[BOOK REVIEW] Just So Stories by Rudyard Kipling



Judul: Just So Stories
Pengarang: Rudyard Kipling
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-7803-3
Tahun Terbit: 2011
Tebal Buku: 160 hlm.

BLURB

Just So Stories adalah kumpulan kisah pengantar tidur yang ditulis oleh Rudyard Kipling – penulis novel klasik legendaris The Jungle Book. Dalam kumpulan cerita pendek ini, kisah-kisah lucunya bukan sekadar cerita, tapi juga dihiasi ilustrasi goresan Staven Andersen yang memperkaya kisah-kisah fabel ini.

Walau ditulis lebih dari seratus tahun lalu, cerita-cerita dalam Just So Stories tak lekang oleh zaman karena dipadukan dengan mutiara kebijaksanaan. Di sini kita bisa membaca kisah kenapa unta berpunuk, bagaimana macam mendapat tutulnya, kenapa gajah punya belalai, bagaimana alphabet diiptakan, dll. Semua kasha ini akan membawa Anda menuju petualangan menembus waktu dan imajinasi pengarang peraih nobel sastra, Rudyard Kipling.

Buku ini bisa dibaca semua umur dan terutama bisa menjadi hadiah indah bagi putra-putri tercinta untuk membuka wawasan imajinasi dan kecintaannya terhadao buku.
---

Buku ini pada dasarnya berisi tentang dongeng anak-anak yang biasa kita dengarkan sewaktu kecil atau bahkan sekarang ini. Dongeng ini memang agak tidak masuk akal, namun menghidupkan imajinasi yang lebih baik ketika membacanya. Terdapat 12 cerita yang memang sengaja disuguhkan dengan bahasa sederhana yang mampu membuat pembacanya mudah memahami, terutama anak-anak.

Tak hanya itu, cerita di dalam buku ini lebih bisa digunakan untuk menemani anak-anak menjelang tidur. Walaupun berupa dongeng, cerita ini tetap memiliki nilai moral. Contohnya pada cerita “mengapa unta berpunuk”  yang mengajarkan bahwa kita tidak boleh bermalas-malasan. Hewan saja akan mendapat akibatnya jika bermalas-malasan, bagaimana dengan manusia.

Cerita favorit saya dalam buku ini adalah “Surat Bergambar” dan “Bagaimana Alfabet Dirumuskan”. Dalam cerita surat bergambar, diceritakan bahwa seorang anak bernama Taffy sedang memancing bersama ayahnya, namun tombak snag ayah patah. Kemudian sang anak bertemu orang asing yang sama sekali tidak mengerti bahasanya, maka Taffy meminta tolong pada orang asing tersebut untuk mengambilkan tombak di goa rumahnya. Karena tidak bisa menulis dan tidak paham bahasanya, maka Taffy memilih untuk menggambarkan saja.

Nah, gambar yang dibuat Taffy adakah gambar anak-anak biasa. Sehingga ketika orang asing tersebut membawa gambarnya pada ibu Taffy, hal yang terjadi adalah kesalahtafsiran. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui gambar pun dapat menyebabkan salah tafsir.

Sedangkan dalam cerita “Bagaimana Alfabet Dirumuskan” ini benar-benar membuat saya cukup tercengang. Pasalnya, Taffy dan ayahnya mencoba menemukan alphabet sehingga mereka bisa meninggalkan pesan dengan menuliskannya di dinding goa. Dan proses menemukan alphabet pun sungguh sangat sederhana. Misalnya ketika akna membuat huruf A, maka Taffy dan ayahnya mencoba mengatakan “Ah!” dan terbentuklah huruf A, yang awalnya berasal dari gambar mulut ikan terbalik.

Pada intinya buku ini mampu menghibur siapapun dengan cerita-cerita dongeng yang ada di dalamnya.
---
Quotes:

Terkadang orang memang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diri mereka sendiri, - Ular. (p. 46)

RATE: 4/5

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)