Aku Enggak (Mau) Baper.

Sumber: google.com

Aloha.
Jadi, di malam yang sesunyi ini~
Eits, bukan nyanyi lho, tapi memang keadaan kamarku sedang sepi. Hanya suara desing baling-baling kipas yang berputar menemani.

Akan kuceritakan lagi bagian terunik sekaligus terklise dari plot kisah romansa anak muda. Ini tentang baper, (ter)bawa perasaan. Iya, kata-kata itu sedang trend sekali rupanya. Hingga rapat evaluasi ospek pun membawa kata-kata ini dengan mudahnya.

Baper itu apa sih? Orang-orang bilang sih ini karena kita terlalu peka sama perasaan. Sedikit-sedikit diambil hati. Jadinya baper deh. Oke, ini opini tanpa alasan. Iya, itu aku. Kamu tahu kan, Bee? 

Karena ini postinganku, aku yang nulis, aku yang ngeblog, blognya juga punyaku, jadi isinya pasti selalu kusangkutpautkan padaku. Nah, kepadamu yang tadi membuat status di bbm, aku sedang tidak ingin berekspektasi. Peduliku bukan urusanmu, kan? Tapi pikiranmu mengarah kepada kenyataan yang belum kuketahui. Sehingga ekspektasi dan praduga itu tetap muncul. Itu buatku? Kenapa? Takkan berani kutanyakan langsung padamu karena aku sadar diri, aku bukan siapa-siapamu.

Hai, kamu. Apakah semudah itu untuk berubah? Untuk menjabarkan kalimat-kalimat panjang dalam percakapan kita sebelumnya? Apakah kesibukanmu memang disengajakan untuk melupakanku? Kenapa? Iya, aku tidak berani bertanya langsung. Iya, aku masih kaget dengan kalimatmu itu. Entahlah, kita memang belum bertemu lagi kan? Mungkin bulan depan seperti yang kau agendakan.

Kalau kamu bahkan (ber)siap melupakanku dengan kesibukanmu, maka aku juga harus. Sayangnya ada satu agenda milik kita yang harus kita kerjakan bersama. Entah bagaimana nanti. Intinya, aku tidak (mau) baper.

Purwokerto, 27 Agustus 2015. 23:57.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)