Saturday, June 27, 2015

[BOOK REVIEW] The Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides



Judul: The Virgin Suicides
Pengarang: Jeffrey Eugenides
Penerjemah: Rien Chaerani
Penerbit: Dastan Books
ISBN: 978-602-247-131-8
Tahun Terbit: Cetakan 6, 2013
Tebal Buku: 296 hlm.

BLURB

Michigan, awal 1970-an. Keluarga Lisbon adalah keluarga yang sangat religius, keluarga biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Sampai suatu ketika satu demi satu anak gadia keluarga itu mengakhiri hidup mereka sendiri secara misterius pula. Gadis-gadis keluarga Lisbon berumur tigas belas (Cecilia), empat belas (Lux), lima belas (Bonnie), enam belas (Mary), dan tujuh belas (Therese).

Cecilia, si bungsu, menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi. Kedua tangannya mendekap gambar Perawan Suci. Percobaan pembunuhan pertamanya ini gagal. Namun, ia berhasil dalam percobaan keduanya. Tubuhnya meluncur dari lantai atas rumah. Keberhasilan Cecilia diikuti oleh keempat saudarinya, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Gadis-gadis keluarga Lisbon begitu terobsesi dengan kematian. Tidak ada seorangpun yang tahu misteri di balik itu semua. Tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon...
---

Buku ini menjadi buku dengan teka-teki yang tidak terselesaikan. Saya mungkin akan bertanya-tanya mengapa Opa Jeffrey memilih menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam bukunya. Sehingga ending cerita tetap menggantung tanpa ada penyelesaian. Meskipun dari akhir kehidupan keempat gadis Lisbon sudah bisa dibilang ending. Tetapi saya masih kurang puas dengan ceritanya yang menyisakan misteri.

Baiklah, kisah ini dimulai saat Cecilia ditemukan di bak mandi penuh darah setelah menyayat pergelangan tangannya. Tak ada yang tahu apa motif Cecilia melakukan bunuh diri. Bahkan orangtuanya merasa bahwa keluarga mereka baik-baik saja. Kejadian itu membuat heran ibunya, namun keluarga itu membuatnya terlihat tidak pernah terjadi apa-apa.

Cecilia yang selamat melakukan perawatan di rumah sakit. Dokternya sempat berkata bahwa, "Apa yang kau lakukan di sini, Sayang? Kau bahkan belum cukup dewasa untuk mengerti betapa sulitnya hidup ini."

Cecilia menjawab dengan sarkas, "Terang saja. Anda tak tahu bagaimana rasanya menjadi anak perempuan berumur tiga belas tahun." Jawaban Cecilia sungguh mencengangkan. Pada akhirnya dokter melakukan serangkaian tes mental kepada Cecilia dan didapatkan bahwa hasilnya seperti sebuah permintaan tolong yang dilakukan oleh Cecilia. Dan cara yang dipilihnya untuk keluar dari kungkungan itu adalah bunuh diri.

Sekembalinya di rumah, keluarga Lisbon membuat pesta kecil-kecilan atas saran dokter dan mengundang beberapa anak laki-laki tetangga mereka. Namun di sinilah akhir hidup Cecilia. Ia melompat dari jendela kamarnya hingga tertancap di pagar rumah.

Buku ini memakai sudut pandang empat orang anak laki-laki yang merupakan tetangga keluarga Lisbon. Sehingga mereka sendiri masih kebingungan apa sebabnya Cecilia menginginkan bunuh diri disaat keluarga mereka membuat pesta untuk dirinya. Setelah Cecilia meninggal, semua kembali seperti sedia kala. Seperti tak terjadi apa-apa. Keempat saudarinya pun melanjutkan kehidupan seperti biasa.

Keluarga Lisbon merupakan keluarga yang taat beragama. Ibu mereka memang sangat ketat menjaga putrinya agar tidak berhubungan dengan laki-laki. Kehidupan gadis-gadis itu hanya berkisar seputaran sekolah, gereja, dan rumah. Tak ada kegiatan lain yang bisa mereka lakukan. Mungkin itu sebabnya mereka yang menginginkan kebebasan malah memilih untuk bunuh diri sebagai kunci kebebasannya.

Dari keempat gadis Lisbon itu, Lux-lah yang paling berani mengekspresikan rasa ingin tahunya terhadap laki-laki. Meskipun itu dilakukannya dengan diam-diam dan tidak di deoan orangtuanya. Seperti suatu ketika Lux dan tiga saudarinya diajak berkencan oleh Trip (pacar Lux) dan 3 laki-laki lain. Dengan keengganan, ibu mereka akhirnya menyetujui dengan syarat harus pulang tepat waktu. Namun, Lux dengan gairah mudanya melanggar syarat tersebut hingga akhirnya mereka berempat dihukum tak boleh keluar rumah.

Hal ini sangat tak bisa dibayangkan. Bagaimana rasanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun. Keluarga mereka pun dikenal tak acuh pada tetangga. Sehingga suasana rumah semakin suram karena keluarga ity tak pernah sekalipun keluar. Bahkan mereka memesan bahan makanan dalam jumlah banyak agar tidak perlu sering keluar rumah. Tidakkah itu keterlaluan?

Saya sendiri meyakini bahwa terlalu lama di dalam rumah bisa membuat gila. Entahlah. Pada akhirnya gadis-gadis itu memilih untuk bunuh diri menyusul Cecilia, daripada terus-menerus terkurung di dalam rumahnya sendiri. Namun, tak ada yang tahu apa sebenarnya yang mereka rasakan.
---

Saya masih penasaran! Saya mungkin tidak bisa menjelaskan dari sisi psikologi. Meskipun hal ini pernah dibahas di grup whatsapp Klub Buku Indonesia. Pada intinya, gadis-gadis keluarga Lisbon itu membutuhkan apa yang selayaknya didapatkan oleh remaja seusia mereka. Namun yang saya sayangkan adalah ketika dialog si ibu bilang bahwa, "anak-anak kami tak pernah kekurangan kasih sayang. Kami selalu memberinya kasih sayang." Halo, Bu, bukankah kasih sayang bukan hanya dari orangtua? Ini masalah perkembangan manusia lho. Manusia yang dikurung di rumah dan dilarang ini itu pasti sulit berkembang. Terlebih remaja yang memiliki sifat ingin tahu yang besar.

Saya sempat kesal membaca buku ini. Apakah pola pengasuhan orangtuanya yang salah?

Segi penceritaan lumayan. Untuk teknis penulisan, paragraf terlalu mepet, bikin mata capek :(
---
Quote:

"Pada kebanyakan orang, bunuh diri adalah seperti permainan rolet Rusia. Hanya satu bilik yang berisi peluru. Pada gadis-gadis keluarga Lisbon, senaoan itu terisi penuh. Satu peluru untuk menyiksa keluarga. Satu peluru untuk kecenderungan penyakit genetik. Satu peluru untuk kekecewaan masa lalu. Satu peluru untuk momentun yang tak terelakkan. Dua peluru yang lain mustahil diberi nama tapi bukan berarti tak ada maksudnya." (p. 291)

Esensi dari bunuh diri bukan kesedihan atau misteri, melainkan egoisme sederhana. (p. 291)

Rate: 3,5/5

Purwokerto, 27 Juni 2015. 23:16.

6 comments:

  1. Terlalu lama di rumah bisa membuat gila. Ahhh, aku setuju. Mendadak ingin membaca buku ini.

    ReplyDelete
  2. ihh jahat ya. anaknya ya orang tuanya wkwk
    ikut gemes baca reviewnya doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kalo jadi orangtua jangan gitu ya, Tri :')

      Delete