneran deh. hehehehehe

    Mampir dong ke blog akuuuuhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Tante... Baiklah nanti aku mampir. Terima kasih sudah mampir :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)