Sebuah Kekecewaan dan Lampu Kuning



Gaes, apakah hidup itu tidak luput dari rasa kecewa?
Ya namanya juga hidup, kan nggak selalu mulus.

Rasanya baru kemarin lho aku mencoba menjadi si professional. Dengan segala keterbatasan waktu, aku mencoba membaginya. Mencoba memaksimalkan semua kegiatan dalam 24 jam. Hasilnya memang tidak sia-sia, tergantung bagaimana aku mengaturnya. Sisanya ya kemarin malam itu. Aku kecewa.

Hari kemarin hari apa sih? Rasanya kok aneh banget. Tiba-tiba saja aku mendapat kabar yang sangat mengagetkan di sebuah grup LINE.

Aku mau rombak tim ini karena progress kita lambat. Ada kesalahan mendasar yang hidup di tubuh tim ini. Dan lagi-lagi ini soal monetisasi kita. – Seseorang.

Iya, kita sedang mencoba startup di bidang media. Awal terbentuknya aku memang diajak oleh seseorang yang menobatkan dirinya sebagai CEO, karena memang dia yang memiliki ide membuat website media ini. And I say yes for joined in this team. Langkah pertamaku masih ragu-ragu, apakah aku siap bekerja secara professional dengan membangun media ini bersama-sama? Sebulan kemudian, aku kembali ke kebiasaanku yang buruk: suka menunda-nunda. Beberapa waktu kemudian, aku kembali.

Bertemu orang baru memang terasa asing. Sungguh. Tidak ada yang aku kenal selain teman yang mengajakku ikut bergabung itu. Beberapa minggu sebelum hari ini, aku mencoba chat personal pada masing-masing anggota grup. Aku mencoba akrab, atau istilahnya, pedekate. Hahaha. Ya, selain karena aku mau kenal, aku juga nggak bisa hidup dalam keterasingan di grup itu.



Time flies and no progress anymore.

Apa hubungannya sama lampu kuning? Keragu-raguanku, gaes. Aku ragu dan aku selesai. Mereka pun selesai. Saat ini masih lampu kuning. Akhir tahun jadi lampu merah. Kita selesai.

Semua keterburu-buruan, semua ketergesaan, semua rasa lelah dan ketidakpuasan, semua keinginan untuk jadi perfeksionis, dan semua perdebatan yang tak menghasilkan apa-apa. Pada akhirnya, aku merasa pendapat kami tidak didengar. Hanya seperti sekumpulan kata yang sia-sia. Sampai detik ini aku membenci kalimat ini, “Kalau kamu merasa berpotensi, kenapa kamu nggak coba join lagi?”

Seperti omong kosong. Tidak dipungkiri bahwa kejadian yang sama akan berulang ketika kita tidak berani mendengar pendapat. Silakan saja mendebat sampai berbusa-busa, tapi keputusan tetap pada tangan yang sama; tangan si “pemilik”.


Dengan rasa kecewa yang amat sangat.
Afrianti Eka Pratiwi

Purwokerto, 8 Desember 2015. 18:33.

Comments

  1. itu tandanya kita pelu pengingat. bersyukur masih tersadarkan...

    ReplyDelete
  2. wah keren, tapi sayang banget kalau harus berakhir..
    menyatukan visi dan misi dari karekter orang yang bermacam2 memang gak mudah ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, Kak. Maka dari itu saya nggak tahu lagi mau berpendapat seperti apa.

      Delete
  3. hehe, memang menyatukan fikiran orang itu tidak mudah.. saya sekarang juga lagi jadi koordinator perangkat opensource, ini pengalamanku pertama kali. semangat mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya kak. Butuh kesabaran dan perjuangan.
      Selamat ya. Semoga amanah menjadi koordinatornya. Salam kenal :D
      Semangat juga!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)