[BOOK REVIEW] Rumah Lebah by Ruwi Meita



Judul: Rumah Lebah
Pengarang: Ruwi Meita
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 979-780-228-0
Tahun Terbit: 2008
Tebal Buku: x + 286 hlm.


BLURB

Tak ada yang pernah tahu kapan biji tanaman jarak pecah karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematianmu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba. Bersiap-siaplah selalu...

Mala tahu ini bukan sebuah mimpi buruk. Bukan halusinasi sebagaimana yang dipikirkan Nawai. Ini kenyataan. Ada enam orang asing yang hidup dan bernapas di rumah lebah. Mata telanjang milik gadis cilik genius berjiwa ganjil itu melihat semuanga. Melihat apa yang tak diketahui dan tak dilihat orang. Tidak juga Nawai.

Atau tepatnya, tak boleh ada seorang pun mengetahui itu semua. Sebab, itu justru akan menjadi gladi kotor kematian bagi sang ratu lebah. Sosok yang seharusnya tak boleh diganggu keberadaannya.
---

Buku ini memiliki alur yang demikian sederhana, tentang keluarga kecil Winaya, Nawai, dan anak mereka, Mala. Mereka tinggal di sebuah rumah di pedesaan yang ada di kaki bukit. Apabila melihat bukit dari rumah mereka, maka akan tergambar sepertu seorang putri yang sedang tidur. Itulah mengapa perbukitan itu dinamakan Bukit Mata Kaki, karena rumah mereka tepat berada di mata kaki sang putri.

Nawai adalah seorang ibu rumah tangga biasa, sedangkan Winaya adalah mantan jurnalis sebuah media yang kini beralih profesi menjadi penulis novel. Menurutnya, menulis fiksi adalah salah satu cara menyampaikan fakta dengan cara yang berbeda.

Adalah Mala, seorang anak kecil yang memiliki kejeniusan lebih dibanding anak seusianya. Ia tak lagi bersekolah di sekolah formal karena tak ada kurikulum yang bisa mengikuti kejeniusannya. Pada akhirnya, Winaya dan Nawai memilih untuk mengajari Mala di rumahnya. Mala adalah anak yang teratur, terlebih dalam penyusunan buku ensiklopedia yang sudah ia baca sejak masih berumur tiga tahun. Mala berbeda dari kebanyakan anak seusianya. Dia bisa melihat sesuatu yang tak seharusnya dilihat.

Ini tentang rumah mereka. Bahwa rumah yang mereka tempati memiliki sebuah ruang bawah tanah yang mereka sulap menjadi tempat kerja. Winaya, dengan ruang menulisnya, dan Nawai dengan ruang melukisnya. Sayangnya Mala tak pernah berani masuk ke ruang bawah tanah. Anak itu selalu mengatakan bahwa Satira akan menyakitinya. Bagi Winaya dan Nawai, Satira adalah salah satu khayalan dari anaknya, demikian dengan Dizzel, boneka beruang yang selalu menjadi teman bermain Mala. Tak hanya Satira, ada pula Wilis, laki-laki hijau yang tinggal di rawa-rawa, kemudian ada pula Abuela yang gemar mengajarkan bahasa Spanyol pada Mala. Entah itu khayalan atau bukan, Mala mengatakan itu semua seakan-akan mereka nyata.

Rumah mereka di perbukitan ternyata bertetangga dengan vila milik seorang pengusaha bernama Rayhan. Ia dikenal sebagai seseorang yang memuja kesempurnaan dan seringkali membawa perempuan yang berbeda ke vilanya. Adalah Alegra, seorang artis ibu kota yang menjadi salah satu perempuan yang berhubungan dengan Rayhan dan terpilih memerankan tokoh utama dalam novel yang ditulis Winaya.

Suatu hari terjadi pembunuhan sadis yang dilakukan di desa itu. Korbannya adalah seorang wartawan dari majalah entertain yang memang sebelumnya memeras artis-artis dari foto-foto aib yang dimilikinya. Dugaan hampir merujuk pada Alegra, karena dialah satu-satunya artis yang sebelumnya sempat diperas oleh wartawan itu. Tetapi ternyata pelakunya bukan Alegra melainkan seorang perempuan lain yang tak pernah diduga, sang ratu lebah.
---

Good job for Mbak Ruwi Meita yang telah menulis buku ini dengan alur yang rapi. Bahkan saya tidak akan pernah menyangka jika buku bertemakan psikologi. Ya, di akhir buku kita mengetahui bahwa salah satu tokoh dalam buku ini mengalani Multipersonal Disorder atau kepribadian ganda yang memiliki beberapa alter dalam dirinya. Saya pikir buku ini bercerita soal Mala yang merupakan anak indigo, karena ia berbeda dari anak-anak lainnya. Ternyata sungguh ending yang sangat mengejutkan.

Secara keseluruhan, buku ini mengasyikkan dan membuat saya ingin cepat-cepat membacanya hingga habis karena penasaran. Alurnya cukup sederhana dan mengarahkan pembaca hingga ke akhir, karena di awal sama sekali tak akan menyangka bahwa endingnya seperti itu. Namun di beberapa kalimat masih ada yang tidak sesuai dengan EyD dan membuatnya agak aneh jika dibaca.

Jujur, saya selalu suka novel dengan basic psikologi yang seperti ini. Membuat saya berpikir bahwa manusia memang seringkali rumit dan tak tertebak. Good job lah buat Mbak Ruwi yang berhasil membuat novel pertamanya yang mencengangkan saya.

RATE: 3,5/5.

Purwokerto, 8 Juli 2015. 05:24.

Comments

  1. Bukunya Ruwi Meita emang bagus-bagus :D eh Mbaknya Purwokerto ternyata :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tah? Saya baru baca satu buku ini saja. Hehe. Iya, nih. Saya di Purwokerto. Kamu juga? :D

      Delete
  2. baru tau bagus kyknya yah bukunya, pinjam donk bukunya
    saya ada novel sweetest pain, saling pinjam yuk mau gak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo, bukunya memang bagus kok. Boleh saja kalo mau saling pinjam :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)