A Beautiful Time To Go



Sebuah pertanyaan singkat tentang kita…
Tentang dunia milik kita yang tak pernah mengucap janji.

Malam semakin larut, aku tak juga terlelap. Pun dengannya. Saat-saat kosong kita selalu terisi. Seperti gelas-gelas anggur di sebuah bar, entah di mana. Aku melamun, menunggu balasan dari pesannya yang tak kunjung datang. Bukankah menunggu itu membosankan? Sangat. Dan aku tetap menunggu.

Hai, langit, percayakah kau bahwa aku menjatuhkan diriku di tempat lain, sedangkan aku masih terjebak di tempat yang lama? Pasti tidak, tapi kenyataannya iya.

Aku jatuh cinta. Apakah ini bisa disebut jatuh cinta? Atau hanya rasa nyaman yang hidup di antara kita berdua? Oh, maksudku bukan kita berdua, tapi hanya aku.
---

Aku menatapnya, lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Sontak semua mata menuju ke arahnya ketika si pembawa acara memanggilnya. Aku masih menatapnya, mencari-cari sesuatu yang ada pada dirinya. Lelaki itu… aku tidak mengenalnya. Namanya pun aku tidak tahu. Peduli apa aku padanya? Dia bukan siapa-siapa.

Kalau aku bisa kembali, aku memilih mundur saat itu juga.

Bukankah waktu tak pernah kembali? Aku… pada akhirnya berkenalan dengannya. Dengan lelaki yang hanya kukenali lewat matanya dan suaranya. Ah, suara itu… aku suka. Dia menyebutkan namanya yang tak jelas kudengar.

Ada yang kembali hidup di antara kesunyian setelah perginya seseorang. Ada yang mengalun lembut saat kudengar ia bicara siang itu. Perasaan macam apa ini?  Seperti angin yang menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela. Ia terlalu dingin untuk menjadi pagi dengan matahari. Ia terlalu dingin seperti malam tanpa bintang.

Dia masih di sana, duduk bersama temannya. Tak sedikitpun ia melirik ke arahku, sedang aku mencuri pandang ke arahnya.
---

Time gone… me too.

Kita telah ada pada waktu yang sama. Kita sedang berdiri di tempat yang sama. Bicara soal masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa depan bukan tentang kita, namun tentang impian kita. Segala jenis harapan yang kita bicara pada malam itu. Malam kesekian setelah kita menjadi akrab.

Pendar warna oranye serta suara bising kendaraan tak menyurutkan semangatnya untuk bercerita. Aku hanya terdiam takjub mendengar kisahnya. Hal lainnya, aku tidak tahu harus bicara apa. Dia sudah cukup melengkapiku dengan segala ceritanya. Malam itu sempurna. Kita seumpama kekasih yang sedang makan malam dengan suasana romantis. Ah, kekasih kubilang? Kata macam apa itu? Bukankah kita tidak pernah mengucap janji satu sama lain? Baiklah, lupakan saja.

Aku tidak yakin untuk mengingat semua hal tentang kita. Selama ini berjalan tanpa sebab, tanpa kusadari asal muasalnya. Dimana aku bisa berdiri bersisian dengannya. Menonton bioskop bersama. Mungkin itu sebuah kewajaran yang dilakukan seorang teman. Kenyataannya, kita entah bisa disebut teman atau tidak, kecuali bila aku berharap lebih dari sebuah pertemanan.

Apakah percakapan kita hanya ungkapan kesepian di malam yang panjang?

Aku tidak percaya ini terjadi. Aku jatuh dan benar-benar jatuh. Aku menganggap bahwa semua ini adalah hal biasa. Sejak lama aku berkata, “No, you’re not fallin love with him.”  Dan aku mulai tidak percaya kata-kataku sendiri.
---

Mungkin kita tidak pernah memulai. Kita membiarkan laju kehidupan berjalan apa adanya. Tak ada janji. Tak ada kata-kata yang mampu membuat kita bersama, bahkan hingga detik ini. Aku mungkin terlanjur membiarkan dirinya masuk terlalu jauh. Menjelma jadi langit senja yang selalu aku rindukan.

Di antara malam yang berbisik lirih, kita memang harus mulai menjadi si pelupa dan saling melupa. Demikian hidup kita, terutama hidupku, tidak akan lagi terisi olehnya. Aku menyerah. Aku menyerah pada sesuatu yang tidak pernah aku (ingin) mulai. Entahlah, aku tidak ingin lagi bertemu dengan dia. Maaf, aku telah menjadi jahat dan egois.

Pesanku, jangan pernah memulai jika kamu tahu tak akan bisa bersama.
---

NB: Boleh lho, bacanya sambil dengerin lagu Yura – Berawal Dari Tatap. :)
Thank you for reading this post.
Purwokerto, 3 November 2015. 22:17.

Comments

  1. Baguuussss cerpennya. Aku baper bacanya, karena sempet ngerasain juga hihiii.

    Btw, salam kenal Afrianti =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Sheila. Salam kenal kembali yaaa :)
      Makasih udah mau mampir dan baca tulisan ini. Hrhehe. Wah, kamu pernah ngerasain hal ini juga? Gimana rasanya? Hehehe

      Delete
  2. terimakasih kak Af, sudah berpartisipasi.

    tetep semangat ya menulisnya :)

    ReplyDelete
  3. Sedih banget yahhh :(
    Iya yah kadang suka kesel sama yang hobi PHP..
    Nice writing, Afrianti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang sedih sih, Kak. Tapi mau gimana lagi. heheh
      Thankyou :)

      Delete
  4. Banyak ornag bilang menunggu tanpa kepastian itu sangat menyebalkan dan membosankan. Tapi entah kenapa aku malah suka menunggu walau kadang apa yang kutunggu tidak pernah datang :-D

    ReplyDelete
  5. melupakan dan dilupakan. sendu sendu gimana.... gitu. itu bagian terbaper yang si dia sedang duduk bersama temannya, diliatin tapi dia nggak ngelirik. true story... pastu itu curcol khan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sendu banget, untung nggak hujan hahaha
      Masnya jangan buka kuncian saya dong hahaha

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)