Monday, July 20, 2015

[BOOK REVIEW] Ciuman di Bawah Hujan by Lan Fang



Judul: Ciuman di Bawah Hujan
Pengarang: Lan Fang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-5528-7
Tahun Terbit: 2010
Tebal Buku: 360 hlm.

BLURB

Politisi identik dengan orang-orang ambisius dqlam meraih kekuasaan. Tidak jarang demgan menghalalkan segala cara. Tetapi Yukio Hatoyama, perdana menteri Jepang yang mulai menjabat 16 September 2009 mempublikasikan filsafat yang sulit dipahami apalagi diterapkan, yaitu: politik itu cinta.

Mungkinkah?

Novel ini bercerita tentang Ari, politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Juga tentang Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Dan tentang Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

Dengan rasa setia kawan, tanggung jawab, pengorbanan, kerinduan dan pengharapan, Ciuman di Bawah Hujan menerabas dunia politik, dunia tanpa ampun itu.
---

Buku ini merupakan kumpulan cerita yang dimuat di Harian Kompas sejak Oktober 2009 hingga Februari 2010. Buku ini tidak lagi seperti kumpulan cerita, melainkan menjadi sebuah novel apik yang memiliki alur yang rapi. Novel ini bercerita tentang Fung Lin, Ari, dan Rafi.

Fung Lin adalah seorang wartawan yang diharuskan mewawancarai seorang pejabat mengenai TKW. Pada pertemuan inilah ia mengenal Ari, pejabat yang seharusnya diwawancarainya, namun tertunda karena ia sama sekali tak menganggap bahwa orang yang ada di hadapannya adalah pejabat. Penampilan Ari yang dianggapnya tidak sesuai dengan pejabat membuatnya merasa aneh pada awalnya, namun selanjutnya kenyamanan itu hadir dan membuatnya lebih akrab bersama Ari.

Ari, adalah seorang pejabat, dewan rakyat yang sederhana. Sikapnya itu bahkan tidak seperti pejabat kebanyakan. Entah memang tabiat Ari yang begitu, atau Fung Lin yang memandangnya seperti itu. Kedekatan Fung Lin dengan Ari tak lebih dari sekadar sahabat. Mereka saling mengisi. Ari, dengan segala kesibukannya, selalu menyempatkan waktu untuj bertemu dengan Fung Lin, mendengarkan ceritanya.

Fung Lin yang seoranf wartawan sempat ingin menjadi penulis. Ia menuliskan kisah seorang TKW yang bekerja di Hong Kong dan menyerahkannya kepada Ari agar menjadi pembaca pertamanya, namun Ari tak pernah selesai membacanya. Menurutnya, membaca itu berbeda dengan mendengarkan. Ia bisa mendengarkan Fung Lin bercerita, namun untuk membaca ia butuh fokus yang lebih.

Maka, Ari menyuruh Fung Lin menyerahkan naskahnya kepada Rafi, teman Ari di kantor dewan. Disinilah Fung Lin merasa bahwa ia pernah bertemu Rafi. Rafi yang seperti embusan angin. Rafi yang seperti... Anto, seseorang yang pernah mengisi hari-hari Fung Lin saat kuliah dulu. Rafi yang tak mudah digenggam. Dingin, tapi menyejukkan seperti hujan. Rafi yang diingatnya pernah menciumnya di bawah hujan. Apakah itu Rafi?

Fung Lin mungkin jatuh cinta dengan Rafi. Bahwa bagi Rafi, Fung Lin adalah angin yang juga tak mudah ditangkap. Ia harus berhati-hati, karena ia seorang anggota dewan. Ia tidak bisa bersikap seperti Ari kepada Fung Lin. Ia dan Ari berbeda. Tetapi Rafi menginginkannya. Ia menginginkan Fung Lin.
---

QUOTES OF THE BOOK.

Menunggu adalah pekerjaan paling menjemukan. Celakanya, yang ditunggu seringkali menganggap bahwa itu adalag kewajiban si penunggu. Yang ditunggu tidak pernah merasa berdosa karena telah membuat orang lain menunggunya. (p.19).

Masa lalu seperti asap rokok. Diisap, diembuskan, menguap, buyar ditiup angin. Tetapi ternyata nikotinnya tetap membercak di paru-paru. Bekas masa lalu tetap meninggalkan jejak. (p.27)

Rupanya pejabat tidak usah repot mempergunakan tangan sendiri. Karena pejabat bisa mempergunakan tangan orang lain. (p.64)

Kepahitan hidup sudah menyibukkan orang-orang kecil sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk bermimpi lagi. (p.91)

Karena kemarahan adalah sesuatu yang membutakan dan menulikan. (p.182)

Bagi politisi segala sesuatu memang berbahaya. Bukankah tidak ada sahabat sejati bagi politisi? Yang ada hanyalah kepentingan sejati. (p.213)
---

Secara keseluruhan, novel ini membuat saya ingin cepat-cepat menghabiskannya. Bahasanya ringan dan mengalir. Meskipun novel ini memiliki ending yang mengecewakan bagi saya. Entah sang penulis yang bingung menuliskan endingnya, atau bagaimana. Pada intinya, novel ini cukup sederhana menggambarkan alurnya. Judulnya pun hanya diulas di akhir, bahwa Fung Lin memiliki ingatan akan seseorang yang menciumnya di bawah hujan.

Tak hanya itu, novel ini bersinggungan dengan politik zaman 1998, juga tentang kisah kecil Fung Lin yang merupakan keturunan Tionghoa.

RATE: 3,5/5.

Cileungsi, 20 Juli 2015. 21:07.

No comments:

Post a Comment