Thursday, June 25, 2015

[NULIS KAMISAN] Bunga Lonceng Abadi

Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana sejuknya kota kita 20 tahun lalu. Saat kaki-kaki kecil kita berlarian tanpa alas. Saat rerumputan masih mampu menyembunyikan tubuh mungil kita. Tidak ada yang luput mengatakan bahwa kota kita adalah bagian dari surga yang ada di bumi. Setidaknya, ibuku bilang begitu.

Entah bagaimana rupa kota kita saat ini, juga rupamu yang sudah hampir 15 tahun tak kutemui lagi. Aku tetap tinggal di kota itu selama 3 tahun sebelum kau pergi. Kemudian aku menyusul ke kotamu yang baru, tapi tak kutemukan sosokmu.

Langkah-langkah penuh harap kujejaki di kota berkekuatan politik terbesar di negeri ini. Juga dengan gedung-gedung yang berjajar bagai balok-balok ukuran raksasa yang padat. Aku sungguh dipaksa mengerti bagaimana manusia bisa hidup di dalam gedung tersebut tanpa ada pohon-pohon di sekitarnya? Ingatan itu membawaku tepat ke 20 tahun silam.
---

Tak ada yang peduli bagaimana cara berpakaian kita di sekolah. Kita bersekolah dengan seragam seadanya, tanpa alas kaki. Bukan karena keluargaku tak mampu, apalagi kau. Namun karena memang teman-teman kita tak satupun menggunakan alas kaki saat bersekolah. Sepatu putihmu selalu kautinggalkan di kolong meja, kemudian menyusul yang lain berlari ke kebun belakang sekolah.

Kebun itu ibarat tempat kita belajar tumbuh-tumbuhan secara langsung. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding belajar langsung dari alam. Ibu guru selalu bilang, "Alam akan mengajarkan apapun kepada kita jika kita mau mempelajarinya."

Aku ingat betul bagaimana kau begitu terpana melihat sekumpulan bunga liar yang berbentuk lonceng. Belakangan aku tahu bahwa bunga itu bernama latin Hyancinthoides non-scripta atau sering disebut Bluebells (Bunga Lonceng Biru). Hari-hari berikutnya kau sering mengajakku ke kebun hanya untuk melihat bunga-bunga itu bermekaran. Hingga akhirnya kau menobatkan bunga itu sebagai bunga favoritmu.



"Aku ingin menanam ini di rumah, Ded," katamu ketika bunga-bunga itu bermekaran. Kelopaknya semakin mirip dengan lonceng di gereja seberang balai kota.

"Pasti. Ayahmu pasti bisa membelikan bibitnya di pasar," saranku. Kau mengangguk takzim tanpa menoleh sedikitpun dari bunga-bunga itu. Bukankah bahagia itu sederhana?

Lama terdiam, akhirnya kau bicara lagi. "Ded..." Aku yang sedang mengorek-ngorek tanah mencari cacing untuk pakan ayamku di rumah menoleh ke arahmu. "Suatu hari nanti... Setelah kita lulus sekolah... Siapa yang akan merawat bunga-bunga ini?"

Aku termenung. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. "Entah." Akhirnya hanya itu yang bisa kuucapkan padamu.

Dua tahun kemudian, tiga bulan sebelum kelulusan, kau pindah rumah ke kota. Pada akhirnya kenyataan itu terjadi. Aku tidak lagi pernah bermain ke kebun belakang sekolah setelah kau pindah. Meskipun aku selalu ingin tahu bagaimana bunga-bunga itu tumbuh dan mekar. Nyatanya aku tak pernah melakukannya barang sedikitpun.
---

Kota barumu tak begitu menyenangkan. Sangat berbeda dengan kota kita yang lama. Setelah kepindahanmu itu aku tidak lagi mendengar kabar apapun darimu. Hingga saat ini aku harus bersusah payah menjadi karyawan di perusahaan di jantung ibu kota. Apa daya, ini kehidupan nyata, bukan dunia khayalan seperti dalam buku dongeng. Namun, sejauh-jauhnya aku melangkah, aku selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa kau adalah teman kecil yang membuatku punya mimpi.

Aku ingat ibu pernah memberiku sebuah surat yang katanya darimu. Entah mengapa kau tidak memberiku kabar ketika datang ke kota kita. Ibu bilang kau terlalu terburu-buru untuk menunggu aku pulang dari balai kota. Ya, sementara memang aku bekerja di sana sebelum aku berangkat ke kota barumu itu. Kata ibu juga kau sempat menengok ke kebun belakang sekolah kita dulu. Aku tersenyum kecut.

Semua sudah berubah, Lala. Tak ada lagi bunga lonceng biru kesayanganmu. Bahkan sama halnya dengan sekolah kecil kita. Kau tentu sudah lihat bagaimana lokasi bekas sekolah dan kebun kita berubah jadi pasar swalayan. Meskipun begitu, sesungguhnya kenangan masa kecil kita tetap abadi dalam tembok-tembok itu. Juga tentang bunga lonceng biru yang tetap abadi dalam ingatan kita.
---

Terinspirasi oleh puisi Widji Thukul - Bunga dan Tembok.

Purwokerto, 25 Juni 2015. 22:17.




2 comments:

  1. Segala hal indah memang akan abadi dalam ingatan. Cerita yang manis, Afri.

    ReplyDelete